Inilah Fungsi Penting Jurnal Pembalik dalam Proses Penyusunan Laporan Keuangan yang Mungkin belum Anda Ketahui
Apa manfaat dan fungsi jurnal pembalik dalam penyusunan laporan keuangan perusahaan?
Analisis dan pemutakhiran akun-akun pada akhir periode sebelum Laporan Keuangan disiapkan disebut proses penyesuaian (adjusting process).
Ayat jurnal yang memutakhirkan saldo akun pada akhir periode akuntansi disebut ayat jurnal penyesuaian (adjusting entries).
Seluruh ayat jurnal penyesuaian mempengaruhi paling tidak satu akun Laba Rugi dan satu akun neraca.
Jadi, ayat jurnal penyesuaian akan selalu melibatkan akun pendapatan atau beban dan akun aset atau kewajiban.
Beberapa ayat jurnal penyesuaian yang dicatat pada akhir periode akuntansi akan memiliki pengaruh penting pada transaksi-transaksi rutin yang muncul pada periode berikutnya.
Contoh sederhana adalah gaji utang pada karyawan yang dicatat sebagai akruan gaji pada akhir periode.
Jika sebelumnya telah terdapat jurnal penyesuaian untuk mencatat akruan beban gaji, maka pembayaran beban gaji pertama pada periode berikutnya akan mencakup beban akruan ini.
Tanpa adanya penyisihan khusus, Utang Gaji harus didebit sejumlah besar terutang pada periode sebelumnya, dan Beban Gaji harus didebit sebesar jumlah gaji yang mewakili beban untuk periode berikutnya.
( Baca juga : Cara Membuat Jurnal Penyesuaian Persediaan Barang Dagang )
Tapi terdapat ayat JURNAL PEMBALIK atau jurnal balik yang dapat digunakan untuk menyederhanakan analisis dan mencatat pembayaran gaji pertama pada periode tersebut.
Sesuai dengan persyaratannya, pengertian ayat jurnal pembalik adalah kebalikan dari ayat jurnal penyesuaian terkait.
Jumlah dan akun yang memerlukan jurnal pembalik sama dengan dalam ayat jurnal penyesuaian. Sedangkan posisi debit dan kreditnya BERKEBALIKAN.
Contoh dan Cara Menyusun Jurnal Pembalik
Untuk menggambarkan penggunaan jurnal pembalik dalam praktek nyata di dunia usaha, maka kita akan menberikan contoh jurnal pembalik perusahaan jasa, seperti berikut ini:
Pak Andre memiliki usaha IT Consulting yang sudah berjalan 2 tahun. Pak Andre memiliki karyawan tetap dan freelance.
Gaji karyawan tetap sebesar Rp 2.125.000 dan diberikan setiap tanggal 01,
Transaksi ini dicatat dengan ayat jurnal seperti di bawah ini :
(D) Beban Gaji = 2.125.000
(K) Kas = 2.125.000
(K) Kas = 2.125.000
Sedangkan karyawan freelance diberikan gaji setiap Jum’at kedua dan keempat untuk periode dua mingguan yang berakhir pada hari Jum’at.
Pada tanggal 13 Oktober2017, Pak Andre membayar resepsionis paruh waktu sebesar Rp 950.000 untuk gaji selama dua minggu.
Atas transaksi ini dilakukan pencatatan ayat jurnal sebagai berikut:
(D) Beban Gaji = 950.000
(K) Kas = 950.000
(K) Kas = 950.000
Kemudian pada tanggal 27 Oktober2017, Pak Andre membayar kembali resepsionis paruh waktu sebesar Rp 1.200.000 untuk gaji selama dua minggu.
Ayat jurnal untuk mencatat transaksi di atas adalah seperti berikut ini :
(D) Beban Gaji = 1.200.000
(K) Kas = 1.200.000
(K) Kas = 1.200.000
Pencatatan Utang Biaya – Gaji Terutang
Untuk dipahami bahwa beban gaji bisa diakumulasi per jam dan per hari. Namun pembayarannya mungkin dilakukan secara mingguan, dua mingguan, atau bulanan.
Sebagaimana yang dilakukan Pak Andre yang memberikan gaji untuk pegawai paruh waktunya setiap dua mingguan.
Jumlah beban gaji yang terjadi, namun masih terutang di akhir periode seperti diilustrasikan pada gambar di atas, merupakan beban sekaligus kewajiban.
Jika hari terakhir dari periode pembayaran gaji bukan merupakan hari terakhir periode akuntansi, beban gaji yang terjadi dan kewajiban terkait harus dicatat menggunakan ayat jurnal PENYESUAIAN.
Ayat jurnal penyesuaian ini perlu dibuat agar beban dicatat denga tepat, yaitu pada periode terjadinya.
Perhatikan contoh berikut ini:
Seperti pada contoh studi kasus perusahaan Pak Andre, maka pada akhir Oktober 2017, utang gaji yang harus dicatat Pak Andre adalah Rp 250.000.
Jumlah ini adalah beban tambahan di bulan Oktober 2017 dan didebit pada akun beban gaji.
Jumlah ini juga merupakan kewajiban pada tanggal 31 Oktober 2017 dan dikredit pada Utang Gaji.
Ayat jurnal penyesuaian untuk mencatat transaksi tanggal 31 Oktober 2017 adalah sebagai berikut :
(D) Beban Gaji = 250.000
(K) Utang Gaji = 250.000
(K) Utang Gaji = 250.000
Setelah ayat jurnal penyesuaian diposting, Beban Gaji akan memiliki saldo debit sebesar Rp 4.525.000 (Rp 4.275.000 + Rp 250.000 ).
Dan utang gaji yang terutang per 31 Oktober 2017 akan memiliki saldo kredit sebesar Rp. 250.000, seperti ditunjukkan seperti di bawah ini :
Perhatikan bahwa Pak Andre membayar gaji pada tanggal 1 Oktober 2017 sebesar Rp 2.125.000, dan Rp. 950.000 pada tanggal 13 Oktober 2017, serta Rp 1.200.000 pada tanggal 27 Oktober 2017.
Pembayaran ini meliputi pembayaran gaji untuk karyawan tetap periode September 2017, pembayaran gaji periode dua mingguan yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut.
Gaji Rp 250.000 telah terjadi untuk hari Senin dan Selasa 30 dan 31 Oktober 2017 yang dicatat sebagai utang pada tanggal 31 Oktober 2017.
Gaji yang dibayarkan pada tanggal 10 November 2017 berjumlah Rp. 1.275.000, termasuk beban gaji yang terutang pada tanggal 31 Oktober 2017.
Pembayaran gaji tanggal 10 November 2017 dicatat dengan mendebit Beban Gaji Rp 1.025.000, mendebit Utang Gaji Rp 250.000, dan mengkredit Kas Rp 1.275.000 seperti ditunjukkan berikut ini :
(D) Utang Gaji = 250.000
(D) Beban Gaji = 1.025.000
(K) Kas = 1.275.000
(D) Beban Gaji = 1.025.000
(K) Kas = 1.275.000
Bagaimana bila tidak menggunakan ayat jurnal pembalik?
Setelah seluruh proses penutupan diselesaikan, Beban Gaji akan memiliki saldo nol dan siap untuk mencatat transaksi pada periode berikutnya. Sebaliknya, Utang Gaji memiliki saldo sebesar Rp 250.000.
Tanpa ayat jurnal pembalik, diperlukan pencatatan sebesar Rp 1.275.000 untuk pembayaran gaji pada tanggal 10 November 2017 sebagai berikut :
(D) Utang Gaji = 250.000
(D) Beban Gaji = 1.025.000
(K) Kas = 1.275.000
(D) Beban Gaji = 1.025.000
(K) Kas = 1.275.000
Karyawan yang mencatat ayat jurnal pada tanggal 10 November 2017 harus mengacu pada ayat jurnal penyesuaian periode sebelumnya untuk menentukan jumlah yang akan didebit ke Utang Gaji dan Beban Gaji.
Kemungkinan besar akan terjadi kesalahan pencatatan karena gaji pada tanggal 10 November 2017 tidak dicatat dengan cara biasanya.
Kemungkinan kesalahan ini dapat dikurangi dengan mencatat ayat jurnal pembalik pada hari pertama periode fiskal.
Sebagai contoh, ayat jurnal pembalik untuk mencatat akruan beban gaji adalah sebagai berikut :
(D) Utang Gaji = 250.000
(K) Beban Gaji = 250.000
(K) Beban Gaji = 250.000
Ayat jurnal pembalik memindahkan kewajiban sebesar Rp 250.000 dari Utang Gaji ke sisi KREDIT Beban Gaji.
Jumlah sebesar Rp 250.000 tidak berubah karena jumlah tersebut tetap merupakan kewajiban.
Penjelasan biasanya dituliskan beserta ayat jurnal untuk menjelaskan sifat yang tidak biasa ini.
Pada tanggal 10 November 2017, dilakukan pencatatan untuk pembayaran gaji sebagai berikut :
(D) Beban Gaji = 1.275.000
(K) Kas = 1.275.000
(K) Kas = 1.275.000
Setelah ayat jurnal ini diposting, Beban Gaji akan memiliki saldo debit sebesar Rp 1.025.000. jumlah ini merupakan beban gaji untuk periode 1-10 November 2017.
Ringkasan Pencatatan Jurnal Akuntansi
Urutan ayat jurnal, termasuk ayat jurnal penyesuaian, jurnal penutup dan jurnal pembalik digambarkan pada akun-akun berikut ini :
#1. Akun Utang Gaji (lihat di gambar : 2)
#2. Akun Beban Gaji
Kesimpulan
Jurnal Pembalik merupakan salah satu proses dalam siklus akuntansi yang memiliki kegunaan atau manfaat yang sangat penting dalam proses penyusunan laporan keuangan.
Salah satu fungsi penting dari jurnal pembalik adalah memudahkan proses pembuatan laporan keuangan, seperti ditunjukkan dalam studi kasus perusahaan jasa konsultan di atas, yaitu memudahkan pencatatan transaksi beban dan utang gaji.
Bagaimana menurut Anda?
Post a Comment
Post a Comment