Latest Post

Account Assistant Account Officer Account Payable Account Receivable Accounting Accounting Case Study Accounting Certification Accounting Contest Accounting For Manager Accounting Manager Accounting Software Acquisition Admin Administrasi administrative assistant Administrator Advance accounting Aktiva Tetap Akuisisi Akun Akuntan Privat Akuntan Publik AKUNTAN. Akuntansi Akuntansi Biaya Akuntansi Dasar Akuntansi Management Akuntansi Manajemen Dan Biaya Akuntansi Pajak Akuntansi Perusahaan Dagang Akuntansi Perusahaan Jasa Akuntansi Syariah Akuntansi Translasi Akunting Analisis Transaksi Announcement Aplikasi Akuntansi archiving ARTICLES ARTIKEL Asumsi dasar Akuntansi Asuransi Aturan Pencatatan Akuntansi Audit Audit Kinerja Auditing Balance sheet Bank Basic Accounting Bea Cukai Bea Masuk Bidang Akuntansi Bukti Transaksi Buku Besar Calculator Capital Cara Pencatatan Akuntansi Career Cash Cash Flow Cat Certification Checker Checker Gudang COGS Collection Contest Corporate Social Responsibility (CSR) Cost Cost Analysis CPA CPA EXAM Credit Credit Policy Current Asset Custom Custom Clearence Dasar Akuntansi Data Debit Kredit Discount Diskon Distributor Dyeing Ekspor Engineering Etika Profesi & Tata Kelola Korporat Example Expense Export - Import FASB Finance FINANCIAL Financial Advisor Financial Control Finansial Foreign Exchange Rate Form FRAUD Free Download Freebies Fungsi Akuntansi GAAP GAJI Garansi Gift Goodwill Gudang Harga Pokok Penjualan Hotel HPP HRD IFRS Impor Import Import Duty Informasi Akuntansi International Accounting Investasi IT Jasa Jasa Konstruksi Job Vacant JUDUL SKRIPSI AKUNTANSI TERBARU Jurnal Khusus Jurnal Pembalik Jurnal Pembalik Dagang Jurnal Penutup Jurnal Penutup Dagang Jurnal Penyesuaian Jurnal Umum Kas Kas Bank Kas Kecil Kasus Akuntansi Kasus Legal Kasus Pajak Kepala Rekrutment Kertas Kerja Keuangan Knitting Komentar Komputer Konsolidasi Konstruksi Konsultan Laba-Rugi Laboratorium Lain-lain lainnya LANDING COST Laporan akuntansi Laporan Arus Kas Laporan Keuangan Laporan Keuangan Dagang Laporan Keuangan Jasa Laporan Laba Rugi Laporan Perubahan Modal laporan Rugi Laba Layanan Konsumen Lean Accounting Lean Concept Lean Manufacturing Legal Logistik Lowongan Kerja Accounting MA Accounting Macam Transaksi Dagang Management Management Accounting Manager Manajemen Manajemen Keuangan Manajemen Keuangan Manajemen Stratejik Manajer Manajer Administrasi Manfaat Akuntansi Manufaktur Marketing Matching Color Mekanisme Debit Mekanisme Kredit Mencatat Transaksi Merger metode fifo dan lifo Mid Level Miscellaneous Modal Neraca Neraca Lajur Neraca Saldo Neraca Saldo Setelah Penutupan Nerasa Saldo Office Operator Operator Produksi Paint PAJAK pajak pusat.pajak daerah(provinsi dan kabupaten) payroll Pelaporan Korporate Pemasaran Pembelian Pemberitahuan Pemindahbukuan Jurnal Pencatatan Perusahaan Dagang Pendapatan Pengakuan Pendapatan Pengarsipan Pengendalian Pengendalian Keuangan Pengertian Akuntansi PENGERTIAN LAPORAN KEUANGAN pengertian pajak PENGERTIAN PSAK PENGGELAPAN Pengguna Akuntansi Pengkodean Akun Penjualan Perbankan Perlakuan akuntansi Perpajakan Persamaan Dasar Akun Petty Cash Piutang Posting Buku Besar PPH PASAL 21 PPh Pasal 22 PPh Pasal 26 PPn PPn Import Prefesi Akuntansi Prinsip Akuntansi PRINSIP DASAR AKUNTANSI Produksi Profesi Akuntansi Professi Akuntan Profit-Lost Proses Akuntansi Proyek PSAK PSAK TERBARU PURCHASE Purchasing QA QC Quality Assurance Quality Control Quiz Rabat Rajut rangkuman Rebate Recruitment Recruitment Head Rekrutment Retail Retur Return Revenue Review Saldo Normal Sales Sales Representative Sejarah Akuntansi SERIE ARTIKEL Sertifikasi Shareholder Shipping Agent Shipping Charge siklus akuntansi Silus Akuntansi Dagang Sistem sistem akuntansi Sistem Informasi Sistem Informasi & Pengendalian Internal Soal dan Jawaban CPA SPI Spreadsheet Accounting Spreadsheet Gratis Staff Struktur Dasar Akuntansi Supervisor system pengendalian system pengendalian gaji Tax Taxation Teknik Tekstil Template Teori-teori Akuntansi Tinta Tip n Tricks TIPS AND TRICKS Tools Top Level Transaksi Keuangan Tutup Buku Ujian CPA UPAH update situs USAP Utilities Video Tutor Warehouse Warna warranty What Is New


Manajemen Berbasis Laba

Manajemen  laba  didefinisikan  sebagai  campur  tangan  yang  disengaja dalam  proses  pelaporan  keuangan  eksternal  dengan  maksud  memperoleh keuntungan  pribadi  (Schipper,  1989).  Sedangkan  menurut  Abdelghany  (2005), manajemen  laba  adalah  manipulasi  pendapatan  yang  dilakukan  untuk  memenuhi target yang telah ditetapkan oleh manajemen.

Manajemen  laba  biasanya  dilakukan  oleh  manajemen  untuk  menaikkan tingkat  laba  (income-increasing  earnings  management)  atau  menurunkan tingkat laba  (income-decreasing  earnings  management)  yang  ditampilkan  dalam  laporan keuangan  dengan  memilih  dan  menerapkan  metode  akuntansi  tertentu  (Watts  & Zimmerman,  1986).  Tujuan  manajemen  laba  adalah  meningkatkan  kesejahteraan suatu  pihak  tertentu  walaupun  sebenarnya  dalam  jangka  panjang  tidak  terdapat perbedaan  laba  kumulatif  perusahaan  dengan  laba  yang  diidentifikasi  sebagai keuntungan  (Fischer  &  Rosenzweig,  1995).  Tindakan  manajemen  laba  pada laporan  keuangan  oleh  manajemen  ini  biasanya  dilakukan  tanpa  sepengetahuan pemilik perusahaan atau pemegang saham.

Manajemen  laba  yang  sering  dilakukan  oleh  perusahaan  adalah (Abdelghany, 2005):
1.             Big  Bath,  berarti  biaya  diakui  menggunakan  satu  kali  biaya restrukturisasi.  Pilihan  ini  menyebabkan  perusahaan  memikul  biaya yang  besar  pada  kos  untuk  tahun  ini  tetapi  akan  menghasilkan  laba besar pada tahun depan.
2.             Penyalahgunaan  materialitas,  berarti  dengan  memanipulasi  laba melalui prinsip materialitas. Prinsip materialitas sangat luas, fleksibel, dan tidak ada rentang spesifik mengenai bagaimana material transaksi ini.
3.             Cookie  Jar  atau  cadangan  cookie  jar,  juga  dikenal  sebagai  cadangan rainy  day  atau  cadangan  kontinjensi,  berarti  dalam  periode  kondisi keuangan  yang  baik,  cadangan  kontinjensi  dapat  mengurangi  laba dengan mengakui cadangan lebih tinggi, mengakui biaya lebih tinggi, dan  satu  kali  penghapusan.  Pada  periode  kondisi  keuangan  yang buruk,  cadangan  kontinjensi  dapat  digunakan  untuk  meningkatkan laba dengan memutarbalikkan akrual dan cadangan untuk mengurangi biaya periode sekarang (Kokoszka, 2003).
4.             Round-tripping, back-to-back dan swap, round-tripping yaitu praktik menjual  aset  yang  tidak  terpakai  kepada  perusahaan  lain  dengan perjanjian  untuk  membeli  kembali  aset  yang  sama  atau  serupa  pada tingkat  harga  yang  sama.  Back-to-back  adalah  proses  yang  sama dengan  round-tripping  tetapi  dengan  keterlambatan  waktu  yang singkat.  Kedua  transaksi  tidak  dijadwalkan  untuk  terjadi  pada  waktu yang  persis  sama.  Swap  terjadi  ketika  dua  perusahaan  menjual  aset yang  hampir  identik  kepada  satu  sama  lainnya  untuk  mengakui pendapatan.

5.             Waktu  pemakaian  standar  akuntansi  wajib,  pemakaian  standar akuntansi  sebelum  waktunya  yang  meningkatkan  laba  dapat memberikan  kesan  bahwa  perusahaan  perlu  menemukan  pendapatan dari  manapun  yang  memungkinkan.  Pemakaian  yang  sebelum waktunya dapat menurunkan persepsi kualitas laba pada investor.
6.             Perubahan akuntansi sukarela, dilakukan dengan mengubah kebijakan akuntansi  yang  digunakan  oleh  perusahaan.  Karena  perusahaan  tidak dapat  membuat  tipe  perubahan  akuntansi  yang  sama  terlalu  sering, maka  perusahaan  mungkin  membuat  beberapa  tipe  perubahan akuntansi  yang  berbeda  secara  bersama-sama  atau  sendiri-sendiri selama beberapa periode.
7.             Akuntansi  konservatif,  dilakukan  dengan  memilih  metode  akuntansi yang menjaga nilai aset tercatat relatif rendah.
8.             Menggunakan  derivatif,  manajer  dapat  memanipulasi  laba  melalui lindung nilai pengadaan instrumen selama periode waktu khusus guna mengalihkan  laba  atau  rugi  yang  belum  direalisasi  dari  laporan  laba komprehensif ke laporan laba rugi.

Manajemen  laba  biasanya  diukur  dengan  akrual  diskresioner.  Jumlah akrual  diskresioner  positif  menunjukkan  menunjukkan  bahwa  perusahaan melaksanakan manipulasi laba dengan tumpuan penaikan laba. Sedangkan, jumlah negatif akrual  diskresioner  menunjukkan  menunjukkan  manipulasi  laba  dengan  pola penurunan laba (Murhadi, 2009).

Terdapat empat alasan mengapa laba dapat menunjukkan gambaran yang tidak tetap dalam mengukur penciptaan nilai, yaitu:

1. Angka-angka dalam laporan keuangan dapat terdistorsi dan dimanipulasi.
Dalam menyusun laporan keuangan, akuntan harus membuat judgement dan memilih basis atau metode akuntansi yang akan digunakan. Pemilihan metode akuntansi yang berbeda akan menghasilkan angka laba yang berbeda-beda. Akuntan sering memilih metode akuntansi yang dapat meningkatkan laba yang diperoleh perusahaan tanpa adanya dampak ekonomi kepada perusahaan dari peningkatan laba tersebut.

2. Pelaksanaan investasi sebuah proyek jangka panjang tidak memasukkan semua unsur yang menjadi pertimbangan dalam memutuskan sebuah investasi layak dijalankan atau tidak.
Misalnya perusahaan memiliki 2 proyek yaitu A dan B yang menunjukkan laba bersih yang sama selama 3 tahun pelaksanaan proyek. Sepintas kedua proyek tersebut menunjukkan laba yang sama sehingga proyek A atau B yang dijalankan kesannya sama untuk perusahaan. Proyek A membutuhkan pengeluaran awal yang lebih rendah dibandingkan dengan B sehingga perusahaan harusnya memilih proyek A dibandingkan dengan B.

3. Nilai waktu dari uang (time value) tidak dimasukkan dalam perhitungan investasi.
Terdapat kemungkinan bahwa pertumbuhan dalam laba justru akan menurunkan nilai perusahaan apabila tingkat pengembalian yang diperoleh dari melaksanakan sebuah proyek lebih kecil dari tingkat pengembalian yang dipersyaratkan untuk proyek tersebut. Kondisi ini akan membuat harga saham perusahaan turun sehingga menurunkan kekayaan pemegang saham.

4. Risiko tidak dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan keuangan
a. Terlalu terfokus kepada pertumbuhan laba membuat administrasi perusahaan gagal dalam mempertimbangkan risiko. Kenaikan laba akan meningkatkan risiko yang menimbulkan kenaikan pada tingkat diskonto.
b. Berikut ini yaitu tabel yang menyajikan dua seni administrasi yaitu S dan T


Starategi S
Strategi T

Laba
Probabilita
Laba
Probabilita

-100.000
0,10
80.000
0,10

0
0,20
90.000
0,15

100.000
0,40
100.000
0,50

200.000
0,20
110.000
0,15

300.000
0,10
120.000
0,10
Hasil yang diharapkan
100.000

100.000




Investor akan lebih menyukai seni administrasi T alasannya yaitu meskipun memiliki hasil yang sama dengan seni administrasi S tetapi risikonya lebih kecil dari S alasannya yaitu labanya terdistribusi secara merata di setiap angka probabilita. Meskipun kedua seni administrasi menghasilkan laba yang sama tetapi risikonya berbeda.

Senang saya mampu posting lagi :-)

Dan ibarat akad saya sebelumnya, saya akan lanjutkan pembahasan mengenai ANALISA PENGADAAN AKTIVA TETAP. Yang sudah menunggu, sorry sudah membuat menunggu. Mudah-mudahan penantian anda tidak sia-sia :-)

Oh iya, mungkin ada yang bertanya; “mengapa disebut pengadaan ? kenapa tidak disebut pembelian saja ?”. :-)

No ! :-), kalau disebut pembelian, berarti pribadi beli. Aktiva tidak selalu harus dibeli, anda mampu menyewanya (leasing) atau mampu juga dengan menukarkan aktiva anda yang sudah tidak produktif lagi (mungkin karena sudah tidak memproduksi barang yang sama lagi). Makanya tidak disebut pembelian aktiva tetap. Akan tetapi untuk ketika ini kita batasi dengan membeli saja :-) Ok ?, siip!.

Tapi sebelum masuk ke pembahasan, bagi yang belum membaca artikel : Prosedur & Analisa Pengadaan Aktiva Tetap [-baca-], saya sarankan untuk membacanya terlebih dahulu, akan membantu untuk lebih mudah memahami pembahasan yang berikutnya.

Sebelum melaksanakan pengadaan/pembelian aktiva tetap, ada beberapa analisa dan perhitungan yang penting untuk dilakukan.


Analisa Ketersediaan dan Alokasi Kas Untuk Pengadaan Aktiva Tetap

Pembelian Aktiva Tetap melibatkan dana yang relative besar, salah mengalokasikan dana, bisa-bisa produksi malah tersendat atau bahkan tidak jalan, dana yang seharusnya anda perioritaskan untuk berproduksi tapi di alokasikan untuk menambah mesin. Makara harus di analisa terlebih dahulu. Identifikasi kapan ketika yang sempurna untuk menambah aktiva tetap.


Contoh Kasus :

Pada tanggal 01 November 2007, Sebuah perusahaan manufaktur bermaksud meningkatkan kapasitas produksinya dengan cara menambah mesin. Saldo Kas pada tanggal 01 November 2007 yaitu sebesar Rp 450,000,000. Perusahaan sedang menyelesaikan produksi atas pesanan yang diterima pada tanggal 01 Sept 2007, lamanya waktu berproduksi (production lead time) yaitu 3 bulan, diperkirakan akan selesai dan siap dikirim pada tanggal 01 Desember 2007, termin pembayarannya net 30 hari. Profit margin di set 30%. Dari Laporan Peramalaan Penjualan (Sales Forecast) nampak sales akan meningkat 15%. Produksi akan dikerjakan mulai 01 Desember 2007, dengan production lead time 3 bulan, termin pembayaran net 30 hari. Tambahan Informasi : Dari Laporan Laba Rugi berjalan nampak : Harga Pokok Penjualan (Cost Of Good Sold) 01 Sept – 31 Okt 2007 yaitu Rp 110,000,000,- Sedangkan biaya operasional (Expenses) yaitu Rp 87,000,000,-

Kapan ketika yang sempurna untuk melaksanakan pembelian mesin untuk meningkatkan kapasitas produksi ? dan berapa besarnya dana yang mampu dialokasikan untuk pembelian mesin tersebut?.

Perhatikan screen shoot berikut :
 saya akan lanjutkan pembahasan mengenai ANALISA PENGADAAN AKTIVA TETAP ANALISA PENGADAAN AKTIVA TETAP
Format analisa terdiri dari 3 kolom yaitu :
Description : memuat elemen-elemen Kas dan Cost untuk periode tertentu.
Cost & Revenue Analysis : berisi perhitungan-perhitungan cost, profit & sales
Cash Analysis : Berisi mutasi kas sejalan dengan proses alur perubahan dari produksi hingga menjadi sales/AP hingga menjadi kas.

Jika kita perhatikan pada kolom “ Cost & Revenue Analysis” dan “ Cash Analysis” dapat kita lihat bahwa setiap acara cost akan menimbulkan mutasi kas keluar (warna merah bertanda minus) sedangkan “sales” akan memicu adanya mutasi kas masuk, hanya saja tidak seketika, akan tetapi gres sebulan kemudian, hal ini disebabkan oleh termin pembayaran yang net 30 hari.

Besarnya kas keluar yaitu sebesar biaya produksi (COGS) ditambah dengan beban operasional (Expenses), sedangkan besarnya kas masuk (incoming cash) yaitu sebesar sales. Setiap kas keluar atau masuk sengaja saya ikuti dengan saldo (cash balance, diberi warna biru), hal ini dimaksudkan supaya adapat dilihat dengan saldo kas pada ketika (tanggal tertentu), dengan impian nantinya kita mampu menentukan ketika yang sempurna untuk melaksanakan pembelian aktiva tetap.

Pada SALES FORECAST, perlu diperhitungkan kemungkinan adanya pembengkakan cost maupun expense dengan memasukkan cadangan (reserve) sebesar 10%, masing-masing perusahaan menentukan berbeda untuk reservenya, logikanya diubahsuaikan dengan tingakat pengendalian perusahaan (efisiensi & kinerja/produktifitas).

Jika dirangkum, mutasi kas akan menjadi ibarat dibawah :
 saya akan lanjutkan pembahasan mengenai ANALISA PENGADAAN AKTIVA TETAP ANALISA PENGADAAN AKTIVA TETAP
Kapan ketika yang sempurna untuk melaksanakan pembelian dan berapa yang mampu dialokasikan ?.

Pembelian mesin dimaksudkan untuk mengantisipasi peningkatan sales sebesar 15%
Perhatikan episode : “SALES FORECAST (01-Des-07 01-Mar-08)
Produksi akan dimulai pada tanggal 01 Desember 2007, maka mesin gres hendaknya sudah terpasang, artinya mesin sudah harus dibeli jauh-jauh hari sebelum tanggal 01 Desember 2007.

Apakah saldo kas mencukupi ? berapa besarnya dana yang mampu dialokasikan untuk membeli mesin ?.

Saldo Kas (cash balance) yang semula Rp 450,000,000, pada tanggal 01 Desember 2007 sudah berkembang menjadi Rp 347,000,000. Hal ini disebabkan oleh adanya aktifitas produksi dari tanggal 01 Nov s/d 31 Desember 2007 yang memicu kas keluar sebasr Rp 103,000,000,-

Apakah Saldo Kas yang sebesar Rp 347,000,000 sudah mampu dialokasikan untuk membeli mesin semuanya?. jawabannya tidak.

Kas gres akan masuk lagi pada tanggal 01 Januari 2008, Saldo tersebut masih harus dicadangkan untuk membiayai produksi dari tanggal 01 s/d. 31 Desember 2007 sebesar Rp 114,375,000,- . Sisanya yang Rp 232,625,000 mampu dialokasikan untuk membeli mesin.


Analisa Perbandingan Cost & Benefit Pengadaan Aktiva Tetap

Selain ketersediaan dan alokasi kas, untung ruginya pun harus dikalkulasi terlebih dahulu. Jangan hingga volume prouksi meningkat karena penambahan mesin, akan tetapi di selesai penutupan buku, laba perusahaan tidak ikut meningkat. Sia-sia bukan ?.

Dengan menggunakan pola kasus yang sama (perusahaan memutuskan untuk mengalokasikan dananya hanya sebesar Rp 200,000,000), kita perhatikan analisa berikutnya :
 saya akan lanjutkan pembahasan mengenai ANALISA PENGADAAN AKTIVA TETAP ANALISA PENGADAAN AKTIVA TETAP
Cost yang ditimbulkan pribadi oleh penambahan mesin yaitu depreciation cost (penyusutan) yang nantinya akan masuk ke dalam COGS, yaitu pada Overhead Cost, dan akan ikut mengurangi laba secara langsung. Pada kasus di atas, akhir pembelian mesin Sebesar Rp 200,000,000 menimbulkan deprecition cost sebesar Rp 6,250,000,- per satu kwartal (01 Des 07 01 Maret 08), sehingga profit yang tadinya sebesar Rp 103,612,500, pada kwartal yang sama berubah mejadi Rp 97,362,500,- saja. Jika dibandingkan dengan produksi pada kwartal sebelumnya ( 01 Sept 31 Des 07) dimana perusahaan hanya memperoleh profit sebesar Rp 90,000,000,-, maka nampaklah profit perusahaan meningkat sebesar Rp 7,362,500, sehingga profit menjadi Rp 97,362,500,-
Dengan demikian rencana pembelian mesin tidak diragukan lagi. Bisa dilaksanakan.


Membeli Tunai atau dengan Mencicil ?

Pada pola kasus di atas, kebetulan kas perusahaan mencukupi untuk melaksanakan pembelian. Bagaimana kalau kas tidak mencukupi sementara mesin sudah harus di beli ?.

Coba kita bandingkan, bagimana kalau perusahaan membelinya dengan mencicil. Anggap saja perusahan membeli masinnya dengan cara mencicil, tentu saja dikenakan bunga. Suku bunga pada ketika itu yaitu 20% flat per tahun, dan perusahaan akan mencicilnya selama 5 tahun.

Perhatikan perbandingan berikut :
 saya akan lanjutkan pembahasan mengenai ANALISA PENGADAAN AKTIVA TETAP ANALISA PENGADAAN AKTIVA TETAP

Bunga akhir pencicilan aktiva harus dikapitalisasi terlebih dahulu, artinya : bunga yang sebesar Rp 10,000,000 selama satu kwartal (01 Des 07 01 Maret 08) ditambahkan pada harga perolehan mesin, sehingga menjadi Rp 210,000,000,- dan depreciation cost (penyusutan) berkembang menjadi Rp 6,562,500,- . Dibandingkan kalau membeli tunai terang cost menjadi naik sebesar Rp 312,500,- Keputusan apakah akan membeli tunai atau mencicil, tergantung apakah penurunan profit sebesar Rp 312,500,- sebanding dengan mencadangkan Kas untuk acara usaha lainnya ?.


Analisa perbandingan antara satu type mesin dengan type mesin lain, juga dengan source (supplier) yang berbeda-beda.

Cukup kas pun terkadang tidak cukup membuat kita tenang, kita masih harus memilih memakai type mesin apa?, membeli dimana ? bagaimana dengan garansinya, bagaimana dengan sparepartnya?. Melihat harga mesin saja tidak lah cukup memadai, harus dianalisa lebih detail lagi :-)

Contoh Kasus :

Pada ketika akan melaksanakan pembelian masin, anda memperoleh 3 quotation dari 3 supplier ( Type X ditawarkan oleh PT. SUN, Type Y diatarkan oleh PT. SIN, dan type Z ditawarkan oleh PT. SAN) pada dasarnya fungsi mesin sama, hanya saja ada beberapa faktor lainnya yang berbeda. Perhatikan pola dibawah :
 saya akan lanjutkan pembahasan mengenai ANALISA PENGADAAN AKTIVA TETAP ANALISA PENGADAAN AKTIVA TETAP
Melihat data diatas, dengan mudah kita mampu melihat bahwa yang paling competitive yaitu mesin Type Y dari PT. SIN. Setelah dianalisis lebih detail, apakah benar type mesin Y dari PT SIN yaitu pilihan sempurna ?.

Kita perhatikan analisa dibawah ini :
 saya akan lanjutkan pembahasan mengenai ANALISA PENGADAAN AKTIVA TETAP ANALISA PENGADAAN AKTIVA TETAP
Pertama kita kapitalisasi ongkos angkut menjadi harga perolehan mesin, lalu kita susutkan menggunakan metode Unit Production Output Method, dengan cara membagi Harga perolehan dengan Kapasitas mesin, Maka kita akan memperoleh Depreciation Cost. Ingat : Cost utama yang timbul akhir penggunaan aktiva tetap yaitu depreciation cost.

Lalu kita tambahkan parameter analisa dengan memperhitungkan maintenance cost, yang kita masukkan ke dalam maintenance analysis yaitu sparepart-sparepart utama saja, (yang harganya material), pada pola diatas ada 3 sparepart utama, lalu masing2 kita susutkan, jangan lupa garansi harus kita masukkan terlebih dahulu, gres kita susutkan. Target kita yaitu memperoleh perbandingan cost per unit production output. Perhatikan pada baris terakhir “ COST PER UNIT”, sekarang manakah yang paling layak untuk dibeli ? mesin type Z dari PT San !.

Selamat mencoba. Goodluck !.


Perhitungan Penciptaan Nilai


Tujuan utama dalam sebuah perusahaan ialah menciptakan uang dan keuntungan pada masa sekarang dan dalam jangka waktu yang panjang. Apabila sebuah perusahaan tidak bisa untuk menghasilkan economic profit maka keberadaannya akan dipertanyakan. Perusahaan dengan keuntungan yang kecil tidak akan menarik bagi para investor yang mencari keuntungan yang besar. Oleh alasannya ialah itu pihak administrasi yang mengutamakan kepuasan pihak investor seharusnya melaksanakan administrasi biaya dan penciptaan nilai pada tingkatan profitabilitas tertentu. Hal ini menimbulkan adanya suatu kebutuhan untuk melaksanakan perbaikan dan penciptaan nilai.

Perkembangan dalam dunia ekonomi telah menciptakan cara gres dalam mengukur kinerja dari sebuah perusahaan. Salah satu cara yang kini sering dibicarakan ialah Economic Value Added (EVA) yang dipopulerkan oleh G. Bannet Steward dan Stern Steward (1989). Metode ini ialah penilaian kinerja suatu perusahaan dengan mempertimbangkan ekspektasi dari shareholder. Metode ini memiliki fokus pada biaya modal dan penciptaan nilai bagi shareholder. EVA membandingkan laba yang diperoleh perusahaan dengan tingkat investasi yang ditanamkan. Nilai nyata EVA menyampaikan bahwa perusahaan telah menciptakan nilai lebih bagi para shareholder. Sebaliknya nilai yang negatif mengindikasikan bahwa tidak dapat dipenuhi cita-cita shareholder oleh pihak perusahaan.

Konsep dasar dari EVA yaitu mengenai pentingnya perhitungan biaya modal atau capital cost dalam suatu perusahaan dapat dihubungkan dengan konsep biaya. Pada dasarnya ialah bahwa dengan perhitungan adanya biaya modal maka dapat dilakukan perhitungan nilai yang diciptakan. Konsep ini dapat menjadi sebuah alternatif administrasi biaya yang dapat sekaligus memperhitungkan penciptaan nilai pada tingkatan profitabilitas tertentu.

Secara umum, Pengendalian Intern merupakan adegan dari masing-masing sistem yang dipergunakan sebagai prosedur dan aliran pelaksanaan operasional perusahaan atau organisasi tertentu.

masing sistem yang dipergunakan sebagai  SISTEM PENGENDALIAN INTERN (SPI) - BasicSedangkan Sistem Pengendalian Intern merupakan kumpulan dari pengendalian intern yang terintegrasi, berafiliasi dan saling mendukung satu dengan yang lainnya.
Di lingkungan perusahaan, pengendalian intern didifinisikan sebagai suatu proses yang diberlakukan oleh pimpinan (dewan direksi) dan management secara keseluruhan, dirancang untuk memberi suatu keyakinan akan tercapainya tujuan perusahaan yang secara umum dibagi kedalam tiga kategori, yaitu :


a) Ke-efektif-an dan efisiensi operasional perusahaan
b) Pelaporan Keuangan yang handal
c) Kepatuhan terhadap prosedur dan peraturan yang diberlakukan

Suatu pengendalian intern bisa dikatakan efektif apabila ketiga kategori tujuan perusahaan tersebut dapat dicapai, yaitu dengan kondisi :

a) Direksi dan administrasi mendapat pemahan akan arah pencapain tujuan perusahaan, dengan, meliputi pencapaian tujuan atau target perusahaan, termasuk juga kinerja, tingkat profitabilitas, dan keamanan sumberdaya (asset) perusahaan.

b) Laporan Kuangan yang dipublikasikan ialah handal dan dapat dipercaya, yang meliputi laporan segmen maupun interim.

c) Prosedur dan peraturan yang telah ditetapkan oleh perusahaan sudah taati dan dipatuhi dengan semestinya.


Struktur Pengendalian Intern

Sruktur pengendalian intern terdiri dari 5 (lima) komponen, yaitu :

(1). Lingkungan Pengendalian
Merupakan dasar dari komponen pengendalian yang lain yang secara umum dapat menunjukkan contoh disiplin. Meliputi : Integritas, Nilai Etika, Kompetensi personil perusahaan, Falsafah Manajemen dan gaya operasional, cara manajmene di dalam mendelegasikan peran dan tanggung jawab, mengatur dan membuatkan personil, serta, instruksi yang diberikan oleh dewan direksi.

(2). Penilaian Resiko
Identifikasi dan analisa atas resiko yang relevan terhadap pencapaian tujuan yaitu mengenai penentuan “bagaimana resiko dinilai untuk kemudian dikelola”. Komponen ini hendaknya mengidentifikasi resiko baik internal maupun eksternal untuk kemudian dinilai. Sebelum melaksanakan penilain resiko, tujuan atau target hendaknya ditentukan terlebih dahulu dan dikaitkan sesuai dengan level-levelnya.

(3). Aktivitas Pengendalian
Kebijakan dan prosedur yang dapat membantu mengarahkan administrasi hendaknya dilaksanakan. Aktivitas pengendalian hendaknya dilaksanakan dengan menembus semua level dan semua fungsi yang ada di perusahaan. Meliputi : aktifitas-aktifitas persetujuan, kewenangan, verifikasi, rekonsiliasi, inspeksi atas kinerja operasional, keamanan sumberdaya (aset), pemisahan peran dan tanggung jawab.

(4). Informasi dan Komunikasi
Menampung kebutuhan perusahaan di dalam mengidentifikasi, mengambil, dan mengkomukasikan informasi-informasi kepada pihak yang sempurna semoga mereka bisa melaksanakan tanggung jawab mereka. Di dalam perusahaan (organisasi), Sistem gosip merupakan kunci dari komponen pengendalian ini. Informasi internal maupun kejadian eksternal, aktifitas, dan kondisi maupun prasyarat hendaknya dikomunikasikan semoga administrasi memperoleh gosip mengenai keputusan-keputusan bisnis yang harus diambil, dan untuk tujuan pelaporan eksternal.

(5). Pengawasan
Pengendalian intern seharusnya diawasi oleh administrasi dan personil di dalam perusahaan. Ini merupakan kerangka kerja yang diasosiasikan dengan fungsi internal audit di dalam perusahaan (organisasi), juga dipandang sebagai pengawasan menyerupai aktifitas umum administrasi dan acara supervise. Adalah penting bahwa defisiensi pengendalian intern hendaknya dilaporkan ke atas. Dan pemborosan yang serius seharusnya dilaporkan kepada administrasi puncak dan dewan direksi.


masing sistem yang dipergunakan sebagai  SISTEM PENGENDALIAN INTERN (SPI) - BasicKelima komponen ini terkait satu dengan yang lainnya, sehingga dapat menunjukkan kinerja sistem yang terintegrasi yang dapat merespon perubahan kondisi secara dinamis. Sistem Pengendalian Internal terjalin dengan aktifitas opersional perusahaan, dana akan lebih efektif apabila pengendalian dibangun ke dalam infrastruktur perusahaan, untuk kemudian menjadi adegan yang paling esensial dari perusahaan (organisasi).


Istilah-istilah penting dalam Pengendalian Intern

Kondisi Terlaporkan (Reportable Condition)
Istilah lainnya ialah Defisiensi Signifikan, kedua istilah ini dipergunakan dalam mendefinisikan suatu kondisi yang defisiensi secara signifikan di dalam rancangan atau operasional atas pengendalian intern yang menghipnotis kemampuan perusahaan dalam melaksanakan pencatatan, proses, mengkompilasi dan melaporkan data keuangan yang konsisten dengan asersi administrasi di dalam laporan keuangan perusahaan. Defisiensi signifikan yang luas dapat menimbulkan Kelemahan Material (Material Weakness).

Kelemahan Material (Material Weakness)
Didefinisikan sebagai kondisi yang terlaporkan dimana rancangan atau opersional dari salah satu atau lebih pengendalian intern-nya tidak bisa mengurangi atau menurunkan suatu resiko ringan atau salah penyajian yang disebabkan oleh kesalahan atau penggelapan yang jumlahnya relatif material kaitannya dengan laporan keuangan yang kalau di audit akan dapat ditemukan, akan tetapi tidak terdeteksi dalam periode yang sama oleh pegawai dalam pelaksanaan pekerjaan secara normal.

Kompensasi Pengendalian (Compensating Control)
Ada beberapa perusahaan yang karena skala usahanya memang termasuk kecil, menimbulkan perusahaan tidak memungkinkan untuk melaksanakan pengendalian intern yang sederhana sekalipun (misalnya : pemisihan peran atau fungsi). Adalah penting bagi administrasi untuk melaksanakan kompensasi terhadap adegan yang pengendaliannnya lemah atau tidak dapat berjalan untuk suatu kurun waktu tertentu. Dalam hal internal administrasi telah melaksanakan kompensasi untuk menutupi kelemahan pengendalian tersebut, internal auditor seharusnya tidak melaporkan kelemahan tersebut sebagai material weakness, bahkan reportable condition sekalipun, hendaknya diadaptasi dengan sekala perusahaan.


Keterbatasan Sistem Pengendalian Intern

masing sistem yang dipergunakan sebagai  SISTEM PENGENDALIAN INTERN (SPI) - BasicPenting untuk dipahami bahwa : Sistem Pengendalian Intern yang efektif TIDAK MEMBERIKAN JAMINAN ABSOLUT akan tercapainya tujuan perusahaan. Secara sederhananya dapat dikatakan bahwa SITEM PENGENDALIAN YANG HANDAL TIDAK BISA MENGUBAH MANAJER YANG BURUK MENJADI BAGUS. Akan tetapi Sistem Pengendalian Intern yang handal dan efektif dapat menunjukkan gosip yang sempurna bagi manajer maupun dewan direksi yang bagus untuk mengambil keputusan maupun kebijakan yang sempurna untuk pencapaian tujuan perusahaan yang lebih efektif pula.


SISTEM PENGENDALIAN INTERN YANG EFEKTIF BUKAN MERUPAKAN JAMINAN AKAN KESUKSESAN BAHKAN KELANGSUNGAN HIDUP PERUSAHAAN SEKALIPUN.

SISTEM PENGENDALIAN INTERN BERFUNGSI SEBAGAI PENGATUR SUMBERDAYA YANG TELAH ADA UNTUK DAPAT DIFUNGSIKAN SECARA MAKSIMAL GUNA MEMPEROLEH PENGEMBALIAN (GAINS) YANG MAKSIMAL PULA dengan pendekatan perancangan yang menggunakan ASAS COST-BENEFIT.

Suatu sistem handal macam apapun selalu memiliki celah kelemahan. SISTEM PENGENDALIAN INTERN pun bisa dimanfaatkan oleh personil tertentu untuk kepentingan pribadinya dengan mengeksploitasi kelemahannya.


Pihak-pihak Yang Bertanggungjawab Terhadap Sistem Pengendalian Intern

Semua pihak di dalam perusahaan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan sistem pengendalian intern. Namun demikian, secara struktural pihak-pihak yang bertanggung jawab dan terlibat eksklusif dalam perancangan dan pengawasan Sistem Pengendalian Intern meliputi :

Chief Executive Officer (CEO)
Chief Financial Officer (CFO)
Controller / Director Of Accounting & Financial
Internal Audit Comitee


Catatan :

Jika tidak ada hambatan, saya akan membuat satu contoh MODEL RANCANGAN SISTEM PENGENDALIAN INTERN yang mudah-mudahan bisa dijadikan contoh dalam penyusunan Sistem Pengendalian Intern maupun perancangan alat ujinya. Tetapi ini butuh waktu, mungkin sedikit agak lama.
In the meantime, saya akan tetap memposting artikel-artikel maupun tips-tips AKUNTANSI, KEUANGAN dan PERPAJAKAN yang mudah-mudahan akan tetap LEBIH ADVANCE, sekaligus APLIKATIF.

Di Indonesia, FINANCIAL CONTROL lebih dikenal dengan SISTEM PENGENDALIAN INTERN, yang mana merupakan administrasi baku yang diterapkan di dalam proses keuangan (financial process). Adapun Financial Control ini dimaksudkan untuk memastikan keakuratan (accuracy), kesesuaian waktu dan kelengkapan data serta penerapan kebijakan dan peraturan perusahaan.

Financial Control juga sanggup mencegah atau bahkan menangkap terjadinya kesalahan atau ketidakwajaran transaksi ( Errornous and inappropriate transaction ).
Standar ini melibatkan semua pihak yang ada didalam dalam hal penerapan prosedur, kontrol terhadap sistem informasi.

Tujuan selesai (Goal) dari penerapan Financial Control yang tangguh ialah untuk mendorong dan mempromosikan untuk pencapaian tujuan dengan cara :
1. Menyediakan data yang sanggup dihandalkan
2. Melindungi asset dan catatan perusahaan
3. Mengukur tingkat efisiensi operasional perusahaan
4. Mendorong para pihak untuk taat kepada peraturan dan kebijakan perusahaan.

Pihak-Pihak Yang Terkait dan Peranannya

Manajemen Puncak ( Top Management ) : bertanggungjawab merancang, menyebarkan dan mempertahankan sistem pengendalian yang layak dan sistem pengendalian biaya yang efektif ( effective cost control ). Yang bertanggung jawab di tingkat ini ialah seorang FINANCIAL CONTROLLER.

Manajemen Devisi, Bagian, dan Unit : bertanggungjawab untuk melakukan sistem pengendalian dengan cara yang paling efektif sesuai dengan opersional yang ada di divisi/bagian/unitnya.

Internal Auditor : bertanggungjawab sebagai pemeriksa independen ( Independent Checker ) di dalam perusahaan. Internal Auditor melakukan tugasnya dengan cara menilai, dan melaporkan tingkat keakuratan catatan keuangan, dan juga terkait dengan kepatuhan terhadapat sistem dan kebijakan per divisi, bab dan unit. Internal Auditor juga menawarkan saran atau rekomendasi kepada pihak administrasi puncak mengenai tingkat keefektifan opersional perusahaan.

Istilah kes (biasa ditulis "cash")itu sudah sangat sering kita dengar, yang artinya tunai atau dibayar eksklusif dengan uang. Lawan kata kes ("cash") itu yaitu kredit (dibayar kemudian, baik dengan mencicil atau dengan sekaligus).

Berikut yaitu percakapan antara calon pembeli dengan sales counter di sebuah showroom kendaraan beroda empat : "boss mau kredit atau kes (Cash)?" tanya seorang gadis penjaga showroom. Dengan singkat calon pembeli menjawab dengan pertanyaan juga, "Cash-nya berapa ?". Penjaga showroom dengan sigap menjawab "Cash-nya 150 juta on the road, tapi saya sarankan sih mendingan credit aja boss, dapet subisidi lho, mana dapet suvenir glamor pula". (Entah mengapa pedagang, salesman/girl sering memanggil pelanggannya dengan sebutan boss. Bagi anda yang biasa menggunakan sebutan ini untuk pelanggan anda mungkin dapat kasi saya alasan kenapa :P).

Begitulah kata kes ("cash") dan kredit ("credit") yang lumrah dipakai oleh masyarakat umum.

Di Accounting, Kas (cash) itu yaitu sebutan untuk rekening (account) yang paling lancar (the most liquid asset) di dalam kelompok aktiva (asset).

Dalam penerapan pembukuan (bookkeepping), kas itu sendiri dipecah lagi menjadi beberapa account, dengan banyak sekali variasi :
Ada yang membaginya menjadi Kas Kecil (Petty Cash) dan Kas Umum (General Cash)
Ada yang membaginya menjadi Kas Kecil (Petty Cash) dan Kas Bank (Checking account)
Ada yang membaginya menjadi Kas Kecil (Petty cash), Bank A, Bank B (A dan B yaitu nama bank).

Pemecahan cash account ini dimaksudkan untuk memudahkan pengawasan dan pemeriksaan, sehubungan dengan pendistribusian kas itu sendiri. Biasanya pemecahan rekening kas ini terjadi hingga pada tingkatan buku besar (General Ledger) saja, sedangkan di Neraca (balance sheet) biasanya dijadikan satu saja yaitu Kas (Cash). Hal ini dilakukan semoga laporan menjadi sederhana dan gampang dipahami oleh pengguna umum yang tidak terbiasa dengan accounting.

Istilah Cash term dan credit term juga dikenal di accounting.

Lalu, apa korelasi antara Cash (account) dengan "kes" (Cash=tunai) ?. Tentu saja sangat dekat hubungannya :
Cash payment yaitu pembayaran yang bersumber dari kas (Cash Account), yang artinya atas transaksi pembayaran yang berbasis Cash Payment akan mempengaruhi Rekening Kas (Cash Account).

Masuk Akal ?.


Pengukuran Nilai Dengan Menggunakan Arus Kas.

Pengukuran Nilai
Pengukuran  nilai  perlu  dilakukan oleh manajer untuk memaksimalkan nilai perusahaan.  Hal  ini  dilakukan  agar terciptanya  kesejahteraan  bagi  para stockholder  dan  stakeholders  (pekerja, pemerintah,  konsumen,  suplier  dan masyarakat umum) (Velez & Dean, 2001 : 5).

Arus Kas
Laporan arus kas merupakan yang menyajikan info wacana jumlah arus kas masuk dan arus kas keluar atau sumber dan pemakaian kas dalam suatu perusahaan. Laporan arus kas harus melaporkan arus kas selama periode tertentu dan diklasifikasikan menurut acara operasi, invests, dan pendanaan (PSAK No.2, revisi 2009, paragraf 10).

Tujuan pelaporan arus kas ialah meberikan info mengenai sumber, penggunaan, perubahan kas dan setara kas selama suatu periode akuntansi dan saldo kas dan setara kas pada tanggal pelaporan. Informasi ini disajikan untuk pertanggungjawaban dan pengambilan keputusan (SAP,lampiran V,paragraph 2).
Laporan arus kas dapat dijadikan sebagai sumber info bagi para penggunanya dalam membuat suatu keputusan ekonomi. Seperti yang dinyatakan DSAK-IAI, paragraph 21 bahwa Informasi arus kas suatu entitas berkhasiat bagi para pengguna laporan keuangan sebagai dasar untuk menilai kemampuan entitas dalam menghasilkan kas dan setara kas serta menilai kebutuhan entitas untuk menggunakan arus kas tersebut. Dalam proses pengambilan keputusan ekonomi, para pengguna perlu melaksanakan evaluasi terhadap kemampuan entitas dalam menghasilkan kas dan setara kas serta kepastian perolehannya.
Jadi, info wacana arus kas dapat dimanfaatkan sebagai :
1.             Informasi arus kas berkhasiat sebagai indikator jumlah arus kas di masa yang akan datang, serta berkhasiat untuk menilai kecermatan atas taksiran arus kas yang telah dibuat sebelumnya.
2.             Laporan arus kas juga menjadi alat pertanggungjawaban arus kas masuk dan arus kas keluar selama periode pelaporan.
3.             Apabila dikaitkan dengan laporan keuangan lainnya, laporan arus kas menawarkan info yang bermanfaat bagi pengguna laporan dalam mengevaluasi perubahan kekayaan bersih/ekuitas dana suatu entitas pelaporan dan struktur keuangan pemerintah (termasuk likuiditas dan solvabilitas).

Laporan arus kas mengklasifikasikan penerimaan kas (cash receipts) dan pengeluaran kas (cash disbursements) berdasarkan aktivitas-aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan. Klasifikasi menurut acara ini akan menawarkan info yang memungkinkan para pengguna laporan keuangan untuk menilai pengaruh acara tersebut terhadap posisi keuangan perusahaan serta terhadap jumlah kas dan setara kas. Baik arus masuk (inflows) maupun arus keluar (outflows ) kas yang dimasukkan dalam setiap kategori acara tersebut (Henry Simamora, 2000).

Dalam PSAK No.2, paragraf 49 (1995:2,4), dinyatakan bahwa Laporan arus kas harus melaporkan arus kas selama periode tertentu dan diklasifikasikan menurut aktifitas operasi, investasi, dan pendanaan. Karakteristik transaksi dan kejadian lain dari setiap jenis aktifitas-aktifitas dapat dijelaskan sebagai berikut :
1.             Aktifitas Operasi
Dalam PSAK No.2 dijelaskan bahwa arus kas dari kegiatan operasi merupakan arus kas yang berasal dari aktifitas penghasil utama pendapatan perusahaan. Kegiatan ini melibatkan pengaruh kas dari transaksi yang masuk ke dalam penentuan laba bersih dalam laporan laba rugi.

Adapun arus kas yang masuk dan keluar dari kegiatan operasi mencakup antara lain :
a.              Arus kas yang masuk dari penjualan barang dan jasa, pendapatan dividen, pendapatan bunga, dan penerimaan operasi lainnya.
b.             Arus kas yang keluar untuk pembayaran kepada pemasok barang dan jasa, pembayaran kepada karyawan, bunga yang dibayarkan atas hutang perusahaan, pembayaran pajak, dan pengeluaran operasi lainnya.

2.             Aktivitas Investasi
Menurut PSAK No. 2, arus kas dari aktifitas investasi mencerminkan penerimaan dan pengeluaran kas sehubungan dengan sumber daya yang diperoleh perusahaan yang ditujukan untuk menghasilkan pendapatan dan arus kas masa depan.
Adapun arus kas masuk dan keluar dari kegiatan ini antara lain meliputi :
a.              Arus kas masuk berasal dari penjualan aktiva tetap, aktiva tidak berwujud dan aktiva jangka panjang, penjualan saham atau instrument keuangan perusahaan lain dan penagihan uang pokok pinjaman yang diberikan perusahaan.
b.             Arus kas keluar untuk pembelian aktiva tetap, aktiva tak berwujud dan aktiva jangka panjang lain, termasuk pengembangan yang dikapitalisasikan, perolehan saham atau instrument keuangan perusahaan lain, pertolongan pinjaman pada pihak lain.

3.             Aktivitas Pendanaan
Arus kas yang berasal dari aktifitas ini merupakan arus kas yang menimbulkan perubahan dalam struktur modal atau pinjaman perusahaan. Arus kas merupakan kegiatan menerima dana untuk kepentingan perusahaan. Arus kas keluar ialah pembayaran kepada pemilik dan kreditor.
Arus kas masuk dan keluar dari kegiatan ini meliputi, antara lain :
a.              Arus kas masuk dari penjualan saham atau instrument modal lainnya, dan penerbitan obligasi, wesel, hipotek, serta pinjaman lainnya.
b.             Arus kas keluar untuk pembayaran deviden, pembelian saham perusahaan, pelunasan pokok pinjaman, dan pembayaran kas oleh lesse untuk mengurangi kewajiban yang berkaitan dengan sewa gedung usaha pembiayaan.

Menurut Smith dan Skousen (1992), penyusunan laporan arus kas terdiri dari sumber-sumber data di atas meliputi empat langkah pokok :
1.             Menentukan perubahan dalam kas.
2.             Menentukan arus kas bersih dari aktifitas operasi.
3.             Menentukan arus kas dari aktifitas investasi dan pendanaan.
4.             Menyiapkan suatu laporan arus kas formal.

Dalam PSAK No.2, revisi 2009, paragraf 10 menyatakan bahwa Laporan arus kas harus melaporkan arus kas selama periode tertentu dan diklasifikasikasi menurut acara operasi, investasi, dan pendanaan. Dalam paragraf selanjutnya dijelaskan pula bahwa entitas menyajikan arus kas dari acara operasi, investasi, dan pendanaan dengan cara yang paling sesuai dengan bisnis entitas tersebut. Klasifikasi menurut acara menawarkan info yang memungkinkan para pengguna laporan untuk menilai pengaruh acara tersebut tersebut terhadap posisi keuangan entitas serta terhadap jumlah kas dan setara kas. Informasi tersebut dapat juga digunakan untuk mengevaluasi korelasi di antara ketiga acara tersebut.

Kesimpulan Secara Keseluruhan :
Pengukuran nilai perusahaan dengan menggunakan info arus kas sangat diperlukan oleh banyak pihak, menyerupai investor dan kreditor. Karena manfaat data arus kas dapat memprediksi kegagalan, menaksir risiko sebagai prediksi pertolongan pinjaman, penilaian perusahaan, serta dapat menawarkan info pelengkap bagi pasar modal. Untuk dapat mengetahui nilai perusahaan atau kondisi perusahaan, para investor dan kreditur harus melaksanakan analisis terhadap laporan keuangan, khususnya pada laporan arus kas yang dapat dijadikan sebagai sumber info bagi para penggunanya dalam membuat suatu keputusan ekonomi

Nilai dari investasi ialah penjumlahan seluruh arus kas yang telah didiskonto (net present value). Prinsip tersebut diterapkan untuk menilai kelayakan sebuah proyek baru.
1. Jika proyek gres tersebut menghasilkan tingkat pengembalian yang lebih besar daripada yang dipersyaratkan oleh penyedia modal (kreditor dan pemegang saham) maka proyek tersebut apabila dilaksanakan akan meningkatkan nilai perusahaan yang hasilnya akan meningkatkan kekayaan pemegang saham.
2. Proyek yang net present value (selisih antara arus kas di masa depan yang didiskontokan dikurang dengan nilai investasi awal) positif akan meningkatkan nilai perusahaan.

Nilai Perusahaan
Nilai perusahaan = nilai sekarang dari free cashflow dari kegiatan operasi + nilai aset non operating.

Shareholder Value from Operations and Total Shareholder Value
Shareholder value from operations = nilai sekarang dari free cash flow dari kegiatan operasi - total utang.


Ini ialah teladan kasus PPh Pasal 21 yang paling umum terjadi di perusahaan-perusahaan.

Kasus : Pegawai Tetap dengan Tunjangan Asuransi dan Pensiun

Hendry, status sudah menikah dengan 2 orang anak, bekerja pada PT. Royal Bali Cemerlang, memperoleh Gaji Pokok Rp 10,000,000 setiap bulannya. PT. Royal Bali Cemerlang mengikut sertakan Hendry masuk asuransi (JAMSOSTEK), untuk itu PT. Royal Bali Cemerlang membayar :
Premi Jaminan Hari Tua (JHT) = 3.7% dari Gaji Pokok
Premi Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) = 0.5% dari Gaji Pokok
Premi Jaminan Kematian (JK) = 0.30% dari Gaji Pokok

Sedangkan Hendry menanggung :
Iuran Jaminan Hari Tua (JHT) = 0.2% dari Gaji Pokok

PT. Royal Bali Cemerlang juga mengikut sertakan Hendry ke dalama program pensiun, untuk itu perusahaan membayar premi pension untuk Hendry sebesar Rp 150,000 setiap bulannya, sedangkan Hendry juga harus membayar Rp 100,000 setiap bulannya yang eksklusif di potongkan dari Gajinya.


Perhitungan PPh Pasal 21 nya

Pertama-tama buatlah perhitungan atas gaji dan tunjangan-tunjangannya, sampai dapat kita tentukan nilai Rupiah yang ditanggung oleh perusahaan maupun yang ditanggung oleh Hendry. Maka akan kita peroleh perhitungan sebagai berikut :


Pegawai Tetap dengan Tunjangan Asuransi dan Pensiun PERHITUNGAN & JURNAL PPh 21 – Tunjangan Asuransi-baca-]

Perhitungan & Jurnal PPh Pasal 21 - Subsidi & Tunjangan [-baca-]

Perhitungan & Jurnal PPh Pasal 21 - Bonus / THR [-baca-]

Karena luasnya wilayah pembahasan, dan untuk sanggup menawarkan klarifikasi yang lebih terperinci kepada pembaca, yang mudah-mudahan nantinya sanggup diterapkan, bila anda seorang pemilik usaha, pengelola (Co-owner, Direktur, General Manager, Financial Controller). Maka goresan pena ini akan ditampilkan berserie, sebagai berikut :

ISI :
[ Serie-1]
Pengantar
1.Mempekerjakan staf yang kompeten, sanggup diandalkan dengan kewenangan dan tanggungjawab yang jelas
2.Melakukan pemisahan fungsi dan kiprah di dalam perusahaan
3.Menerapkan mekanisme yang memadai untuk suatu transaksi dan sistem otorisasi

[ Serie-2]
4.Pelaporan dan pengawasan terhadap kinerja
5.Pengarsipan dokumen & catatan yang memadai.
6.Melakukan investigasi fisik terhadap aset perusahaan beserta catatannya
Informasi Tambahaan


Analisis Nilai Pemegang Saham.

Analisis nilai pemegang saham dalam hal ini dapat dilihat dari adanya investor yang melaksanakan review terhadap kinerja suatu perusahaan dengan melihat rasio keuangan sebagai alat evaluasi investasi (Sri Rahayu, 2010). Melalui rasio – rasio keuangan dapat dilihat keberhasilan administrasi perusahaan mengelola asset dan modal untuk memaksimalkan nilai perusahaan. Jika investor ingin melihat seberapa besar perusahaan menghasilkan return atas investasi maka yang akan dilihat pertama kali yaitu kinerja perusahaan yang ditunjukkan dengan kemampuan menghasilkan laba. Semakin baik kinerja perusahaan, maka semakin besar kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba, dengan sendirinya akan dapat menjadi sinyal aktual bagi investor dalam melaksanakan investasi.


Alfred Rappaport telah membuatkan Rappaport shareholder value analysis yang mengasumsikan perubahan yang relatif damai dalam beberapa elemen arus kas dari satu tahun ke tahun berikutnya alasannya yaitu elemen-elemen tersebut terkait dengan tingkat penjualan.

Dalam mengestimasi arus kas di masa depan, Rappaport mengasumsikan tingkat pertumbuhan penjualan yang konstan adalah:
1. Marjin laba operasi yang konstan.
2. Keuntungan dalam model ini yaitu keuntungan sebelum beban bunga dan pajak.
3. Tarif pajak yaitu persentase dari laba operasi dan diasumsikan kontan.
4. Aset tetap dan modal kerja nilainya terkait dengan kenaikan pada penjualan.

Contoh: Jika penjualan tahun ini sebesar $1.000.000 dan diperlukan akan bertumbuh sebesar 12% per tahun, marjin laba operasi sebesar 9%, tarif pajak 31%, kenaikan pada aset tetap yaitu 14% dari perubahan penjualan, dan kenaikan modal kerja sebesar 10% dari kenaikan penjualan maka arus kas tahun depan adalah:
Penjualan tahun depan
Penjualan tahun ini x (1 + pertumbuhan) = 1.000.000 x 1,12 = 1.120.000"
Laba operasi
Penjualan x marjin laba operasi = 1.120.000 x 0,09 = 100.800
Pajak
Laba operasi x tarif pajak = 100.800 x 0,31Kenaikan pada aset tetap

Kenaikan Pada Aset Tetap
Kenaikan penjualan x kenaikan aset tetap = 120.000 x 0,14 = 16.800
Kenaikan pada modal kerja
Kenaikan penjualan x kenaikan modal kerja = 120.000 x 0,1 = 12.000
Operating free cash flow                                                             40.752

Berbeda dengan kasus sebelumnya (Perhitungan & Jurnal PPh Pasal 21 - Tunjangan Asuransi) dimana karyawan bekerja semenjak awal tahun pajak, pada kasus kali ini akan dibahas apabila karyawan bekerja mulai pada pertengahan atau setelah awal tahun pajak berlangsung.


Kasus : Pegawai Tetap dengan Tunjangan Asuransi, Pensiun dan Mulai Bekerja Setelah Tahun Pajak Berjalan

Hendry, status sudah menikah dengan 2 orang anak, bekerja pada PT. Royal Bali Cemerlang sejak tanggal 01 September 2007, memperoleh Gaji Pokok Rp 10,000,000 setiap bulannya. PT. Royal Bali Cemerlang mengikut sertakan Hendry masuk asuransi (JAMSOSTEK), untuk itu PT. Royal Bali Cemerlang membayar :
Premi Jaminan Hari Tua (JHT) = 3.7% dari Gaji Pokok
Premi Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) = 0.5% dari Gaji Pokok
Premi Jaminan Kematian (JK) = 0.30% dari Gaji Pokok

Sedangkan Hendry menanggung :
Iuran Jaminan Hari Tua (JHT) = 0.2% dari Gaji Pokok

PT. Royal Bali Cemerlang juga mengikut sertakan Hendry ke dalama program pensiun, untuk itu perusahaan membayar premi pensiun untuk Hendry sebesar Rp 150,000 setiap bulannya, sedangkan Hendry juga harus membayar Rp 100,000 setiap bulannya yang pribadi di potongkan dari Gajinya.


Perhitungan PPh Pasal 21 nya

Seperti pada kasus biasa (karyawan bejerja penuh sari awal sampe selesai tahun pajak), pertama-tama kita buat perhitungan atas gaji dan tunjangan-tunjangannya terlebih dahulu, sampai dapat kita tentukan nilai Rupiah yang ditanggung oleh perusahaan maupun yang ditanggung oleh Hendry. Maka akan kita peroleh perhitungan sebagai berikut :

 dimana karyawan bekerja semenjak awal tahun pajak PERHITUNGAN & JURNAL PPH 21 - Tengah Tahun-baca-]

Perhitungan & Jurnal PPh 21 - Tunjangan & Subsidi Pajak [-baca-]

Perhitungan & Jurnal PPh 21 - Bonus / THR [-baca-]

[ Serie - 1 ]

Pengantar

Menentukan resiko yang mungkin timbul pada proses keuangan, tidak cukup hanya dengan mengevaluasi kekuatan dan kelemahan alat kontrol secara sendiri-sendiri dan terpisah-pisah. Dibutuhkan penilaian menyeluruh terhadap seluruh elemen dan lingkungan pengendalian yang terkait dengan proses keuangan itu sendiri.

Berikut ialah langkah-langkah yang perlu diambil didalam membuat lingkungan Financial Control yang kokoh :

1.Mempekerjakan staf yang kompeten, sanggup mengemban amanah dengan kewenangan dan tanggungjawab yang jelas
Job Description yang terperinci mutlak dipersiapkan, sehingga langkap yang maksimal bisa dilakukan semenjak pada tahapan interview dan tes seleksi terhadap staff keuangan. Hal ini juga akan memudahkan perusahaan di dalam mempersiapkan dan menawarkan training yang sempurna terhadap staf gres di bab keungan.

Pemeriksaan latar belakang dan acuan juga merupakan bab yang penting di dalam pengangkatan staff gres di bab keungan. Selanjutnya, supervisor atau kepala bab hendaknya menawarkan training dan trainning yang intensif secara terperinci mengenai cara melaksanakan suatu pekerjaan, derma pola dan praktik pribadi melaksanakan pekerjaan ialah cara yang paling efektif. Supervisor atau atasan pribadi sebaiknya juga menawarkan pengetahuan yang cukup mengenai budaya dan budpekerti perusahaan.

Staf yang cakap dan jujur akan bisa melaksanakan pekerjaan dengan level yang lebih tinggi, bahkan kalau diterapkan pemanis sistem kontrol sekalipun. Staff yang tidak cakap dan tidak jujur akan berdampak terhadap keefektifan sistem pengendalian.

2.Melakukan pemisahan fungsi dan kiprah di dalam perusahaan

a.Memisahkan antara penghitungan aset dengan accounting
Mungkin ini merupakan jenis pemisahan fungsi yang paling penting, yaitu dengan tidak menawarkan ruang menyembunyikan atau melindungi kesalahan terhadap suatu transaksi aset. Resiko berat yang mungkin timbul kalau menawarkan tanggungjawab penghitungan aset sekaligus melaksanakan pembukuan ialah penjualan aset perusahaan untuk laba pribadi, yang kemudian melaksanakan adjustment (penyesuaian) di dalam pembukuan oleh staff yang bersangkutan juga. Mengerikan bukan ?.

b.Memisahkan staf yang mempunyai otorisasi terhadap transaksi dengan penghitung aset
Petugas yang mempunyai wewenang terhadap suatu transaksi seharusnya tidak mempunyai wewenang pengawasan terhadap aset. Contoh : Petugas yang mempunyai wewenang terhadap penentuan besarnya uang service di restoran, tidak sekaligus bertugas membagikan uang service itu sendiri. Jika tidak, maka akan sangat mungkin uang service ditentukan tinggi, akan tetapi yang dibagikan rendah, dan selisihnya diambil untuk laba pribadi.

c.Memisahkan Tugas dan tanggung jawab antar fungsi-fungsi yang ada di accounting.
Petugas yang melaksanakan posting ke account (mislanya: Posting ke buku kas, Posting buku Piutang, dan lain-lain ) seharusnya tidak bertugas melaksanakan posting tertentu di General Ledger. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah lolosnya kesalahan yang tidak disengaja.


d.Memisahkan kiprah antara accounting dengan pengawasan.
Staf yang bertugas melaksanakan posting transaksi, seharusnya tidak sekaligus bertugas menilik General Ledger ataupun General Ledger Detail. Pemisahan fungsi ini akan sangat efektif untuk menangkap kesalahan baik yang disengaja atupun yang tidak disengaja.

e.Memisahkan antara tanggungjawab operasional dengan tanggung jawab investigasi pembukuan.
Seseorang yang bertugas melaksanakan proses operasional sehari-hari di accounting, seharusnya tidak sekaligus bertugas melaksanakan review terhadap buku besar opersional maupun yang bertugas membuat laporan keuangan. Hal ini guna mencegah terjadinya interpretasi yang kabur terhadap pelaksanaan anggaran.

3.Menerapkan mekanisme yang memadai untuk suatu transaksi dan sistem otorisasi

Penerapan mekanisme dan otorisasi mutlak diperlukan. Suatu pembelian hendaknya melalui beberapa tahapan prosedur, mulai dari penilaian surat penawaran dari supplier, cost analysis, hingga dengan keputusan pembelian.

Prosedur seharusnya dibentuk begitu terperinci mulai dari awal proses hingga dengan akhirnya. Mulai dari rencana pembelian atau pembayaran hingga penutupan pembukuan dan pengarsipan bukti pembeliannya.

Demikian halnya dengan sistim otorisasi, hendaknya di set level-level transaksi, baik itu yang diukur dari frekwensi transaksinya maupun dari nilai transaksinya. Misalnya : transaksi yang nilainya kurang dari Rp 500.000,- boleh di sahkan oleh seorang manajer saja, akan tetapi untuk transaksi yang berkisar antara 500.000 hingga dengan 1.000.000,- harus di approve oleh 3 orang manager.

Transaksi yang berkaitan dengan biaya operasional sehari-dari sanggup diapprove oleh seorang Purchasing Manager saja, akan tetapi transaksi yang terkait dengan investasi hendaknya di approve oleh Financial Controller atau General Manager

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.