November 2017

Account Assistant Account Officer Account Payable Account Receivable Accounting Accounting Case Study Accounting Certification Accounting Contest Accounting For Manager Accounting Manager Accounting Software Acquisition Admin Administrasi administrative assistant Administrator Advance accounting Aktiva Tetap Akuisisi Akun Akuntan Privat Akuntan Publik AKUNTAN. Akuntansi Akuntansi Biaya Akuntansi Dasar Akuntansi Management Akuntansi Manajemen Dan Biaya Akuntansi Pajak Akuntansi Perusahaan Dagang Akuntansi Perusahaan Jasa Akuntansi Syariah Akuntansi Translasi Akunting Analisis Transaksi Announcement Aplikasi Akuntansi archiving ARTICLES ARTIKEL Asumsi dasar Akuntansi Asuransi Aturan Pencatatan Akuntansi Audit Audit Kinerja Auditing Balance sheet Bank Basic Accounting Bea Cukai Bea Masuk Bidang Akuntansi Bukti Transaksi Buku Besar Calculator Capital Cara Pencatatan Akuntansi Career Cash Cash Flow Cat Certification Checker Checker Gudang COGS Collection Contest Corporate Social Responsibility (CSR) Cost Cost Analysis CPA CPA EXAM Credit Credit Policy Current Asset Custom Custom Clearence Dasar Akuntansi Data Debit Kredit Discount Diskon Distributor Dyeing Ekspor Engineering Etika Profesi & Tata Kelola Korporat Example Expense Export - Import FASB Finance FINANCIAL Financial Advisor Financial Control Finansial Foreign Exchange Rate Form FRAUD Free Download Freebies Fungsi Akuntansi GAAP GAJI Garansi Gift Goodwill Gudang Harga Pokok Penjualan Hotel HPP HRD IFRS Impor Import Import Duty Informasi Akuntansi International Accounting Investasi IT Jasa Jasa Konstruksi Job Vacant JUDUL SKRIPSI AKUNTANSI TERBARU Jurnal Khusus Jurnal Pembalik Jurnal Pembalik Dagang Jurnal Penutup Jurnal Penutup Dagang Jurnal Penyesuaian Jurnal Umum Kas Kas Bank Kas Kecil Kasus Akuntansi Kasus Legal Kasus Pajak Kepala Rekrutment Kertas Kerja Keuangan Knitting Komentar Komputer Konsolidasi Konstruksi Konsultan Laba-Rugi Laboratorium Lain-lain lainnya LANDING COST Laporan akuntansi Laporan Arus Kas Laporan Keuangan Laporan Keuangan Dagang Laporan Keuangan Jasa Laporan Laba Rugi Laporan Perubahan Modal laporan Rugi Laba Layanan Konsumen Lean Accounting Lean Concept Lean Manufacturing Legal Logistik Lowongan Kerja Accounting MA Accounting Macam Transaksi Dagang Management Management Accounting Manager Manajemen Manajemen Keuangan Manajemen Keuangan Manajemen Stratejik Manajer Manajer Administrasi Manfaat Akuntansi Manufaktur Marketing Matching Color Mekanisme Debit Mekanisme Kredit Mencatat Transaksi Merger metode fifo dan lifo Mid Level Miscellaneous Modal Neraca Neraca Lajur Neraca Saldo Neraca Saldo Setelah Penutupan Nerasa Saldo Office Operator Operator Produksi Paint PAJAK pajak pusat.pajak daerah(provinsi dan kabupaten) payroll Pelaporan Korporate Pemasaran Pembelian Pemberitahuan Pemindahbukuan Jurnal Pencatatan Perusahaan Dagang Pendapatan Pengakuan Pendapatan Pengarsipan Pengendalian Pengendalian Keuangan Pengertian Akuntansi PENGERTIAN LAPORAN KEUANGAN pengertian pajak PENGERTIAN PSAK PENGGELAPAN Pengguna Akuntansi Pengkodean Akun Penjualan Perbankan Perlakuan akuntansi Perpajakan Persamaan Dasar Akun Petty Cash Piutang Posting Buku Besar PPH PASAL 21 PPh Pasal 22 PPh Pasal 26 PPn PPn Import Prefesi Akuntansi Prinsip Akuntansi PRINSIP DASAR AKUNTANSI Produksi Profesi Akuntansi Professi Akuntan Profit-Lost Proses Akuntansi Proyek PSAK PSAK TERBARU PURCHASE Purchasing QA QC Quality Assurance Quality Control Quiz Rabat Rajut rangkuman Rebate Recruitment Recruitment Head Rekrutment Retail Retur Return Revenue Review Saldo Normal Sales Sales Representative Sejarah Akuntansi SERIE ARTIKEL Sertifikasi Shareholder Shipping Agent Shipping Charge siklus akuntansi Silus Akuntansi Dagang Sistem sistem akuntansi Sistem Informasi Sistem Informasi & Pengendalian Internal Soal dan Jawaban CPA SPI Spreadsheet Accounting Spreadsheet Gratis Staff Struktur Dasar Akuntansi Supervisor system pengendalian system pengendalian gaji Tax Taxation Teknik Tekstil Template Teori-teori Akuntansi Tinta Tip n Tricks TIPS AND TRICKS Tools Top Level Transaksi Keuangan Tutup Buku Ujian CPA UPAH update situs USAP Utilities Video Tutor Warehouse Warna warranty What Is New


Bagi pemerintah, pendapatan basis kas yang tersedia yang telahdiotorisasikan melalui anggaran pemerintah suatu era akuntansi akandigunakan untuk membayar utang dan belanja dalam era tersebut. Mengingat LRA masih merupakan laporan yang wajib disusun, maka pendapatan atau belanja basis kas diakui setelah diotorisasi melalui anggaran dan telah menambah atau mengurangi kas.Prinsip layak temu biaya-pendapatan (matching-cost againstrevenue principle) dalam akuntansi pemerintah tidak mendapat pengutamaan sebagaimana dipraktekkan dalam akuntansi komersial.


Informasi dimaksudkan untuk menyajikan dengan wajar transaksiserta peristiwa lain yang seharusnya disajikan, maka transaksi atau peristiwa lain tersebut perlu dicatat dan disajikan sesuai dengan substansi dan realitas ekonomi, dan bukan hanya aspek formalitasnya. Apabila substansi transaksi atau peristiwa lain tidak konsisten/berbeda dengan aspek formalitasnya, maka hal tersebut harus diungkapkan dengan terang dalam Catatan atas Laporan Keuangan.


Perlakuan akuntansi yang sama diterapkan pada kejadian yang serupa dari periode ke periode oleh suatu entitas pelaporan (prinsip konsistensi internal). Hal ini tidak berarti bahwa tidak boleh terjadi perubahan dari satu metode akuntansi ke metode akuntansi yang lain. Metode akuntansi yang dipakai dapat diubah dengan syarat bahwa metode yang gres diterapkan bisa menunjukkan isu yang lebih baik dibanding metode lama.Pengaruh atas perubahan penerapan metode ini diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan.


Laporan keuangan menyajikan dengan wajar Laporan RealisasiAnggaran, Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih, Neraca, Laporan Operasional, Laporan Arus Kas, Laporan Perubahan Ekuitas, dan Catatan atas Laporan Keuangan. Dalam rangka penyajian wajar, faktor pertimbangan sehat dibutuhkan bagi penyusun laporan keuangan ketika menghadapi ketidakpastian peristiwa dan keadaan tertentu.Ketidakpastian menyerupai itu diakui dengan mengungkapkan hakikat serta tingkatnya dengan menggunakan pertimbangan sehat dalam penyusunan laporan keuangan.Pertimbangan sehat mengandung unsur kehati-hatian pada ketika melaksanakan prakiraan dalam kondisi ketidakpastian sehingga aset atau pendapatan tidak dinyatakan terlalu tinggi dan kewajiban tidak dinyatakan terlalu rendah.Namun demikian, penggunaan pertimbangan sehat tidak memperkenankan, misalnya, pembentukan cadangan tersembunyi, sengaja menetapkan aset atau pendapatan yang terlampau rendah, atau sengaja mencatat kewajiban atau belanja yang terlampau tinggi, sehingga laporan keuangan menjadi tidak netral dan tidak andal.


Laporan keuangan pemerintah terdiri dari laporan pelaksanaananggaran (budgetary reports), laporan finansial, dan CaLK.Laporan pelaksanaan anggaran terdiri dari LRA dan Laporan Perubahan SAL.Laporan finansial terdiri dari Neraca, LO, LPE, dan LAK. CaLK merupakan laporan yang merinci atau menjelaskan lebih lanjut atas pos-pos laporan pelaksanaan anggaran maupun laporan finansial dan merupakan laporan yang tidak terpisahkan dari laporanpelaksanaan anggaran maupun laporan finansial.

1. Laporan Realisasi Anggaran
Laporan Realisasi Anggaran menyajikan ikhtisar sumber, alokasi,dan pemakaian sumber daya keuangan yang dikelola oleh pemerintah pusat/daerah, yang menggambarkan perbandingan antara anggaran dan realisasinya dalam satu periode pelaporan.Unsur yang dicakup secara pribadi oleh Laporan Realisasi Anggaran terdiri dari pendapatan-LRA, belanja, transfer, dan pembiayaan.Masing-masing unsur dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Pendapatan-LRA ialah penerimaan oleh Bendahara UmumNegara/Bendahara Umum Daerah atau oleh entitas pemerintah lainnyayang menambah Saldo Anggaran Lebih dalam periode tahun anggaranyang bersangkutan yang menjadi hak pemerintah, dan tidak perlu dibayarkembali oleh pemerintah.

b. Belanja ialah semua pengeluaran oleh Bendahara UmumNegara/Bendahara Umum Daerah yang mengurangi Saldo Anggaran Lebihdalam periode tahun anggaran bersangkutan yang tidak akan diperolehpembayarannya kembali oleh pemerintah.

c. Transfer ialah penerimaan atau pengeluaran uang oleh suatu entitaspelaporan dari/kepada entitas pelaporan lain, termasuk dana perimbangan dan dana bagi hasil.

d. Pembiayaan (financing) ialah setiap penerimaan/pengeluaran yang tidakberpengaruh pada kekayaan bersih entitas yang perlu dibayar kembalidan/atau akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran bersangkutanmaupun tahun-tahun anggaran berikutnya, yang dalam penganggaranpemerintah terutama dimaksudkan untuk menutup defisit ataumemanfaatkan surplus anggaran. Penerimaan pembiayaan antara laindapat berasal dari pinjaman dan hasil divestasi. Pengeluaran pembiayaanantara lain digunakan untuk pembayaran kembali pokok pinjaman,pemberian pinjaman kepada entitas lain, dan penyertaan modal olehpemerintah.

Laporan Realisasi Anggaran menyajikan gosip realisasi pendapatan-LRA, belanja, transfer, surplus/defisit-LRA, dan pembiayaan, yang masing-masing diperbandingkan dengan anggarannya dalam satu periode.

Dalam Laporan Realisasi Anggaran harus diidentifikasikan secara jelas, dan diulang pada setiap halaman laporan, kalau dianggap perlu, gosip berikut:
a. Nama entitas pelaporan atau sarana identifikasi lainnya;
b. Cakupan entitas pelaporan;
c. Periode yang dicakup;
d. Mata uang pelaporan; dan
e. Satuan angka yang digunakan.

2. Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih
Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih menyajikan informasikenaikan atau penurunan Saldo Anggaran Lebih tahun pelaporan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

3. Neraca
Neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporanmengenai aset, kewajiban, dan ekuitas pada tanggal tertentu.Unsur yang dicakup oleh neraca terdiri dari aset, kewajiban, dan ekuitas. Masing-masing unsur dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Aset ialah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki olehpemerintah sebagai akhir dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaatekonomi dan/atau sosial di masa depan diharapkan dapat diperoleh, baikoleh pemerintah maupun masyarakat, serta dapat diukur dalam satuanuang, termasuk sumber daya nonkeuangan yang dibutuhkan untukpenyediaan jasa bagi masyarakat umum dan sumber-sumber daya yangdipelihara alasannya alasan sejarah dan budaya.

b. Kewajiban ialah utang yang timbul dari peristiwa masa lalu yangpenyelesaiannya menimbulkan ajaran keluar sumber daya ekonomipemerintah.

c. Ekuitas ialah kekayaan bersih pemerintah yang merupakan selisih antaraaset dan kewajiban pemerintah.

Aset
Manfaat ekonomi masa depan yang terwujud dalam aset adalahpotensi aset tersebut untuk menunjukkan sumbangan, baik pribadi maupun tidak langsung, bagi kegiatan operasional pemerintah, berupa ajaran pendapatan atau penghematan belanja bagi pemerintah. Aset diklasifikasikan ke dalam aset lancar dan nonlancar.Suatu aset diklasifikasikan sebagai aset lancar kalau diharapkan segera untuk dapatdirealisasikan atau dimiliki untuk dipakai atau dijual dalam waktu 12 (dua belas) bulan semenjak tanggal pelaporan.Aset yang tidak dapat dimasukkan dalam kriteria tersebut diklasifikasikan sebagai aset nonlancar.Aset lancar meliputi kas dan setara kas, investasi jangka pendek, piutang, dan persediaan.Aset nonlancar mencakup aset yang bersifat jangka panjang, dan aset tak berwujud yang digunakan baik pribadi maupun tidak pribadi untuk kegiatan pemerintah atau yang digunakan masyarakat umum.

Aset nonlancar diklasifikasikan menjadi investasi jangka panjang, aset tetap, dana cadangan, dan aset lainnya. Investasi jangka panjang merupakan investasi yang diadakan dengan maksud untuk menerima manfaat ekonomi dan manfaat sosial dalam jangka waktu lebih dari satu periode akuntansi.Investasi jangka panjang meliputi investasi nonpermanen dan permanen. Investasi nonpermanen antara laininvestasi dalam Surat Utang Negara, penyertaan modal dalam proyek pembangunan, dan investasi nonpermanen lainnya. Investasi permanen antara lain penyertaan modal pemerintah dan investasi permanen lainnya. Aset tetap meliputi tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jalan, irigasi, dan jaringan, aset tetap lainnya, dan konstruksi dalam pengerjaan.Aset nonlancar lainnya diklasifikasikan sebagai aset lainnya.Termasuk dalam aset lainnya ialah aset tak berwujud dan aset kerja sama (kemitraan).

Kewajiban
Karakteristik esensial kewajiban ialah bahwa pemerintahmempunyai kewajiban masa kini yang dalam penyelesaiannya menimbulkan pengorbanan sumber daya ekonomi di masa yang akan datang. Kewajiban umumnya timbul alasannya konsekuensi pelaksanaan peran atau tanggungjawab untuk bertindak di masa lalu. Dalam konteks pemerintahan, kewajiban muncul antara lain alasannya penggunaan sumber pembiayaan pinjaman dari masyarakat, lembaga keuangan, entitas pemerintah lain, atau lembaga internasional. Kewajiban pemerintah juga terjadi alasannya perikatan dengan pegawai yang bekerja pada pemerintah atau dengan pemberi jasa lainnya.Setiap kewajiban dapat dipaksakan menurut hukum sebagai konsekuensi dari kontrak yang mengikat atau peraturan perundang-undangan.Kewajiban dikelompokkan kedalam kewajiban jangka pendek dan kewajiban jangka panjang.Kewajiban jangka pendek merupakan kelompok kewajiban yang diselesaikan dalam waktu kurang dari dua belas bulan setelah tanggal pelaporan.Kewajiban jangka panjang ialah kelompok kewajiban yang penyelesaiannya dilakukan setelah 12 (dua belas) bulan semenjak tanggal pelaporan.

Ekuitas
Ekuitas ialah kekayaan bersih pemerintah yang merupakan selisihantara aset dan kewajiban pemerintah pada tanggal laporan.Saldo ekuitas di Neraca berasal dari saldo tamat ekuitas pada Laporan Perubahan Ekuitas.

4. Laporan Operasional
Laporan Operasional menyajikan ikhtisar sumber daya ekonomiyang menambah ekuitas dan penggunaannya yang dikelola oleh pemerintah pusat/daerah untuk kegiatan penyelenggaraan pemerintahan dalam satu periode pelaporan.Unsur yang dicakup secara pribadi dalam Laporan Operasional terdiri dari pendapatan-LO, beban, transfer, dan pos-pos luar biasa. Masing-masing unsur dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Pendapatan-LO ialah hak pemerintah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih.
b. Beban ialah kewajiban pemerintah yang diakui sebagai pengurang nilaikekayaan bersih.
c. Transfer ialah hak penerimaan atau kewajiban pengeluaran uang dari/olehsuatu entitas pelaporan dari/kepada entitas pelaporan lain, termasuk danaperimbangan dan dana bagi hasil.
d. Pos Luar Biasa ialah pendapatan luar biasa atau beban luar biasa yangterjadi alasannya kejadian atau transaksi yang bukan merupakan operasi biasa, tidak diharapkan sering atau rutin terjadi, dan berada di luar kendali ataupengaruh entitas bersangkutan.

5. Laporan Arus Kas
Laporan Arus Kas menyajikan gosip kas sehubungan denganaktivitas operasi, investasi, pendanaan, dan transitoris yang menggambarkansaldo awal, penerimaan, pengeluaran, dan saldo tamat kas pemerintah pusat/daerah selama periode tertentu.Unsur yang dicakup dalam Laporan Arus Kas terdiri dari penerimaan dan pengeluaran kas, yang masing-masing dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Penerimaan kas ialah semua ajaran kas yang masuk ke Bendahara UmumNegara/Daerah.
b. Pengeluaran kas ialah semua ajaran kas yang keluar dari BendaharaUmum Negara/Daerah.
6. Laporan Perubahan Ekuitas
Laporan Perubahan Ekuitas menyajikan gosip kenaikan ataupenurunan ekuitas tahun pelaporan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

7. Catatan Atas Laporan Keuangan
Catatan atas Laporan Keuangan meliputi penjelasan naratif ataurincian dari angka yang tertera dalam Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Perubahan SAL, Laporan Operasional, Laporan Perubahan Ekuitas, Neraca, dan Laporan Arus Kas. Catatan atas Laporan Keuangan juga mencakup gosip wacana kebijakan akuntansi yang dipergunakan oleh entitas pelaporan dan gosip lain yang diharuskan dan dianjurkan untuk diungkapkan di dalam Standar Akuntansi Pemerintahan serta ungkapan-ungkapan yang dibutuhkan untuk menghasilkan penyajian laporan keuangan secara wajar.

Catatan atas Laporan Keuangan mengungkapkan/menyajikan/menyediakan hal-hal sebagai berikut:
a. Mengungkapkan gosip Umum wacana Entitas Pelaporan dan EntitasAkuntansi;
b. Menyajikan gosip wacana kebijakan fiskal/keuangan dan ekonomimakro;
c. Menyajikan ikhtisar pencapaian target keuangan selama tahun pelaporanberikut kendala dan hambatan yang dihadapi dalam pencapaian target;
d. Menyajikan gosip wacana dasar penyusunan laporan keuangan dankebijakan-kebijakan akuntansi yang dipilih untuk diterapkan atas transaksi transaksi dan kejadian-kejadian penting lainnya;
e. Menyajikan rincian dan penjelasan masing-masing pos yang disajikan pada lembar muka laporan keuangan;
f. Mengungkapkan gosip yang diharuskan oleh Pernyataan StandarAkuntansi Pemerintahan yang belum disajikan dalam lembar muka laporan keuangan;
g. Menyediakan gosip lainnya yang dibutuhkan untuk penyajian yang wajar,yang tidak disajikan dalam lembar muka laporan keuangan.


Pengakuan dalam akuntansi ialah proses penetapan terpenuhinyakriteria pencatatan suatu kejadian atau peristiwa dalam catatan akuntansi sehingga akan menjadi bab yang melengkapi unsur aset, kewajiban, ekuitas, pendapatan-LRA, belanja, pembiayaan, pendapatan-LO, dan beban, sebagaimana akan termuat pada laporan keuangan entitas pelaporan yang bersangkutan. Pengakuan diwujudkan dalam pencatatan jumlah uang terhadap pos-pos laporan keuangan yang terpengaruh oleh kejadian atau peristiwa terkait.Kriteria minimum yang perlu dipenuhi oleh suatu kejadian atau peristiwa untuk diakui yaitu:
a. Terdapat kemungkinan bahwa manfaat ekonomi yang berkaitan dengankejadian atau peristiwa tersebut akan mengalir keluar dari atau masuk ke dalam entitas pelaporan yang bersangkutan;
b. Kejadian atau peristiwa tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapatdiukur atau dapat diestimasi dengan andal.
Dalam menentukan apakah suatu kejadian/peristiwa memenuhikriteria pengakuan, perlu dipertimbangkan aspek materialitas.


Pengukuran yaitu proses penetapan nilai uang untuk mengakuidan memasukkan setiap pos dalam laporan keuangan. Pengukuran pos-pos dalam laporan keuangan menggunakan nilai perolehan historis.Aset dicatat sebesar pengeluaran/penggunaan sumber daya ekonomi atau sebesar nilai wajar dari imbalan yang diberikan untuk memperoleh aset tersebut.Kewajiban dicatat sebesar nilai wajar sumber daya ekonomi yang digunakan pemerintah untuk memenuhi kewajiban yang bersangkutan.

Pengukuran pos-pos laporan keuangan menggunakan mata uangrupiah.Transaksi yang menggunakan mata uang ajaib dikonversi terlebih dahulu dan dinyatakan dalam mata uang rupiah.


Definisi
Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (disingkat LKPP) yaitu laporan pertanggung-jawaban pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang terdiri dari Laporan realisasi anggaran, Neraca, Laporan arus kas dan Catatan atas laporan keuangan yang disusun sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintah. LKPP Merupakan konsolidasi laporan keuangan Kementerian Negara/Lembaga yang disusun dengan berdasarkan praktik terbaik internasional (best practice) dalam pengelolaan keuangan Negara. LKPP diterbitkan setiap tahun, dan pertama kali diterbitkan pada tahun 2004 semenjak Indonesia merdeka sebagai bentuk pertanggungjawaban keuangan pemerintah. LKPP disusun oleh Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Kementerian Keuangan Indonesia.

Komponen LKPP
Saat ini laporan keuangan pemerintah sentra disusun berdasarkan penerapan akuntansi basis kas menuju akrual. Pada tahun 2015 penerapan basis akrual akan diberlakukan di Indonesia sehingga laporan keuangan yang diberi opini oleh Badan Pemeriksa Keuangan yaitu yang berbasis akrual. Komponen laporan keuangan pemerintah berbasis akrual terdiri dari:
1. Laporan Pelaksanaan Anggaran, yang terdiri dari Laporan Realisasi Anggaran dan Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih

Laporan Realisasi Anggaran
Laporan Realisasi Anggaran (LRA) merupakan salah satu komponen laporan keuangan pemerintah yang menyajikan ikhtisar sumber, alokasi dan pemakaian sumber daya keuangan yang dikelola oleh pemerintah pusat/daerah, yang menggambarkan perbandingan antara anggaran dan realisasinya dalam suatu periode tertentu.

Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih
Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (SAL) menyajikan informasi kenaikan atau penurunan SAL tahun pelaporan dibandingkan dengan tahun sebelumnya dan hanya disajikan oleh Bendahara Umum Negara dan entitas pelaporan yang menyusun laporan keuangan konsolidasi.

2. Laporan Finansial, yang terdiri dari Neraca, Laporan Operasional, Laporan Perubahan Ekuitas dan Laporan Arus Kas. Adapun Laporan Operasional (LO) disusun untuk melengkapi pelaporan dan siklus akuntansi berbasis akrual sehingga penyusunan LO, Laporan Perubahan Ekuitas dan Neraca mempunyai keterkaitan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Neraca
Neraca merupakan laporan keuangan yang menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan mengenai aset, kewajiban, dan ekuitas pada tanggal tertentu.

Laporan Operasional
Laporan Operasional (LO) disusun untuk melengkapi pelaporan dari siklus akuntansi berbasis akrual (full accrual accounting cycle) sehingga penyusunan Laporan Operasional, Laporan Perubahan Ekuitas, dan Neraca mempunyai keterkaitan yang dapat dipertanggungjawabkan. LO menyediakan informasi mengenai seluruh kegiatan operasional keuangan entitas pelaporan yang tercerminkan dalam pendapatan-LO, beban, dan surplus/defisit operasional dari suatu entitas pelaporan yang penyajiannya disandingkan dengan periode sebelumnya.

Laporan Arus Kas
Laporan Arus Kas (LAK) yaitu bab dari laporan finansial yang menyajikan informasi penerimaan dan pengeluaran kas selama periode tertentu yang diklasifikasikan berdasarkan acara operasi, investasi, pendanaan, dan transitoris. Tujuan LAK untuk memperlihatkan informasi mengenai sumber, penggunaan, perubahan kas dan setara kas selama suatu periode akuntansi serta saldo kas dan setara kas pada tanggal pelaporan. LAK wajib disusun dan disajikan hanya oleh unit organisasi yang mempunyai fungsi perbendaharaan umum.

Laporan Perubahan Ekuitas
Laporan Perubahan Ekuitas (LPE) menyajikan informasi kenaikan atau penurunan ekuitas tahun pelaporan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. LPE menyediakan informasi mengenai perubahan posisi keuangan entitas pelaporan, apakah mengalami kenaikan atau penurunan sebagai akhir kegiatan yang dilakukan selama periode pelaporan.

3. Catatan Atas Laporan Keuangan
Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK) merupakan bab yang tak terpisahkan dari Laporan Keuangan dan oleh akhirnya setiap entitas pelaporan diharuskan untuk menyajikan Catatan atas Laporan Keuangan. CaLK meliputi penjelasan atau daftar terinci atau analisis atas nilai suatu pos yang disajikan dalam Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih, Neraca, Laporan Operasional, Laporan Arus Kas, dan Laporan Perubahan Ekuitas. Termasuk pula dalam Catatan atas Laporan Keuangan yaitu penyajian informasi yang diharuskan dan dianjurkan oleh Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan serta pengungkapan-pengungkapan lainnya yang diharapkan untuk penyajian yang wajar atas laporan keuangan, menyerupai kewajiban kontinjensi dan komitmen-komitmen lainnya. CaLK bertujuan untuk meningkatkan transparansi laporan keuangan dan penyediaan pemahaman yang lebih baik atas informasi keuangan pemerintah


Ada perbedaan besar antara memiliki isyarat etik alasannya diamanatkan dan memiliki standar watak yang benar-benar memperlihatkan bimbingan untuk taktik bisnis dan perilaku perusahaan. Kode etik perusahaan ialah sebagai kosmetik perusahaan untuk melihat sejauh mana isyarat etik tersebut dianut dalam penyusunan taktik dan operasi hari kerja sehari – hari. Misalnya, kalau administrator perusahaan sangat percaya pada standar watak perusahaan, mereka tanpa ragu akan menolak inisiatif strategis dan pendekatan operasi yang tidak mengukur. Namun, dalam perusahaan dengan pendekatan kosmetik etika, setiap korelasi strategi-etika berasal terutama dari cita-cita untuk menghindari risiko aib dan kemungkinan tindakan disipliner untuk menyetujui inisiatif strategis yang dipandang oleh masyarakat menjadi tidak etis dan mungkin ilegal. Sementara sebagian besar manajer perusahaan berhati-hati untuk memastikan bahwa taktik perusahaan ialah dalam batas-batas dari apa yang legal, namun bukti menunjukkan bahwa mereka tidak selalu berhati-hati untuk memastikan bahwa semua elemen taktik dan acara operasi berada dalam batas-batas apa yang dianggap etis.


Ada tiga pemicu utama dari perilaku bisnis yang tidak etis ditunjukkan sebagai berikut :
• Faulty oversight, enabling the unscrupulous pursuit of personal gain and self-interest.

Orang-orang yang terobsesi dengan akumulasi kekayaan, kekuasaan, status, dan kepentingan mereka sendiri sering mendorong prinsip-prinsip budpekerti dalam upaya mereka untuk keuntungan pribadi. Mengabaikan budpekerti bisnis umumnya dapat mendorong semua jenis manuver strategis yang tidak etis dan perilaku di perusahaan. Tata kelola perusahaan yang bertanggung jawab dan pengawasan oleh dewan perusahaan perusahaan dibutuhkan untuk menjaga terhadap diri sendiri (self-dealing) dan manipulasi gosip untuk menyamarkan tindakan tersebut oleh manajer perusahaan. Self-dealing terjadi dikala manajer mengambil keuntungan dari posisi mereka untuk memajukan kepentingan langsung mereka sendiri daripada orang-orang dari perusahaan.

Sebuah pola yang sangat merugikan dari kurangnya pengawasan yang sempurna yakni skandal atas praktik pertolongan hipotek dan perbankan yang menimbulkan krisis bagi perumahan pasar real estate di AS dan konsekuensi menyayat hati bagi banyak pembeli rumah. Skandal ini berasal dari taktik sadar tidak etis di banyak bank dan perusahaan hipotek untuk meningkatkan biaya yang diperoleh dari kredit rumah dengan sengaja menurunkan standar pertolongan untuk menyetujui yang disebut "pinjaman subprime" untuk pembeli rumah yang pendapatannya tidak cukup untuk melaksanakan pembayaran hipotek bulanan mereka.

• Heavy pressures on company managers to meet or beat short-term performance targets.
• A company culture that puts profitability and business performance ahead of ethical behavior.


Ada dua alasan mengapa taktik perusahaan harus etis: (1) alasannya ialah taktik yang tidak etis secara moral salah dan mencerminkan keburukan pada huruf personil perusahaan dan (2) alasannya ialah taktik adat mampu menjadi bisnis yang baik dan melayani kepentingan eksklusif pemegang saham.

• Kasus Moral Strategi Etis
Manajer tidak tanpa perasaan menilai apa saja yang strategis untuk mengendalikan. Pembuatan taktik etis biasanya dimulai dengan manajer sendiri yang memiliki huruf moral yang besar lengan berkuasa (misalnya, yang dipercaya, memiliki integritas, dan benar-benar peduli wacana melaksanakan bisnis perusahaan secara terhormat). Manajer dengan prinsip-prinsip adat yang tinggi biasanya mendukung arahan etik perusahaan dan kepatuhan adat yang kuat, dan mereka benar-benar berkomitmen untuk menjunjung tinggi nilai-nilai perusahaan dan prinsip-prinsip bisnis yang etis.

• Kasus Bisnis Strategi Etis
Selain alasan moral alasannya ialah mengadopsi taktik etika, mungkin ada alasan bisnis yang kuat. Mengejar taktik tidak etis dan toleransi perilaku tidak etis tidak hanya merusak reputasi perusahaan, tetapi juga dapat menimbulkan serangkaian luas dari konsekuensi mahal lainnya.

Dampak dari kesalahan etis dari pihak perusahaan melampaui biaya mati untuk membuat kesalahan untuk kejahatan. Rehabilitasi reputasi perusahaan hancur cukup memakan waktu dan memakan biaya. Pelanggan menghindari perusahaan yang dikenal untuk perilaku mereka teduh. Perusahaan diketahui telah terlibat dalam perilaku tidak etis mengalami kesulitan dalam merekrut dan mempertahankan karyawan berbakat. Kebanyakan etis masyarakat terhormat tidak ingin menerima terjebak dalam situasi kompromi, juga tidak ingin reputasi eksklusif mereka ternoda oleh tindakan majikan buruk. Kreditur terkesima oleh tindakan tidak etis dari peminjam alasannya ialah kejatuhan bisnis potensial dan risiko berikutnya default pada pinjaman.


Istilah keberlanjutan digunakan dalam banyak sekali cara. Di banyak perusahaan, itu yaitu identik dengan tanggung jawab sosial perusahaan; itu dipandang oleh beberapa sebagai istilah yang secara bertahap menggantikan CSR dalam leksikon bisnis.

Keberlanjutan berkaitan dengan korelasi perusahaan untuk yang lingkungan dan penggunaan dari sumber daya alam, termasuk tanah, air, udara, tanaman, hewan, mineral, materi bakar fosil, dan keanekaragaman hayati. Hal ini secara luas diakui bahwa sumber daya alam di dunia yang terbatas dan sedang dikonsumsi dan terdegradasi pada tingkat yang mengancam kapasitas mereka untuk pembaharuan. Karena perusahaan yaitu pengguna terbesar dari sumber daya alam, mengelola dan memelihara sumber daya tersebut sangat penting bagi kepentingan ekonomi jangka panjang perusahaan.

Sebagian besar perusahaan besar telah mulai mengubah cara mereka melaksanakan bisnis, menekankan penggunaan praktek bisnis yang berkelanjutan, yang didefinisikan sebagai mereka yang bisa memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan masa depan. Banyak juga sudah mulai untuk memasukkan pertimbangan kelestarian lingkungan ke dalam aktivitas membuat strategi-mereka.

Strategi keberlanjutan lingkungan memerlukan tindakan yang disengaja dan bersama untuk menjalankan usaha dengan cara yang melindungi sumber daya alam dan sistem pendukung ekologi, penjaga terhadap hasil yang pada kesannya akan membahayakan planet ini, dan alasannya yaitu itu berkelanjutan selama berabad-abad. Salah satu aspek kelestarian lingkungan yaitu menjaga penggunaan yang sumber daya alam bumi dalam tingkat yang dapat diisi ulang melalui para penggunaan praktek bisnis yang berkelanjutan.


Ada beberapa faktor yang mensugesti Eksposur Ekonomi, yakni :
a. Dimana perusahaan menjual produknya (dalam atau luar negeri).
b. Kompetitor utama perusahaan baik di dalam maupun di luar negeri
c. Kepekaan seruan barangterhadap harga (elastis atau inelastis).
d. Dimana perusahaan memproduksi produknya (di dalam atau di luar negeri).
e. Input perusahaan berasal dari dalam atau dari luar negeri
f. Bagaimana penetapan harga input atau outputnya (ditetapkan berdasarkan harga pasar dunia atau pasar domestik.
g. Inflasi dengan melihat prosentase perubahan IHK ( Indeks Harga Konsumen).

Hal lain yang dapat mensugesti economic exposure secara tidak pribadi yaitu espektasi terhadap faktor-faktor perekonomian antara lain tingkat bunga dan inflasi. Tingkat bunga akan naik dengan semakin melemahnya nilai suatu mata uang. Hal ini biasanya terjadi sebab untuk mengimbangi melemahnya nilai suatu mata uang, tingkat bunga pun dinaikan sehingga real value dari suatu investasi tidak berubah dan investor ajaib tidak melarikan dananya ke luar negeri. Hal ini sesuai dengan Fischer Effect, dimana tingkat bunga yang tinggi tentunya akan kuat negatif pada perusahaan yang memiliki hutang. Demikian pula dengan inflasi, berdasarkan teori Purchasing Power Parity, semakin melemahnya nilai suatu mata uang akan diikuti oleh kenaikan inflasi. Tingkat bunga akan naik dengan semakin melemahnya nilai suatu mata uang. Hal ini biasanya terjadi sebab untuk mengimbangi melemahnya nilai suatu mata uang, tingkat bunga pun dinaikan sehingga real value dari suatu investasi tidak berubah dan investor ajaib tidak melarikan dananya ke luar negeri. Hal ini sesuai dengan Fischer Effect, dimana tingkat bunga yang tinggi tentunya akan kuat negatif pada perusahaan yang memiliki hutang.


Pengertian Operating Exposure
Exposure valuta abnormal terdiri dari operating exposure dan transaction exposure dan translation expocure. Transaction exposure yaitu ukuran perubahan nilai dari kewajiban keuangan di masa lalu yang belum jatuh tempo hingga setelah adanya perubahan kurs. Kaprikornus transaction exposure terjadi pada arus kas perusahaan yang diakibatkan kontrak kewajiban yang telah dilakukan. Sedangkan operating exposure,disebut juga exposure economi, exposure kompetitif atau exposure strategis yaitu mengukur perubahan alam nilai sekarang perusahaan yang diakibatkan oleh setiap perubahan dalam arus kas operasional masa depan perusahaan yan disebabkan oleh perubahaan yang tidak dibutuhkan dalam nilai tukar. Perubahan nilai itu tergantung pada pengaruh perubahan nilai tukar terhadap volume penjualan, harga, dan biaya-biaya di masa depan.(Eiteman, 2010).

Dalam krisis ekonomi global sekarang ini, fluktuasi kurs antar mata uang abnormal menimbulkan peningkatan operating exposure. Karena operating exposure dapat mensugesti pendapatan dan biaya perusahaan di masa datang, maka suatu perusahaan membutuhkan perspektif jangka panjang, dengan anggapan bahwa operasi perusahaan akan berkelanjutan dalam lingkup kompetisi biaya dan harga yang dapat dipengaruhi oleh perubahan kurs antar mata uang asing.

Manajemen Proaktif Operating Exposure
Eksposur operasi dan transaksi dapat dikelola sebagian dengan mengadopsi kebijakan operasi atau pendanaan yang dapat mengimbangi eksposur mata uang abnormal yang diantisipasi. Operating Exposure dapat di kelola secara parsial dengan mengadopsi banyak sekali kebijakan operasi yang dapat mengurangi exposure (paparan). Enam kebijakan rpoaktif yang sering digunakan yaitu :
a. Menandingkan (matching) arus kas dari mata uang
Salah satu jalan untuk meniadakan eksposur panjang yang terus berlanjut yang diantisipasi perusahaan yaitu dengan menerima uang dalam mendominasi mata uang tersebut. Menandingkan (matching) yaitu perusahaan yang menghedge suatu arus kas masuk operasional dengan menciptakan arus kas keluar keuangan sehingga perusahaan tidak harus secara aktif mengelola exposure dengan banyak sekali instrument kontrak keuangan menyerupai kontrak forward.

b. Klausul Perjanjian Menyangkut Mata Uang: Pembagian Resiko
Metode alternative untuk mengelola eksposur arus kas jangka panjang antar perusahaan yaitu dengan melaksanakan pebagian resiko. Ini merupakan perjanjian kontraktual, yaitu antara pembeli dan penjual yang sepakat untuk mengembangkan atau memecah dampak pergerakan mata uang atas pembayaran di antara kedua belah pihak. Perjanjian ini dimaksudkan untuk mengurangi dampak volatilitas dan pergerakan kurs nilai tukar yang tidak dapat diprediksi bagi kedua belah pihak.
Berbagi risiko merupakan kesepakatan kontraktual di mana pembeli dan penjual oke untuk mengembangkan tatau memecah dampak pergerakan mata uang terhadap pembayaran yang terjadi di antara mereka. Bila kedua perusahaan itu berminat dalam kekerabatan jangka panjang yang didasarkan pada kualitas produk dan keandalan pemasok, dan bukan pada gejolak-gejolak sementara yang tidak dapat diramalkan, dapat disusun suatu kesepakatan kerja sama untuk menanggung beban administrasi risiko mata uang.

c. Pinjaman paralel atau Back-to-back atau parallel loan
Back-to-back atau parallel loan, terjadi ketika dua perusahaan di dua Negara berbeda mengatur untuk meminjam dalam mata uang satu sama lain selama periode waktu tertentu.
Dalam sumbangan back to back, juga disebut sebagai sumbangan paralel atau credit swap, terjadi ketika dua perusahaan bisnis di dua negara terpisah sepakat saling meminjam mata uang pihak lawannya selama suatu periode waktu tertentu. Pada tanggal termin yang disepakati mereka mengembalikan mata uang yang mereka pinjam. Operasi ini dilakukan diluar pasar valuta asing, meskipun kutipan spot dapat digunakan sebagai titik contoh untuk menentukan banyaknya dana yang akan di swap. Pinjaman back to back juga digunakan pada ketika terjadi pembatasan actual atau yang telah diantisipasi terhadap transfer dana investasi ked an dari salah satu negara.

d. Swap mata uang/Currency Swaps
Currency Swaps serupa dengan back-to-back loan, hanya saja tidak tersaji pada neraca perusahaan. Dalam currency swap, perusahaan dan sebuah swap dealer atau swap bank sepakat untuk menukarkan jumlah yang ekuivalen atas dua mata uang yang berbeda pada periode waktu tertentu.
Swap mata uang menyerupai dengan sumbangan back to back kecuali bahwa hal ini tidak tampak pada neraca perusahaan. Dalam suatu swap mata uang, sebuah perusahaan dan dealer swap atau bank swap oke untuk memepertukarkan suatu jumlah yang ekuivalen dari dua mata uang yang berlainan untuk suatu periode waktu tertentu.

e. Lead dan lag
Perusahaan dapat mengurangi baik eksposur operasi dan transaksi dengan mempercepat atau memperlambat waktu pembayaran yang harus dilakukan atau diterima dalam mata uang asing. Leads and lags intra perusahaan lebih mungkin untuk dilakukan karena perusahaan bekerjasama istimewa kemungkinan besar akan memiliki tujuan yang sama sebagai satu perusahaan terkonsolidasi. Sebaliknya Leads and lags antar perusahaan memerlukan preferensi waktu perusahaan lain yang independen terhadap perusahaan lain.

Melakukan lead yaitu membayar lebih awal, tujuannya yaitu membayar utang mata uang sebelum mata uang lemah itu turun nilainya. Melakukan lag yaitu membayar lebih lambat.

Melakukan lead dan lad dapat dilakukan di antara perusahaan terkait (intraperusahaan) atau antara perusahaan independen (antar perusahaan). Dengan asumsi bahwa pembayaran hasilnya harus dilakukan, melaksanakan lead, dan lag selalu menghasilkan perubahaan posisi kas dan utang dari salah satu perusahaan dengan akhir kebalikannya pada perusahaan yang lain.

f. Reinvoicing center
Reinvoicing center yaitu anak perusahaan korporat yang terpisahyang bertindak sebagi perantara antara perusahaan induk atau unit terkait dalam satu lokasi dan seluruh anak perusahaan luar negeri dalam suatu wilayah giografis. Ada tiga keuntungan mendasar dari penciptaan sebuah reinvoicing center yaitu (1) mengelola exposure pertukaran valuta asing, (2) menjamin nilai tukar untuk pesanan di masa depan, dan (3) mengelola arus kas intra-anak perusahaan.

g. Terdapat dua kendala fundamental yang menghalangi penggunaan back-to-back secara luas: sulit bagi perusahaan untuk menemukan mitra, yaitu pihak counterparty untuk jumlah mata uang dan waktu yang dikehendaki.

h. Timbul resiko bahwa salah satu pihak akan gagal untuk mengembalikan dana yang dipinjamkan pada waktu yang telah ditentukan – meskipun masing-masing pihak memiliki jaminan 100% (yang berdenominasi dalam mata uang yang berbeda).

Karakteristik Operating Exposure
Eksposur operasi yang juga dikenal sebagai eksposur ekonomi, eksposur kompetitif, dan terkadang eksposur strategis mengukur setiap perusahaan dalam nilai kini yang terjadi akhir perusahaan arus kas operasi masa depan, yan disebabkan oleh perubahan arus nilai tukar secara tak terduga. Mengukur eksposur operasi perusahaan memerlukan peramalan dan analisis atas seluruh eksposur transaksi masa depan perusahaan dan eksposur masa depan atas seluruh competitor dan competitor perusahaan di seluruh dunia.
Pengaruh eksposur operasi terdapat kesehatan janka panjang suatu bisnis terbilang jauh lebih penting, kalau dibandingkan dengan perubahan yang disebabkan oleh eksposur transaksi maupun eksposur translasi. Namun demikian, eksposur operasi tetap bersifat subjektif karena bergantung pada estimasi perubahan arus di masa depan selama periode waktu tertentu. Perencanaan terhadap eksposur operasi merupakan tanggungjawab administrasi sutuhnya karena tergantung pada interaksi antara taktik keuangan, pemasaran, pembelian dan produksi.

Manajemen Stratejik dan Operating Exposure
Tujuan administrasi eksposur operasi dan transaski yaitu untuk mengantisipasi dan mensugesti efek perubahan valuta abnormal yang tak terduga terhadap arus kas masa depan perusahaan, dan bukan sekedar berharap untuk kondisi terbaik. Untuk memenuhi tujuan ini, administrasi dapat melaksanakan diversifikasi basis operasi dan pendanaan perusahaan. selain itu, tujuan dari administrasi operating exposure yaitu mengantisipasi dan mensugesti pengaruh perubahan yang tak dibutuhkan dalam nilai tukar terhadap arus kas masa depan perusahaan, daripada sekedar mengharapkan yang terbaik. Untuk memenuhi tujuan ini, administrasi dapat

1. mengdiversifikasikan basis operasi dan
bila operasi suatu perusahaan terdiversifikasi secara internasional, administrasi telah diposisikan untuk mengenali disekuilibrium pada ketika terjadi dan untuk bereaksi secara kompetitif.

2. pembiayan perusahaan.
Bila sebuah perusahaan mendiversifikasikan sumber-sumber pembiayaan, perusahaan itu akan dipreposisikan untuk mengambil keuntungan dari banyak sekali penyimpangan temporer dari efek fisher internasional. Mendiversifikasi sumber pembiayaan, terlepas dari mata uang denominasi, dapat menurunkan biaya modal perusahaan dan meningkatkan ketersediaan modal untuk perusahaan tersebut.

Jika operasi sebuah perusahaan telah terdiversifikasi secara internasional, semenjak awal administrasi telah diposisikan untuk bisa mengakui disekuilibrium ketika terjadi dan bereaksi secara kompetitif.

Pendekatan Kontraktual: Lindung Nilai Terhadap Transaksi yang Tidak Dapat Dilindungi
Dalam kondisi pasar yang semakin mengglobal dan terkait satu sama lain menyerupai cukup umur ini, maka dalam beberapa kali kesempatan untuk melaksanakan hedging menjadi terbatas. Sebagai alternative, perusahaan dapat melaksanakan lindung nilai secara kontraktual. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengambil posisi opsi mata uang jangka panajng untuk mengimbangi potensi kerugian dari perubahan kurs nilai tukar dengan arah yang tidak dikehendaki. Selain itu, kemampuan untuk melaksanakan lindung nilai terhadap transaksi yang tidak dapat dilindungi bergantung pada kemampuan perusahaan:

  1. Untuk memprediksi arus kas masa depan
  2. Untuk memprediksi respon pesaing terhadap perubahan kurs nilai tukar


Transaction exposure valuta abnormal dapat dikelola dengan hedge kontraktual, operasional, dan kuangan. Sejumlah hegding kontaktual utama menggunakan pasar forward, pasar uang, future, dan opsi. Hedging operasional dan keuangan menggunakan perjanjian pembagian risiko, lead, dan lag dalam persyaratan pembayaran, swap, dan banyak sekali taktik lain.

Isitlah hedge alami merujuk pada mengoffset arus kas operasional yang timbul dalam menjalankan bisnis. Hedge keuangan merujuk baik pada mengoffset kewajiban utang atau beberapa derivative keuangan menyerupai swap tingkat bunga. Hedging harus dibedakan secara seksama menyerupai keuangan membedakan arus kas operasi dan pembiayaan.


Pendahuluan Translation Exposure
Translation exposure, atau disebut juga exposure akuntansi, terjadi karena laporan keuangan dari anak perusahaan diluar negeri yang dinyatakan dalam suatu mata uang asing, harus dinyatakan kembali dalam mata uang yang digunakan dalam laporan perusahaan induk untuk membuat laporan keuangan konsolidasi. Tujuan utama Translation exposure ialah mempersiapkan laporan konsolidasi, namun laporan keuangan yang sudah ditranslasikan itu juga digunakan oleh administrasi untuk mengkaji kinerja anak perusahaan di luar negeri.

Pengertian Translation Exposure
Eksposur translasi yang juga disebut sebagai accounting exposure, timbul karena laporan keuangan perusahaan anak di luar negeri – yang dinyatakan dalam mata uang gila – harus disajikan kembali dalam mata uang pelaporan perusahaan induk semoga perusahaan dapat menyusun laporan keuangan konsolidasi. Proses akuntansi untuk translasi mencakup perubahan (konversi) laporan keuangan perusahaan anak di luar negeri menjadi laoran keuangan yang berdenominasi rupiah.
Eksposur translasi juga merupakan potensi kenaikan atau penurunan kekayaan bersih dan laba bersih perusahaan induk, yang disebabkan oleh perubahan kurs nilai tukar semenjak tanggal terakhir dilakukannya translasi.

Metode Translasi
Ada dua metode dasar bagi translasi laporan keuangan anak perusahaan di luar negeri yang digunakan yaitu :
1. Metode nilai tukar ketika ini (current rate method)
Metode nilai tukar ketika ini merupakan metode yang paling lazim di dunia ketika ini. dengan metode ini, lini item pada laporan keuangan ditranslasikan menurut nilai tukar ketika ini dengan beberapa pengecualian. Lini item-item ini mencakup :
a. Aset dan kewajiban, seluruh aset/aktiva dan kewajiban ditranslasikan pada nilai tukar ketika ini, yakni nilai tukar yang berlaku pada tanggal neraca.
b. Item laporan laba rugi, seluruh item, termasuk penyusutan dan harga pokok penjualan ditranslasikan pada nilai tukar actual menurut tanggal ketika aneka macam pendapatan, beban, keuntungan dan kerugian terjadi atau pada suatu nilai tukar rata-rata tertimbang untuk periode itu.
c. Distribusi, dividen yang dibayarkan ditranslasikan pada nilai tukar yang berlaku pada ketika tanggal pembayaran.
d. Item ekuitas, akun saham biasa dan modal disetor ditranslasikan pada nilai tukar historis. Laba ditahan tamat tahun terdiri dari laba ditahan awal tahun, plus atau minus laba atau rugi untuk tahun tersebut.

2. Metode temporal (temporal method)
Dengan metode temporal, aset dan kewajiban tertentu ditranslasikan pada nilai tukar yang konsiste dengan waktu penciptaan item-item keuangan. Metode temporal mengasumsikan bahwa sejumalah lini item aset individual menyerupai persediaan dan peralatan pabrik bersih dinyatakan ulang secara terencana untuk mencerminkan nilai pasar. Lini item termasuk :
a. Aset moneter (terutama kas, sekuritas yang dapat diperdagangkan, piutang dagang, dan piutang jangka panjang) dan kewajiban moneter (terutama kewajiban lancar dan utang jangka panjang) ditranslasikan pada nilai tukar ketika ini.
b. Aset dan kewajiban nonmoneter (terutama persediaan dan aset tetap) ditranslasikan pada nilai tukar historis
c. Item laporan laba rugi ditranslasikan pada nilai tukar rata-rata untuk periode itu, kecuali untuk item-itemseperti penyusutan dan harga pokok penjualan yang secara pribadi terkait dengan aset dan kewajiban nonmoneter. Akun-akun ini ditranslasikan pada nilai tukar historis.
d. Distribusi, dividen yang dibayarkan ditranslasikan pada nilai tukar yang berlaku pada tanggal pembayaran.
e. Item ekuitas, saham biasa dan modal disetor ditranslasikan pada nilai tukar historis. Laba ditahan tamat tahun terdiri dari laba ditahan awal tahun asli ditambah (atau dikurangi) laba (atau rugi) untuk tahun berjalan, ditambah (atau dikurangi) ketidakseimbangan dari translasi.

Perbandingan Translation Exposure dan Operating Exposure
Eksposur operasi bergantung pada:
1. Depresiasi/apresiasi mata uang
Apabila mengalami depresiasi, maka cenderung menjadikan kerugian kurs
2. Peningkatan volume
Volume yang meningkat menghasilkan keuntungan bagi perusahaan
3. Peningkatan harga jual
Harga jual yang meningkat juga meningkatkan keuntungan perusahaan

Sebaliknya eksposur translasi, selain dipengaruhi oleh depresiasi/apresiasi kurs, juga bergantung pada metode yang digunakan dalam translasi. Selisih kurs yang timbul dalam metode kurs berjalan besar lengan berkuasa terhadap nilai ekuitas, bersifat akumulatif, sehingga tidak terlalu besar lengan berkuasa terhadap kinerja perusahaan.

Perbandingan ini dilihat dari konseptual antara Translation Exposure dengan operating exposure yaitu sebagai berikut :
Translation Exposure menganalisis masalah-masalah akuntansi yang timbul dari perusahaan yang beroperasi sebagai perusahaan multinasional. Dimana tujuan Tujuan utama Translation exposure ialah mempersiapkan laporan konsolidasi, namun laporan keuangan yang sudah ditranslasikan itu juga digunakan oleh administrasi untuk mengkaji kinerja anak perusahaan di luar negeri.

Operating exposure yaitu mengkaji wacana rentang waktu dan lintas aneka macam arus kas masa depan yang membentuk nilai dari perusahaan multinasiona. Operating exposuremengukur setiap perubahan dalam nilai sekarang sebuah perusahaan sebagai akhir dari aneka macam perubahan dalam arus kas oprasi masa depan yang disebabkan oleh perubahaan yang tak dibutuhkan dalam nilai tukar. Analisis Operating exposure mengakji dampak perubahan nilai tukar dalam beberapa bulan atau tahun mendatang terhadap operasi perusahaan itu sendiri maupun posiss kompotitif perusahaan terhadap perusahaan lain.

Berdasarkan penjelasan diatas maka Translation Exposure berbicara wacana aneka macam perubahan dalam ekuitas pemilik yang dilaporkan dalam laporan keuangan konsolidasi yang disebabkan oleh perubahan dalam nilai tukar, sedangkan Operating exposure berbicara wacana perubahan dalam arus kas masa depan yang dibutuhkan dalam nilai tukar.

Pengelolaan Translation Exposure
Translation Exposure merupakanpotensi bagi kenaikan atau penurunan dalam kekayaan bersih dan laba bersih perusahaan induk yang dilaporkan yang disebabkan oleh perubahaan dalam nilai tukar semenjak translasi terkahir. Secara prinsip, translasi sangat sederhana. Laporan keuangan mata uang gila harus dikonversikan menjadi mata uang yang digunakan dalam pelaporan perusahaan induk untuk tujuan konsolidasi. Bila digunakan nilai tukar yang sama untuk mengukur kembali setiap lini item pada masing-masing laporan (laporan laba rugi dan neraca), tentu tidak akan terjadi ketidakseimbangan yang ditimbulkan dari pengukuran kembali itu. Namun bila digunakan suatu nilai tukar yang berlainan untuk lini item yang berbeda pada masing-masing laporan, akan terjadi ketidakseimbangan.


Konsep penentuan kurs diawali dengan konsep Purchasing Power Parity (PPP), kemudian berkembang konsep dengan pendekatan neraca pembayaran (balance of payment theory ).

Konsep Purchasing Power Parity (PPP) merupakan teori yang paling banyak diterima dari semua teori penentuan nilai tukar, teori (PPP), menyatakan bahwa nilai tukar ekuilibrium jangka panjang ditentukan oleh rasio harga domestik secara relatif terhadap harga luar negeri, menyerupai berikut ini :
• PPP yaitu yang tertua dan paling banyak diikuti dari teori nilai tukar.
• Kebanyakan teori penentuan nilai tukar memiliki elemen PPP tertanam dalam kerangka kerja mereka.

Pendekatan neraca pembayaran (balance of payment theory) setelah paritas daya beli, pendekatan teoritis yang paling sering digunakan untuk penentuan nilai tukar mungkin yang melibatkan penawaran dan undangan untuk mata uang di pasar valuta asing. Nilai tukar ini mencerminkan transaksi berjalan dan transaksi rekening keuangan dicatat dalam neraca suatu neraca pembayaran, menyerupai berikut ini :
• Berpendapat bahwa nilai tukar ekuilibrium ditemukan dikala arus masuk bersih (outflow) dari valuta abnormal yang timbul dari kegiatan transaksi berjalan sesuai dengan arus keluar bersih (inflow) valuta abnormal yang timbul dari kegiatan finansial.
• Pendekatan neraca pembayaran terus menikmati tingkat luas banding sebagai neraca transaksi pembayaran yaitu salah satu yang paling sering ditangkap dan dilaporkan kegiatan ekonomi internasional.
• Kritik terhadap pendekatan neraca pembayaran timbul dari teori pementingan pada arus mata uang dan modal ketimbang saham uang atau aset keuangan.
• Saham relatif uang atau aset keuangan memainkan tugas dalam nilai tukar determin dalam teori ini, kelemahan dieksplorasi dalam pendekatan pasar moneter dan aset berikut.

Perkembangan konsep penentuan kurs valuta abnormal selanjutnya yaitu pendekatan moneter (monetary approach). Pendekatan moneter menekankan bahwa kurs valuta abnormal sebagai harga relatif dari dua jenis mata uang, ditentukan oleh keseimbangan undangan dan penawaran uang. Pendekatan moneter mempunyai dua anggapan pokok, yaitu berlakunya teori paritas daya beli dan adanya teori undangan uang yang stabil dari sejumlah variabel ekonomi agregate. Hal tersebut berarti model pendekatan moneter terhadap kurs valuta abnormal dapat ditentukan dengan berbagi model undangan uang dan model paritas daya beli.

Pendekatan moneter menyatakan bahwa kurs devisa sebagai harga relatif dari dua jenis mata uang, ditentukan oleh keseimbangan undangan dan penawaran uang. Pendekatan moneter pada dasarnya terdiri dari dua versi, yaitu versi harga fleksibel (fleksible price version) dan versi harga kaku (sticky price version). Versi harga kaku muncul akhir adanya kritik terhadap anggapan adanya fleksibilitas harga dalam versi harga fleksibel. Menurut versi ini, anggapan adanya kekakuan harga lebih realistis kalau menyangkut jangka waktu yang pendek. (Ronald MacDonald ; 1990). Versi harga kaku sering disebut pendekatan Keynesian sebab anggapan adanya variabel jumlah uang beredar yang endogen. Kedua anggapan tersebut tidak mengakui efektifitas mekanisme pasar dalam menyelesaikan ketidakseimbangan pasar uang yang terjadi dalam jangka pendek.

Pendekatan moneter juga mengasumsikan bahwa harga fleksibel dalam jangka pendek maupun jangka panjang, sehingga mekanisme transmisi berdampak secara langsung.

Pendekatan moneter menghilangkan sejumlah faktor, yang umumnya disepakati oleh para hebat mata pelajaran sama pentingnya untuk bertukar penentuan nilai, termasuk 1) kegagalan PPP untuk terus dalam jangka pendek dan menengah; 2) undangan uang muncul relatif stabil dari waktu ke waktu; dan 3) tingkat kegiatan ekonomi dan jumlah uang beredar muncul untuk menjadi saling bergantung, tidak mandiri. Akibatnya, kita tidak akan mengejar pendekatan moneter lebih lanjut.


Pendekatan ini mengasumsikan bahwa apakah orang abnormal bersedia untuk mengadakan klaim dalam bentuk moneter tergantung pada serangkaian luas pertimbangan investasi atau driver. Driver ini, menyerupai yang ditunjukkan pada Exhibit 10.1, dengan penjelasan yaitu sebagai berikut :
• Suku bunga riil relatif yaitu pertimbangan utama bagi investor di obligasi abnormal dan instrumen pasar uang jangka pendek.
• Pertumbuhan ekonomi dan profitabilitas merupakan penentu penting investasi ekuitas lintas batas di kedua sekuritas dan investasi abnormal langsung.
• Likuiditas pasar modal sangat penting untuk investor institusi asing. Investor lintas-perbatasan tidak hanya pada akomodasi membeli aset, tetapi juga untuk dapat menjual aset tersebut cepat untuk nilai pasar wajar.
• Infrastruktur ekonomi dan sosial.
• Keamanan politik ini sangat penting untuk kedua portofolio abnormal dan investor langsung. Prospek keselamatan politik biasanya tercermin dalam ums premi risiko politik untuk sekuritas suatu negara dan untuk tujuan mengevaluasi pribadi investasi abnormal pemerintah di negara itu.
• Spekulasi dapat menimbulkan krisis valuta abnormal atau membuat krisis yang buruk.


Meskipun anutan pada penentuan nilai tukar (kondisi paritas, pendekatan neraca pembayaran, dan pendekatan asset) membuat pemahaman nilai tukar tampaknya sederhana, yang jarang terjadi. Modal dan mata uang pasar besar dan cair mengikuti banyak prinsip yang diuraikan sejauh ini relatif baik dalam jangka menengah dan jangka panjang. Semakin kecil dan kurang likuid pasar, bagaimanapun, sering menunjukkan perilaku yang tampaknya bertentangan dengan teori. Masalahnya tidak terletak pada teori, tetapi dalam relevansi asumsi yang mendasari teori. Sebuah analisis dari krisis pasar berkembang menggambarkan tampak sejumlah kontradiksi.

Krisis Asia Juli 1997 dan jatuhnya peso Argentina pada tahun 2002 menunjukkan spektrum emerging market mengenai kegagalan ekonomi, masing-masing dengan penyebab yang kompleks sendiri dan pandangan yang tidak diketahui. Krisis ini juga menggambarkan problem yang berkembang terkait dengan pelarian modal dan spekulasi internasional jangka pendek dalam mata uang dan surat berharga.


Transaksi Exposure
Adalah mengukur perubahan nilai kewajiban keuangan yang luar biasa terjadi sebelum perubahan dalam nilai tukar tetapi tidak akan dilunasi hingga setelah nilai tukar berubah.

Paparan operasi
Adalah mengukur perubahan nilai sekarang dari perusahaan yang timbul dari perubahan yang dibutuhkan arus kas operasi masa depan perusahaan yang disebabkan oleh perubahan dalam nilai tukar.

Eksposur transaksi dan eksposur operasi ada karena perubahan yang tak terduga dalam arus kas masa depan. Perbedaan antara keduanya ialah bahwa paparan transaksi berkaitan dengan arus kas masa depan yang sudah dikontrak untuk sementara. Sedangkan paparan operasi berfokus pada dibutuhkan (belum dikontrak untuk) arus kas masa depan yang mungkin berubah karena perubahan nilai tukar telah mengubah daya saing internasional.


Translation Exposure
Adalah potensi perubahan akuntansi yang diturunkan ekuitas pemilik untuk terjadi karena kebutuhan untuk "menerjemahkan" laporan keuangan mata uang abnormal dari anak perusahaan abnormal ke dalam mata uang pelaporan tunggal untuk menyusun laporan keuangan konsolidasi di seluruh dunia.

Paparan pajak
Karena paparan pajak ditentukan oleh negara domisili masing-masing anak perusahaan, sebuah MNE perlu merencanakan kebijakan administrasi valuta abnormal untuk meminimalkan seluruh dunia setelah pajak tanggapan rugi kurs dan memaksimalkan keuntungan setelah pajak.


Eksposur transaksi muncul dari berikut ini :
• Membeli atau menjual kredit barang atau jasa ketika harga dinyatakan dalam mata uang asing.
• Meminjam atau meminjamkan dana ketika pembayaran harus dilakukan dalam mata uang asing.
• Menjadi pihak kontrak berjangka valuta gila unperformed.
• Jika tidak memperoleh aktiva atau kewajiban menyebabkan dalam mata uang asing.

Contoh yang paling umum dari eksposur transaksi muncul ketika suatu perusahaan memiliki piutang atau hutang dalam mata uang asing. Sebuah eksposur transaksi bergotong-royong dibuat pada ketika pertama penjual mengutip harga dalam mata uang gila untuk calon pembeli.


Seperti banyak pendekatan yang berbeda untuk administrasi eksposur ada alasannya ada perusahaan. Berbagai survei praktek administrasi risiko perusahaan dalam beberapa tahun terakhir di Amerika Serikat, Inggris, Finlandia, Australia, dan Jerman menyampaikan tidak ada konsensus yang konkret ada mengenai pendekatan yang terbaik.

Mengapa Akuntansi itu perlu?

Organisasi apapun yang mengelola uang dalam kegiatannya selalu saja harus membuat keputusan yang dipengaruhi oleh kondisi keuangannya, dan juga akan mensugesti kondisi keuangan organisasi. Keputusan yang demikian dikenal dengan istilah Keputusan Ekonomi.

Karena itulah para pengambil keputusan dan pihak-pihak berkepentingan memerlukan berita wacana kinerja ekonomi dan kondisi organisasi, yang dikenal dengan istilah Informasi Ekonomi. Maka tentu diharapkan kegiatan di bidang keuangan yang bertugas mengolah dokumen ekonomi sehingga mampu menghasilkan berita ekonomi yang memadai bagi para pengambil keputusan dan pihak-pihak yang berkepentingan.

Misalnya pada organisasi nirlaba laporan akuntansi dapat digunakan untuk :
1. Direktur Eksekutif memutuskan apakah akan merancang kegiatan gres atau menggeser program-program yang kurang efektif.
2. Manajer menggunakan untuk melaksanakan penganggaran.
3. Penanggungjawab organisasi (Board) memutuskan apakah akan merekomendasikan penggantian pengurus dan pelaksana.
4. Stakeholder mengetahui apakah kinerja organisasi memadai atau tidak.
5. Kantor Pajak mengetahui jumlah pembayaran pajak.

Kegiatan mengolah dokumen ekonomi menjadi berita ekonomi itulah yang kemudian dikenal sebagai Akuntansi.



1. Accounting Entity (Organisasi)
Yang menjadi fokus perhatian akuntansi ialah entity (organisasi) tertentu yang harus terang terpisah dari entity (organisasi) yang lain.
2. Going Concern (Kelangsungan hidup)
Dalam menyusun laporan akuntansi harus menganggap bahwa organisasi (entity) akan terus beroperasi di masa-masa akan datang, tidak ada asumsi bubar. Namun untuk organisasi nirlaba, going concern lebih terkait dengan kuatnya administrasi menggalang dana dan mengatur dana aktivitas untuk menjaga kelangsungan usaha, supaya tidak “Habis Donasi maka Organiasasi
Gulung Tikar.”
3. Measurement (Pengukuran)
Akuntansi ialah sebagai pengukuran sumber-sumber ekonomi (economic resources) dan kewajiban (liability) beserta perubahannya yang dimiliki organisasi.
4. Time Period (Periode Akuntansi)
Laporan keuangan menyajikan gosip untuk suatu waktu atau suatu periode tertentu.
5. Monetary Unit (Pengukuran dalam bentuk uang)
Transaski organisasi dilaporkan dalam ukuran moneter.
6. Accrual (Akrual)
Penentuan pendapatan dan biaya dari posisi harta dan kewajiban ditetapkan tanpa melihat apakah transaksi kas telah dilakukan atau tidak.
7. Exchange Price (Nilai Tukar)
Nilai yang terdapat dalam laporan keuangan umunya didasarkan pada harga pertukaran.
8. Approximation (Penaksiran)
Dalam akuntansi tidak dapat dihindarkan penaksiran-penaksiran nilai, harga, umur penyisihan, dan sebagainya.
9. Judgement (Pertimbangan)
Dalam menyusun laporan keuangan banyak diharapkan pertimbangan-pertimbangan berdasarkan keahlian yang dimiliki akuntan.
10. General Purpose (Tujuan Utama)
Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan yang dihasilkan akuntansi ditujukan buat pemakai secara umum, bukan pemakai khusus.
11. Interrelated Statement (Keterkaitan antar Laporan)
Laporan Posisi Keuangan, Laporan Aktivitas, dan Laporan Arus Kas mempunyai korelasi yang sangat bersahabat dan berkaitan satu sama lain.
12. Substance Over Form (Substansi mengungguli bentuk)
Akuntansi lebih menekankan kenyataan ekonomis suatu kejadian dari pada bukti legalnya.
13. Materiality (Materialitas)
Laporan keuangan hanya memuat gosip yang dianggap penting, dan dalam setiap pertimbangan yang dilakukannya tetap melihat signifikansinya. Batasan nilai yang signifikan.



1. Laporan Historis
Laporan keuangan pada hakikatnya mencatat isu yang sudah terjadi. Tidak mencatat transaksi yang akan terjadi.
2. Classification (Klasifikasi)
Informasi melalui laporan keuangan diklasifikasikan sesuai dengan kepentingan manajemen, board, dan pemakai lainnya.
3. Summarization (Ringkasan)
Transaksi dan kejadian-kejadian yang sama dalam organisasi dikelompokkan dan diikhtisarkan menurut metode tertentu sesuai contoh yang sudah mapan dalam akuntansi.
4. Measurement Basis (Dasar Pengukuran)
Dasar pengukuran dalam akuntansi ada bermacam-macam ibarat Cost Market, Locom (lower of cost on market), Realizable Value dan lain-lain.
5. Verifiability (Bisa Dibuktikan)
Setiap isu dalam laporan keuangan harus dapat dibuktikan melalui bukti-bukti yah syah.
6. Conservatism (Kehati-hatian)
Organisasi nirlaba biasanya memiliki kejadian-kejadian yang tidak pasti (uncertainty), dalam keadaan ibarat ini laporan keuangan memilih angka yang kurang menguntungkan. Laporan keuangan memilih dan menilai asset dan pendapatan yang paling minimal.


Adalah prinsip khusus, dasar, konvensi, peraturan, dan praktik yang diterapkan organisasi dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan. Kebijakan akuntansi dapat dibuat oleh administrasi dengan merujuk pada PSAK. Dengan membuat kebijakan akuntansi sendiri, maka administrasi dapat mengatur hal-hal khusus sesuai dengan aksara dan dinamika organisasi. Namun, jikalau administrasi tidak membuat kebijakan akuntansi maka dapat atau dianggap menggunakan kebijakan akuntansi yang diatur dalam PSAK. Kaprikornus baik organisasi nirlaba maupun organisasi bisnis, penyusunan dan penerapan kebijakan akuntansi hampir tidak berbeda.

Kebijakan akuntansi dibuat untuk memastikan bahawa laporan keuangan menyajikan gosip :
1. Relevan terhadap kebutuhan para pengguna laporan untuk pengambilan keputusan.
2. Dapat diandalkan, dengan pengertian :

  • Mencerminkan kejujuran penyajian hasil dan posisi keuangan organisasi, 
  • Menggambarkan substansi ekonomi dari suatu kejadian atau transaksi dan tidak semata-mata bentuk hukumnya,
  • Netral yakni bebas dari keberpihakan,
  • Mencerminkan kehati-hatian
  • Mencakup semua hal yang material



Dalam akuntansi, sistem pencatatan dan pengklasifikasian transaksi disebut system pembukuan berganda (double entry accounting system). Dinamakan berganda karena setiap transaksi dianalisis lalu dicatat pada dua sisi ialah sisi sebelah kiri (debit) dan sisi sebelah kanan (kredit). Model pencatatan ini dikenal dengan istilah persamaan akuntansi.

Sedangkan untuk mengklasifikasikan pos atau transaksi digunakan suatu skema yang berisi rekening atau perkiraan atau disebut daftar nomor isyarat akun.

Merujuk pada standar pelaporan keuangan organisasi nirlaba ialah PSAK no. 45 perkiraan-perkiraan diklasifikasikan menjadi perkiraan Laporan Posisi Keuangan, dan perkiraan Laporan Aktivitas.

Perkiraan Laporan Posisi Keuangan terdiri dari Aktiva, Kewajiban, dan Aktiva Bersih. Sedangkan perkiraan Laporan Aktivitas terdiri dari Penerimaan dan Biaya.

Model persamaan akuntansi secara mudah dipahami menyerupai berikut : kedua sisi kiri dan kanan, dari persamaan akuntansi jumlahnya harus selalu sama. Hal tersebut karena hak atas seluruh aktiva ada pada kreditur dan juga Donatur. Kita
perlu menggaris bawahi bahwa pengaruh suatu transaksi terhadap sisi kiri dan kanan harus seimbang, demikian juga hasil akhir/saldonya harus seimbang.



Setelah transaksi dicatat secara harian dan diikhtisarkan pada waktu-waktu tertentu (bulanan), system akuntansi harus menghasilkan gosip akuntansi yang akan didistribusikan kepada para pihak yang berkepentingan. Informasi akuntansi disebut juga laporan keuangan. Komponen laporan keuangan organisasi nirlaba menurut PSAK no. 45 ada 5 (lima) macam yaitu : Laporan Posisi Keuangan, Laporan Aktivitas, Laporan Perubahan Aktiva Bersih, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan.

Laporan Posisi Keuangan
Klasifikasi Aktiva dan Kewajiban
Informasi likuiditas diberikan dengan cara sebagai berikut :
1. Menyajikan aktiva berdasarkan urutan likuiditas, dan kewajiban berdasarkan tanggal jatuh tempo,
2. Mengelompokkan aktiva ke dalam lancar dan tidak lancar, dan kewajiban ke dalam jangka pendek dan jangka panjang, dan
3. Mengungkapkan gosip mengenai likuiditas aktiva atau ketika jatuh temponya kewajiban termasuk pembatasan penggunaan aktiva, pada catatan atas laporan keuangan.

Klasifikasi Aktiva Bersih Terikat atau Tidak Terikat
Laporan posisi keuangan manyajikan jumlah masing-masing kelompok aktiva bersih berdasarkan ada atau tidaknya pembatasan oleh penyumbang, yaitu :
1. Aktiva Bersih Terikat Permanen, adanya pembatasan sumber daya secara permanent dari penyumbang dalam pemanfaatan atau penggunaan oleh organisasi, tetapi organisasi diizinkan untuk menggunakan sebagian atau semua penghasilan atau manfaat ekonomi lainnya yang berasal dari sumber daya tersebut.

2. Aktiva Bersih Terikat Temporer, pembatasan penggunaan sumber daya oleh penyumbang yang menetapkan supaya sumber daya tersebut dipertahankan hingga dengan periode tertentu atau hingga dengan terpenuhinya keadaan tertentu.
3. Aktiva Bersih Tidak Terikat, sumber daya yang penggunaannya tidak dibatasi untuk tujuan tertentu oleh penyumbang.
4. Informasi mengenai sifat dan jumlah dari pembatasan permanent atau temporer diungkapkan dengan cara menyajikan jumlah tersebut dalam laporan keuangan atau dalam catatan atas laporan keuangan.

Berikut ilustrasi pola Laporan Posisi Keuangan
?????

Laporan Aktivitas
Tujuan dan focus laporan acara
Laporan acara difokuskan pada organisasi secara keseluruhan dan menyajikan perubahan jumlah aktiva bersih selama suatu periode. Perubahan aktiva bersih dalam laporan acara tercermin pada aktiva bersih dalam laporan posisi keuangan.

Perubahan kelompok aktiva bersih
Laporan acara menyajikan jumlah perubahan aktiva bersih terikat permanen, aktiva bersih terikat temporer, dan aktiva bersih tidak terikat dalam suatu periode.

Klasifikasi Pendapatan, Beban, Keuntungan dan Kerugian
Laporan acara menyajikan pendapatan sebagai penambahan aktiva bersih tidak terikat, kecuali kalau penggunaanya dibatasi oleh penyumbang, dan menyajikan beban sebagai pengurang aktiva bersih tidak terikat.

Sumbangan disajikan sebagai penambahan aktiva bersih tidak terikat, terikat permanent, atau terikat temporer, tergantung pada ada tidaknya pembatasan.

Dalam hal sumbangan terikat yang pembatasannya tidak berlaku lagi dalam periode yang sama, dapat disajikan sebagai sumbangan tidak terikat sepanjang disajikan secara konsisten dan diungkapkan sebagai kebijakan akuntansi.

Laporan acara menyajikan keuntungan dan kerugian yang diakui dari investasi dan aktiva lainnya (atau kewajiban) sebagai penambahan aktiva bersih tidak terikat, kecuali kalau penggunaannya dibatasi.

Informasi Pendapatan dan Beban
Laporan acara menyajikan jumlah pendapartan dan beban secara bruto. Namun demikian pendapatan investasi, dapat disajikan secara neto dengan syarat beban-beban terkait, menyerupai beban penitipan dan beban penasihat investasi, diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.

Informasi dukungan jasa
Laporan acara atau catatan atas laporan keuangan harus menyajikan gosip mengenai beban menurut pembagian terstruktur mengenai fungsional, menyerupai menurut kelompok acara jasa utama dan acara pendukung.

Laporan Arus Kas
Tujuan laporan arus kas
Tujuan utama laporan arus kas ialah menyajikan gosip mengenai penerimaan dan pengeluaran kas dalam suatu periode.

Klasifikasi Penerimaan dan Pengeluaran Kas
Laporan arus kas disajikan sesuai PSAK no. 2 ihwal laporan arus kas dengan aksesori berikut :
1. Aktivitas Pendanaan
a. Penerimaan kas dari penyumbang yang penggunaannya dibatasi untuk jangka panjang.
b. Penerimaan kas dari sumbangan dan penghasilan investasi yang penggunaannya dibatasi untuk pemerolehan, pembangunan dan pemeliharaan aktiva tetap, atau peningkatan dana abadi (endowment), dan
c. Bunga dan dividen yang dibatasi penggunaannya untuk jangka panjang.
2. Pengungkapan gosip mengenai acara investasi dan pendanaan nonkas : sumbangan berupa bangunan atau aktiva investasi.


Akuntansi terkait dengan penyediaan dan penyampaian berita sebagai bahasa bisnis (Suwardjono, 2010). Agar efektif, maka simbol, ungkapan dan makna dalam berita akuntansi harus disampaikan dengan tepat. Namun jarang sebuah kata dari bahasa tertentu memiliki padanan yang persis sama dalam bahasa berbeda alasannya proses memahami merupakan proses kognitif yang dipengaruhi oleh budaya, bahasa, organisasional dan kontraktual (Belkaoui, 1978; 1989). Evans (2004) menekankan bahwa sulit memisahkan banyak sekali faktor tersebut alasannya saling terkait erat. Menurut Abd-Elsalam dan Weetman (2003), familiarity terhadap sebuah regulasi dan bahasa turut menentukan keberhasilan penerapan International
Accounting Standards (IAS). Kendala bahasa terkait terjemahan IAS dalam bahasa Arab menjadikan banyak sekali penyimpangan dalam pengungkapan kondisi keuangan perusahaan.

Bahkan bahasa yang sama dengan budaya yang berbeda juga menjadikan perbedaan interpretasi terhadap konsep akuntansi tertentu (Bagranoff et al., 1994; Riahi-Belkaoui dan Picur, 1991). Dibutuhkan adanya sumbangan tegas dari institusi hukum dan politik di sebuah negara terhadap kewajiban pengungkapan berita yang layak dalam pelaporan keuangan
(Eichler, 2012).

IFRS, sebagai standar yang bersifat principle-based, membutuhkan professional judgement yang baik dari preparer, auditor dan regulator (ICAS, 2012; Moore, 2009; Hoesada, 2008). Menurut Uyar dan Güngörmüş (2013), kurangnya anutan dan keseragaman interprestasi menjadi tantangan utama dalam konvergensi IFRS.


DiMaggio dan Powell (1983) mengajukan teori sosiologi yang dikenal sebagai institutional theory yang telah banyak diadopsi di bidang akuntansi (Lounsbury, 2008). Aktor, tindakan sosial dan bentuk organisasi bertransformasi mengikuti perkembangan lingkungan institusionalnya. Institusi yaitu tatanan sosial yang memiliki elemen-elemen kognitif, normatif
dan regulatif, dan membentuk aturan mainnya sendiri. Institusi dapat membentuk perkembangan organisasi melalui aktor-aktor organisasional (melalui sosialisasi, pembentukan identitas dan sanksi).

Albu et al. (2013) menyatakan bahwa IFRS harus dikembangkan dalam konteks lokal dengan mengadopsi makna spesifik dalam konteks tersebut (lihat gambar 1). Pemaknaan lokal tersebut merupakan proses yang bersifat politis terkait kekuasaan dan legitimasi. Artinya, konteks lokal terdiri dari aneka macam stakeholders yang memiliki sumber daya, kekuasaan, dan
kepentingannya masing-masing. Mereka berupaya mendapatkan legitimasi dalam kapasitas kekuasaannya masing-masing sehingga mensugesti bagaimana IFRS “diterjemahkan” dan diimplementasikan menjadi praktek lokal-spesifik.

Oliver (1991) menyatakan ada lima tipe respons organisasional terhadap proses institusional, yaitu (mulai dari penerimaan yang bersifat pasif hingga melaksanakan resistensi aktif): patuh, kompromi, penghindaran, perlawanan, dan manipulasi. Patuh yaitu respons organisasional yang mendapatkan dan melaksanakan aturan main secara penuh/apa adanya.

Kompromi yaitu bentuk penerimaan yang lebih rendah disertai dengan negosiasi dengan konstituen eksternal untuk memodifikasi aturan main dan mengakomodasi kepentingan organisasinya. Penghindaran yaitu bentuk resistensi organisasional yang melibatkan taktik-taktik mencari celah untuk keluar dari aturan main institusional yang hendak diterapkan konsituen eksternal. Perlawanan yaitu respons organisasional yang menentang tekanan institusional melalui aktivitas aktif dan terbuka dalam melawan konstituen eksternalnya.

Resistensi yang paling aktif yaitu manipulasi di mana organisasi mengkooptasi konstituen institusionalnya, membentuk aneka macam nilai dan kriteria dan/atau mengendalikan tekanan institusional tersebut.

Albu et al. (2013) menggunakan kerangka ini untuk menjelaskan bagaimana respons dari aneka macam pemain drama dalam menyikapi adopsi IFRS di Romania. Menurut mereka, implementasi IFRS yaitu proses yang kompleks dan memerlukan analisis kekuasaan, kepentingan dan tekanan institusional pada tingkatan organisasi dan lokal/institusional. Dengan mengkaji konteks institusional dan organisasional, mekanisme proses adopsi dan tipe-tipe respons oleh aneka macam organisasi, dapat dijelaskan dalam sebuah konteks lokal.


Secara garis besar, teori akuntansi kritisini mengkritik bagaimana tugas akuntansi didalam masyarakat. Karena menurut para peneliti akuntansi kritis, ketika ini akuntansi hanya memperlihatkan manfaat kepada pihak-pihak yang memiliki modal
(kekayaan) dan kekuatan. Akuntansi juga hanya memperlihatkan isu kepada pihak-pihak tertentu, dimana pihak-pihak ini merupakan pihak-pihak elit (Deegan, 2000).

Menurut Sawarjuwono (2005), critical accounting study yaitu suatu pendekatan ilmu pengetahuan akuntansi yang menitikberatkan tugas insan sebagai pelaku akuntansi dengan cara / mengakomodasi seluruh kebiasaan / kenyataan sosial yang melingkupi dan mensugesti akuntansi itu sendiri. Secara lebih spesifik, studi ini melihat praktik akuntansi sebagai suatu ilmu pengetahuan dalam hubungannya dengan insan pelaku akuntansi (organisasi)dan faktor-faktor
yang memengaruhi akuntansi, misalnya keadaan ekonomi, politik, sosial, budaya, norma-norma, dan segala peraturan yang ada, baik pemerintah maupun organisasi profesi akuntan.


Salah satu sudut pandang critical accounting study yaitu tugas insan dalam memengaruhi proses penciptaan, pemilihan, penetapan, dan pengantian penyempurnaan akuntansi (Sawarjuwono, 2005). Proses ini dapat terjadi bila terdapat suatu interaksi sosial. Oleh alasannya itu, Jurgen Habermas, sosiolog asal Jerman, menjelaskan proses interaksi sosial dalam teori agresi komunikatif (The Theory of Communicative Action).

Dalam teori ini, menurut Habermas, interaksi sosial dapat terjadi melalui dua cara, yaitu lifeworld dan system mechanism. Lifeworld dapat disederhanakan menjadi acara suatu grup sosial (masyarakat) yang terkoordinasi karena adanya proses harmonisasi, karena adanya kesamaan tujuan, harapan, keinginan, serta tindakan lain yang selaras. Sedangkan interaksi sosial satunya, yaitu system mechanism, terjadi karena adanya pengaruh sistem kehidupan sosisal yang terstruktur dalam masyarakat. Interaksi sosial yang dipengaruhi mekanisme suatu sistem mampu terjadi melalui peraturan, norma-norma so-sial, janji sosial, dan sebagainya.Proses sosial ini masih dipengaruhi pula oleh steering media. Ada dua steering media yang sangat besar lengan berkuasa dalam masyarakat, yaitu media money dan media power.


Akuntansi yaitu seperangkat pengetahuan yang mempelajari perekayasaan penyediaan jasa berupa berita keuangan kuantitatif unit-unit organisasi dalam suatu lingkungan negara tertentu dan cara penyampaian (pelaporan) berita
tersebut kepada pihak yang berkepentingan untuk dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan ekonomik (Suwardjono, 2005).

Menurut Bodnar dan Hopwood (2004: 1), sistem berita akuntansi yaitu kumpulan sumber daya, ibarat insan dan peralatan, yang dirancang untuk mengubah data keuangan dan data lainnya menjadi berita yang dikomunikasikan
kepada aneka macam pihak pengambil keputusan. Menurut Wilkinson (2000: 27), sistem berita akuntansi dalam melakukan acara memerlukan elemen yang spesifik yang bervariasi tergantung pada tingkat otomatisasi sistem berita akuntansi
tersebut. Menurut Hall (2001: 10), elemen model umum sistem berita akuntansi meliputi pengguna akhir, sumber data, pengumpulan data, pemrosesan data, administrasi database, penghasil informasi, dan umpan balik.

Auditing yaitu sebuah proses sistematis yang dilakukan oleh seseorang yang memiliki kompetensi dan bersikap independen mengenai perolehan dan penilaian atas bukti secara objektif. Kegiatan ini dilakukan dengan pengumpulan dan penilaian atas bukti-bukti berita yang dapat dikuantifikasikan dan terkait pada suatu entitas ekonomi tertentu berkenaan dengan pernyataan mengenai tindakan-tindakan dan kejadian-kejadian ekonomi.

Tujuan kegiatan auditing ini yaitu menentukan tingkat kesesuaian antara pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan serta untuk mengkomunikasikan hasil-hasilnya kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

Pelaksanaan audit yang dilakukan pada perusahaan yang belum menggunakan sistem komputer sebagai alat bantu utama pengolahan data disebut dengan istilah auditing konvensional. Sebaliknya, untuk perusahaan yang unsur utama pengolahan datanya telah menggunakan komputer disebut dengan audit PDE atau EDP audit.


Perkembangan teknologi isu yang pesat menjadikan perubahan yang sangat signifikan terhadap akuntansi. Perkembangan akuntansi berdasar kemajuan teknologi terjadi dalam tiga babak, yaitu masa bercocok tanam, masa industri,
dan masa informasi. Hal ini dinyatakan oleh Alvin Toffler dalam bukunya yang berjudul The Third Wave (Robert, 1992).
Tonggak sejarah akuntansi dimulai semenjak tahun 1494, yaitu ketika Luca Pacioli memperkenalkan sistem doble entry book keeping. Akan tetapi, praktik akuntansi sesungguhnya sudah ada semenjak zaman sebelum itu. Alvin Toffler dalam bukunya The Third Wave menyatakan bahwa pada tahun 8000 SM yang dinyatakan sebagai masa bercocok tanam orang sudah mengenal teknologi, informasi, dan akuntansi.

Pada masa bercocok tanam paradigma terhadap penciptaan kemakmuran dilakukan dengan mengeksploitasi alam. Orang belum mengenal teknik untuk mengubah materi baku menjadi produk. Teknologi pada masa itu masih bersifat fisik sehingga teknologi isu masih tertulis dan dikembangkan untuk membuat catatan akuntansi. Pada masa itu teknologi akuntansi masih sangat sederhana. Karena lingkungan masih sangat statis dan dapat diprediksi dengan mudah, maka sistem single entry book keeping sudah dianggap cukup. Dengan sistem ini orang hanya memerlukan isu mengenai berapa aset dan utangnya pada suatu ketika tertentu. Orang belum berpikir mengenai berapa perubahan kekayaannya dan apa penyebab perubahan tersebut.

Tahun 1650 hingga dengan 1955 dinyatakan oleh Alvin Toffler sebagai masa industri. Era ini dimulai dengan terjadinya revolusi industri, yaitu semenjak ditemukannya mesin-mesin industri. Tenaga kerja insan di dalam pabrik mulai diganti dengan mesin. Kantong-kantong industri mulai bermunculan dan pertukaran dengan uang semakin berkembang.

Pada masa ini teknologi akuntansi dengan single entry book keeping sudah tidak memadai dalam penyediaan isu akuntansi. Orang mulai memerlukan isu mengenai berapa pendapatan yang diperolehnya selama suatu periode tertentu dan berapa perubahan kekayaan yang dimiliki. Pada masa ini sistem doble entry book keeping mulai diperkenalkan oleh Luca Pacioli meskipun bukan ia penemu sistem ini. Karena kebutuhan insan akan isu semakin kompleks, maka sistem doble entry book keeping mengalami perkembangan. Mulai dari teknik pembukuan hingga dengan metode akuntansi yang kompleks menyerupai akuntansi untuk inflasi, dana pensiun, leasing, dan lain-lain (Belkaoui, 2000). Pada masa ini sistem
isu akuntansi di dalam upaya untuk menyediakan informasi, baik kepada pihak ekstern maupun intern masih dilakukan secara manual hanya dengan pinjaman mesin hitung ataupun kalkultor.

Era isu dimulai dengan ditemukannya komputer pada tahun 1955. Pada masa ini teknologi isu sudah menggunakan komputer dan pemrosesan isu menjadi lebih cepat, pemrosesan dan penyimpanan isu menjadi lebih murah, dan tidak banyak memakan daerah dan waktu.

Salah satu bidang akuntansi yang banyak dipengaruhi oleh perkembangan TI ialah SIA. Pada dasarnya siklus akuntansi pada SIA berbasis komputer sama dengan SIA berbasis manual, artinya kegiatan yang harus dilakukan untuk menghasilkan suatu laporan keuangan tidak bertambah ataupun tidak ada yang dihapus. SIA berbasis komputer hanya mengubah abjad dari suatu aktivitas.

Perubahan proses akuntansi akan menghipnotis proses audit alasannya ialah audit merupakan suatu bidang praktik yang menggunakan laporan keuangan (produk akuntansi) sebagai objeknya. Praktik auditing bertujuan untuk memperlihatkan opini terhadap kewajaran penyajian laporan keuangan yang dihasilkan oleh SIA. Dengan adanya kemajuan yang telah dicapai dalam bidang akuntansi yang menyangkut SIA berbasis komputer dalam menghasilkan laporan keuangan, maka praktik auditing akan terkena imbasnya. Perkembangan TI juga menghipnotis perkembangan proses audit.


Definisi
Laporan keuangan pemerintah kawasan itu sendiri ialah gambaran mengenai kondisi dan kinerja keuangan entitas tersebut. Salah satu pengguna laporan keuangan pemerintah kawasan ialah pemerintah pusat. Pemerintah pusat berkepentingan dengan laporan keuangan pemerintah kawasan alasannya ialah pemerintah pusat telah menyerahkan sumber daya keuangan kepada kawasan dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah.

Komponen LKPD
Komponen dari Laporan Keuangan Pemerintah Daerah ialah sebagai berikut :
1. Laporan Realisasi APBD (LRA)
2. Neraca
3. Laporan Arus Kas (LAK)
4. Catatan Atas Laporan Keuangan (komite standar akuntasi pemerintah pusat dan daerah).
5. Selain empat bentuk unsur laporan keuangan yang dikemukakan di atas, masing-masing kawasan diharuskan memberikan info yang berkaitan dengan keuangan daerah, yaitu laporan keuangan tubuh usaha milik kawasan dan data yang berkaitan dengan kebutuhan dan potensi ekonomi daerah.

Pengguna LKPD
1. Pemerintahan kawasan (internal)
2. Pemerintahan kawasan (eksternal) seperti:
• DPRD
• Badan pengawas keuangan
• Investor, kreditur, dan donator
• Analis ekonomi dan pemerhati pemda
• Pemerintahan provinsi
• Pemerintah pusat
• Masyarakat
• SA-PPKD sebagai pengguna anggaran (entitas akuntansi) yang akan menghasilkan laporan keuangan PPKD yang terdiri dari LRA PPKD, Neraca PPKD, dan CaLK PPKD.
• SA-Konsolidator sebagai wakil pemda (entitas pelaporan) yang akan mencatat transaksi resiprokal antara SKPD dan PPKD (selaku BUD) dan melaksanakan proses konsolidasi lapkeu (lapkeu dari seluruh SKPD dan PPKD menjadi lapkeu pemda yang terdiri dari Laporan Realisai APBD (LRA), Neraca Pemda, LAK, dan CaLK Pemda).

Sistem akuntansi pemerintah daerah
Akuntansi Keuangan Pemerintahan sekarang memasuki Era Desentralisasi, maka pelaksanaan akuntansi pemerintahan itu ada di daerah-daerah (Provinsi ataupun Kabupaten), kemudian daerah-daerah tersebut memberikan laporannya ke Pemerintah Pusat. Oleh pemerintah pusat dibuatkan menjadi Laporan Konsolidasi yang merupakan Laporan Keuangan Pemerintah RI.
Akuntansi keuangan kawasan ialah suatu sistem info pengidentifikasian, pencatatan, pengklasifikasian, mengikhtisarkan dan mengkomunikasikan aktivitas suatu kawasan berupa pelaporan untuk pengambilan keputusan.

Akuntansi keuangan kawasan terdiri atas:
Akuntansi keuangan pemerintahan Provinsi,
Akuntansi keuangan pemerintahan Kabupaten.
Untuk perlakuan akuntansi keuangan kawasan penyusunannya harus mengikuti PSAP yang telah dikeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 tanggal 13 juni 2005, yaitu PSAP Nomor 1 hingga dengan Nomor 11, dimana hasil proses akuntansinya adalah:
Neraca
Laporan Realisasi Anggaran
Laporan Arus Kas
Catatan Atas Laporan Keuangan
Tiap-tiap kawasan merupakan satu entitas-entitas yang akan membuat laporan keuangannya dan akan diserahkan ke Pemerintah Pusat. Pemerintah pusat yang juga sebagai suatu entitas akan menggabungkan laporan keuangan daerah-daerah tersebut kemudian membuat laporan keuangan Negara RI yang telah dikonsolidasikan sesuai dengan PSAP Nomor 11.

Akuntansi PPKD ialah sebuah entitas akuntansi yang dijalankan oleh fungsi akuntansi di SKPKD, yang mencatat transaksi-transaksi yang dilakukan oleh SKPKD dalam kapasitas sebagai pemda. Sistem akuntansi PPKD ini meliputi:
1. Akuntansi Pendapatan PPKD
Akuntansi pendapatan PPKD ialah langkah-langkah teknis yang harus dilakukan dalam perlakuan akuntansi untuk pendapatan pada level pemda menyerupai Dana Perimbangan. Dokumen sumber untuk penjurnalannya ialah Laporan Posisi Kas Harian yang dibuat oleh BUD. Dari Laporan Posisi Kas Harian tersebut, PPKD dapat mengidentifikasi penerimaan kas yang berasal dari dana perimbangan.

2. Akuntansi Belanja PPKD
Akuntansi Belanja PPKD ialah langkah-langkah teknis yang harus dilakukan dalam perlakuan akuntansi untuk belanja bunga, subsidi, hibah, pinjaman sosial, belanja bagi hasil, pinjaman keuangan, dan belanja tidak terduga.

3. Akuntansi Pembiayaan PPKD
Pembiayaan kawasan meliputi semua transaksi keuangan untuk menutup defisit atau memanfaatkan surplus. Jika APBD mengalami defisit, pemerintah dapat menganggarkan penerimaan- pembiayaan, di antaranya dapat bersumber dari sisa lebih perhitungan anggaran (SiLPA) tahun anggaran sebelumnya, pencairan dana cadangan, hasil penjualan kekaya-an kawasan yang dipisahkan, penerimaan pinjaman, dan penerimaan kembali pemberian pinjaman atau penerimaan piutang.

4. Akuntansi Aset PPKD
Prosedur akuntansi aset pada PPKD merupakan pencatatan atas pengukuhan aset yang muncul dari transaksi pembiayaan yang dilakukan oleh pemda, misalnya peng- akuan atas Investasi Jangka Panjang dan Dana Cadangan. PPKD akan mencatat transaksi perolehan maupun pelepasan aset ini dalam jurnal umum berdasarkan bukti memorial. Bukti memorial dibuat oleh PPKD sesuai dengan bukti transaksi yang ada

5. Akuntansi Utang PPKD
Seperti halnya aset, utang atau kewajiban pemda muncul sebagai akhir dari transaksi pembiayaan yang dilakukan oleh pemda. Prosedur akuntansi utang PPKD merupakan pencatatan atas pengukuhan utang jangka panjang yang muncul dari transaksi penerimaan pembiayaan serta pelunasan/pembayaran utang (pengeluaran pembiayaan).

6. Akuntansi Selain Kas PPKD Prosedur akuntansi selain kas pada PKPD meliputi:
a. Koreksi kesalahan pencatatan
Merupakan koreksi terhadap kesalahan dalam membuat jurnal dan telah dipindahkan ke buku besar
b. Pengakuan aset, utang, dan ekuitas
c. Jurnal terkait transaksi yang bersifat accrual dan prepayment
Merupakan jurnal yang dilakukan dikarenakan adanya transaksi yang sudah di- lakukan PPKD namun pengeluaran kas belum dilakukan (accrual) atau terjadi transaksi pengeluaran kas untuk belanja di masa yang akan datang (prepayment).

Kerangka umum sistem akuntansi pemerintah daerah
1. Satuan kerja menunjukkan dokumen-dokumen sumber (ds) menyerupai surat perintah membayar uang (spmu) dan surat tanda setoran (sts) dari transaksi keuangannya kepada unit keuangan pemerintah daerah.
2. Unit pembukuan dan unit perhitungan melakuan pembukuan bulanan (ds) tersebut dengan menggunakan komputer akuntansi (komputer yang telah disiapkan untuk keperluan akuntansi) termasuk perangkat lunak (software) akuntansi.
3. Dari proses akuntansi tersebut dihasilkan jurnal yang sekaligus diposting ke dalam buku besar dan buku pembantu secara otomatis untuk setiap satuan kerja.
• Bila dokumen di atas telah di verifikasi dan benar maka dilanjutkan dengan proses komputer untuk pembuatan laporan pertanggungjawaban (lpj).
• Lpj dikirimkan kepada kepala kawasan sebagai pertanggungjawaban satuan kerja atas pelaksanaan anggaran, satu copy dikirim kepada satuan kerja yang bersangkutan untuk kebutuhan pertanggungjawaban dan manajemen. Satu copy untuk arsip unit perhitungan.
• Lpj konsolidasi juga harus diberikan kepada kepala kawasan semoga dapat mengetahui keseluruhan realisasi apbd pada suatu periode.

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.