Latest Post

Account Assistant Account Officer Account Payable Account Receivable Accounting Accounting Case Study Accounting Certification Accounting Contest Accounting For Manager Accounting Manager Accounting Software Acquisition Admin Administrasi administrative assistant Administrator Advance accounting Aktiva Tetap Akuisisi Akun Akuntan Privat Akuntan Publik AKUNTAN. Akuntansi Akuntansi Biaya Akuntansi Dasar Akuntansi Management Akuntansi Manajemen Dan Biaya Akuntansi Pajak Akuntansi Perusahaan Dagang Akuntansi Perusahaan Jasa Akuntansi Syariah Akuntansi Translasi Akunting Analisis Transaksi Announcement Aplikasi Akuntansi archiving ARTICLES ARTIKEL Asumsi dasar Akuntansi Asuransi Aturan Pencatatan Akuntansi Audit Audit Kinerja Auditing Balance sheet Bank Basic Accounting Bea Cukai Bea Masuk Bidang Akuntansi Bukti Transaksi Buku Besar Calculator Capital Cara Pencatatan Akuntansi Career Cash Cash Flow Cat Certification Checker Checker Gudang COGS Collection Contest Corporate Social Responsibility (CSR) Cost Cost Analysis CPA CPA EXAM Credit Credit Policy Current Asset Custom Custom Clearence Dasar Akuntansi Data Debit Kredit Discount Diskon Distributor Dyeing Ekspor Engineering Etika Profesi & Tata Kelola Korporat Example Expense Export - Import FASB Finance FINANCIAL Financial Advisor Financial Control Finansial Foreign Exchange Rate Form FRAUD Free Download Freebies Fungsi Akuntansi GAAP GAJI Garansi Gift Goodwill Gudang Harga Pokok Penjualan Hotel HPP HRD IFRS Impor Import Import Duty Informasi Akuntansi International Accounting Investasi IT Jasa Jasa Konstruksi Job Vacant JUDUL SKRIPSI AKUNTANSI TERBARU Jurnal Khusus Jurnal Pembalik Jurnal Pembalik Dagang Jurnal Penutup Jurnal Penutup Dagang Jurnal Penyesuaian Jurnal Umum Kas Kas Bank Kas Kecil Kasus Akuntansi Kasus Legal Kasus Pajak Kepala Rekrutment Kertas Kerja Keuangan Knitting Komentar Komputer Konsolidasi Konstruksi Konsultan Laba-Rugi Laboratorium Lain-lain lainnya LANDING COST Laporan akuntansi Laporan Arus Kas Laporan Keuangan Laporan Keuangan Dagang Laporan Keuangan Jasa Laporan Laba Rugi Laporan Perubahan Modal laporan Rugi Laba Layanan Konsumen Lean Accounting Lean Concept Lean Manufacturing Legal Logistik Lowongan Kerja Accounting MA Accounting Macam Transaksi Dagang Management Management Accounting Manager Manajemen Manajemen Keuangan Manajemen Keuangan Manajemen Stratejik Manajer Manajer Administrasi Manfaat Akuntansi Manufaktur Marketing Matching Color Mekanisme Debit Mekanisme Kredit Mencatat Transaksi Merger metode fifo dan lifo Mid Level Miscellaneous Modal Neraca Neraca Lajur Neraca Saldo Neraca Saldo Setelah Penutupan Nerasa Saldo Office Operator Operator Produksi Paint PAJAK pajak pusat.pajak daerah(provinsi dan kabupaten) payroll Pelaporan Korporate Pemasaran Pembelian Pemberitahuan Pemindahbukuan Jurnal Pencatatan Perusahaan Dagang Pendapatan Pengakuan Pendapatan Pengarsipan Pengendalian Pengendalian Keuangan Pengertian Akuntansi PENGERTIAN LAPORAN KEUANGAN pengertian pajak PENGERTIAN PSAK PENGGELAPAN Pengguna Akuntansi Pengkodean Akun Penjualan Perbankan Perlakuan akuntansi Perpajakan Persamaan Dasar Akun Petty Cash Piutang Posting Buku Besar PPH PASAL 21 PPh Pasal 22 PPh Pasal 26 PPn PPn Import Prefesi Akuntansi Prinsip Akuntansi PRINSIP DASAR AKUNTANSI Produksi Profesi Akuntansi Professi Akuntan Profit-Lost Proses Akuntansi Proyek PSAK PSAK TERBARU PURCHASE Purchasing QA QC Quality Assurance Quality Control Quiz Rabat Rajut rangkuman Rebate Recruitment Recruitment Head Rekrutment Retail Retur Return Revenue Review Saldo Normal Sales Sales Representative Sejarah Akuntansi SERIE ARTIKEL Sertifikasi Shareholder Shipping Agent Shipping Charge siklus akuntansi Silus Akuntansi Dagang Sistem sistem akuntansi Sistem Informasi Sistem Informasi & Pengendalian Internal Soal dan Jawaban CPA SPI Spreadsheet Accounting Spreadsheet Gratis Staff Struktur Dasar Akuntansi Supervisor system pengendalian system pengendalian gaji Tax Taxation Teknik Tekstil Template Teori-teori Akuntansi Tinta Tip n Tricks TIPS AND TRICKS Tools Top Level Transaksi Keuangan Tutup Buku Ujian CPA UPAH update situs USAP Utilities Video Tutor Warehouse Warna warranty What Is New

Menjelang tutup tahun menyerupai kini ini JOURNAL ENTRY : ADJUSTMENT, RE-CLASS & CORRECTION
Menjelang tutup tahun menyerupai kini ini, merupakan typical days bagi staff, manager hingga ke director :

Bagi rekan-rekan yang berposisi di pecahan Accounting dan keuangan, audit session gres saja lewat, waktunya bikin adjustment-adjustment bukan.

Artikel menjelang tutup tahun 2008 ini, saya dedikasikan khusus untuk rekan-rekan yang masih harus bekerja keras untuk melaksanakan “pekerjaan-pekerjaan akhir” menjelang tutup buku, yaitu ADJUSMENT, RE-CLASSIFICIATION & CORRECTION works.

Apakah ada diantara rekan-rekan yang masih galau untuk membedakan ADJUSTMENT, RE-CLASSIFICATION & CORRECTION ENTRY ?. Atau mungkin belum tahu bagaimana cara melakukannya ?

Okay…. berikut ini yaitu pengetahuan dasar mengenai adjustment, re-classification dan correction entry beserta prosedurnya.

Menjelang tutup tahun menyerupai kini ini JOURNAL ENTRY : ADJUSTMENT, RE-CLASS & CORRECTION

ADJUSTMENT (Penyesuaian)

Diperlukan Adjustment Entry (ayat jurnal penyesuaian), apabila : SALAH MENERAPKAN PERLAKUAN AKUNTANSI, dan DIKETAHUI DI TAHUN BUKU YANG SAMA yaitu :

(-) Mengakui transaksi terlalu besar atau terlalu kecil
(-) Saat legalisasi (tanggal transaksi) terlalu dini atau terlalu dibelakang
(-) Menerapkan Methode penyusutan aktiva yang tidak sesuai

Adjustment entry dilakukan SEBELUM PENUTUPAN BUKU (sesaat sehabis jurnal orisinil di posting maupun menjelang penutupan buku).

Prosedur Adjustment Entry :

(1). Siapkan bukti transaksi yang perlu di sesuaikan (to be adjusted).

(2). Print out General Ledger Detail beserta Detail Transaction Register yang mengandung transaksi yang harus di adjust.

(3). Cari tahu mengapa perlu di adjust, dan mengapa terjadi demikian.

(4). Tentukan terlebih dahulu besarnya nilai transaksi yang seharusnya terjadi, kemudian bandingkan dengan jurnal entry yang pernah di masukkan. Dengan demikian maka kita akan mendapat “selisihnya”.

(5). Siapkan Daftar Adjustmen Entry yang akan direkomendasikan (Recommended Adjustment Entry List).

(6). Konsultasikan permasalahan yang ada dengan atasan (chief accounting/Accounting Manager). Jangan Lupa minta tanda tangan dia sebagai pihak yang mengetahui (acknowledge incharge).

(7). Mohon persetujuan (Adjustment Entry approval) kepada Financial Controller

(8). Lakukan Adjustment Entry hanya sehabis mendapat approval dari Financial Controller atau atasan lain yang diberikan mandat


Cara Melakukan Adjustment Entry :

Debit Perkiraan yang terlalu kecil diakui dan credit lawan rekening-nya sebesar nilai selisihnya.

Contoh :

(a). Pembelian Raw Material Rp 1,000,000 terlalu besar di akui.


Adjustment Entry-nya :

[-Debit-]. Kas (Utang pada Vendor A) = Rp 1,000,000
[-Credit-]. Raw Material = Rp 1,000,000

(b) Piutang kepada vendor C Rp 1,500,000 diakui terlalu kecil

Adjustment Entry-nya :

[-Debit-]. Piutang Dagang Vendor C = Rp 1,500,000
[-Credit-]. Sales = Rp 1,500,000

……….dan sebagainya.


Khusus kasus “saat pengakuan” yang tidak sesuai :

Entah terlalu dini atau terlalu dibelakang diakui, penanganan kasus “saat pengakuan” (tanggal) yang keliru tergantung dari kebijakan administrasi perusahaan masing-masing. Jika kesalahan “saat pengakuan” atau salah tanggal, terjadi TIDAK MELEWATI CUT-OFF DATE (tanggal pisah batas) periode laporan, maka hal tersebut bukanlah dilema yang serius. Akan tetapi khusus rekening UTANG atau PIUTANG dilema tanggal yaitu critical, sebab sangat mungkin akan kuat terhadap discount (potongan harga/rabat) yang harus diterima atau diberikan. Kaprikornus tetap harus disesuaikan.

Menjelang tutup tahun menyerupai kini ini JOURNAL ENTRY : ADJUSTMENT, RE-CLASS & CORRECTION


RE-CLASSIFICATION (Reklasifikasi)

Re-classification Journal Entry (Jurnal reklasifikasi) dibutuhkan apabila : TRANSAKSI DI POSTING (dicatat) KE DALAM ACCOUNT YANG TIDAK SESUAI, sehingga perlu dilakukan REKLASIFIKASI.

Prosedur re-classification intinya sama saja dengan mekanisme adjustment. hanya saja, mungkin tidak dibutuhkan bukti-bukti transaksinya, yang dibutuhkan hanya “Printout General Ledger Details”

Contoh :

Pemebelian “Office Equipment” terlanjur diposting ke rekening “Office Supplies”. Nampak pada Detail Transaction Register sebagai berikut :
[-Debit-]. Office Supplies = Rp 5,000,000
[-Credit-]. Cash = Rp 5,000,000.


Reklasifikasi dilakukan dengan 2 cara, yaitu :


(a). Di Reclass dengan 2 langkah:

Langkah-1: Reversal Journal

[-Debit-]. Cash = Rp. 5,000,000
[-Credit-]. Office Supplies = Rp. 5,000,000

Langkah-2: Posting ke rekening yang sesuai

[-Debit-]. Office Equipment = Rp. 5,000,000
[-Credit-]. Cash = Rp. 5,000,000


(b). Satu Langkah : Langsung direclass

[-Debit-]. Office Equipment = Rp. 5,000,000
[-Credit-]. Office Supplies = Rp. 5,000,000

Menjelang tutup tahun menyerupai kini ini JOURNAL ENTRY : ADJUSTMENT, RE-CLASS & CORRECTION

CORRECTION JOURNAL (Pembetulan)


Correction Journal (Pembetulan) dibutuhkan apabila terjadi:

(-). Salah perlakuan akuntansi (transaksi terlalu besar/terlalu kecil diakui)
(-). Salah penjabaran (transaksi terposting ke rekening yang tidak sesuai)

dimana KESALAHAN DIKETAHUI SETELAH PENUTUPAN BUKU. Untuk itu dibutuhkan jurnal koreksi.

Inisiatif koreksi biasanya berasal dari pihak eksternal dalam hal ini yaitu auditor eksternal yang menemukan mis-statement, sehingga diusulkan semoga dilakukan koreksi.


Koreksi dilakukan dengan cara sebagai berikut:

(-). Apabila koreksi dibutuhkan terhadap rekening-rekening yang terdapat dalam kelompok rekening LABA/RUGI (misalnya: penjualan, harga pokok penjualan, biaya operasional, bunga, pajak, terlalu besar/ terlalu kecil) maka yang dikoreksi adalah: aktiva lancar, lawan retained earning (laba ditahan).

Contoh :

Pada tahun 2007, penjualan kredit terhadap PT. A terlalu besar Rp. 1,000,000 diakui, diketahui gres pada bulan Januari 2008. Maka dibutuhkan jurnal koreksi sebagai berikut:

[-Debit-]. Retained earning = Rp. 1,000,000
[-Credit-]. Piutang Dagang = Rp. 1,000,000

Penjelasan :

Penjualan kredt yang diakui terlalu besar akan mengakibatkan keuntungan higienis (net earning) terlalu besar pula. Andai saja kekeliruan ini diketahui sebelum penutupan buku (sebelum 31 Desember 2007) tentunya hal ini diatasi dengan melaksanakan adjustment terhadap rekening penjualan lawan piutang dagang. Akan tetapi sebab buku telah ditutup, sehingga penjualan telah menjelma net earning, sedangkan net earning telah berpindah ke rekening retained earning pada neraca. Untuk itu yang harus dilakukan yaitu koreksi menyerupai di atas.

(-). Apabila koreksi dibutuhkan terhadap rekening-rekening yang terdapat pada kelompok rekening NERACA (misalnya: kas, piutang, persediaan, aktiva tetap, utang dagang, pinjaman, modal), maka yang dikoreksi adalah: rekening yang hendak dikoreksi dilawankan dengan rekening NERACA yang lain.

Contoh :

Pada tahun 2007, pembelian mesin diakui Rp. 7,000,000 terlalu besar dari yang seharusnya, beban penyusutan pun menjadi Rp. 300,000 terlalu besar diakui, gres diketahui pada bulan Januari 2008. Maka dibutuhkan jurnal koreksi sebagai berikut:

[-Debit-]. Cash = Rp. 7,000,000
[-Debit-]. Accum. Deprec. = Rp. 300,000
[-Credit-]. Machinaries = Rp. 7,000,000
[-Credit-]. Retained earning = Rp. 300,000

Penjelasan :

Perolehan mesin yang diakui terlalu besar akan mengakibatkan legalisasi biaya penyusutan mesin terlalu besar pula, sehingga keuntungan higienis (net earning) terlalu kecil diakui. Jika saja kekeliruan ini diketahui sebelum penutupan buku (sebelum 31 Desember 2007) tentunya hal ini diatasi dengan melaksanakan adjustment terhadap rekening mesin (aktiva tetap) lawan kas, dan rekening beban penyusutan lawan keuntungan higienis (net earning) secara langsung. Akan tetapi sebab buku telah ditutup, sehingga net earning telah berpindah ke rekening retained earning pada neraca. Untuk itu yang harus dilakukan yaitu koreksi menyerupai di atas.

Mudah-mudahan artikel ini sanggup memperlihatkan pemahaman yang lebih, dan sanggup menghapuskan kebingungan untuk membedakan antara PENYESUAIAN, REKLASIFIKASI maupun KOREKSI. Dan sanggup melakukannya dengan benar.

Jika diantara rekan-rekan pembaca ada yang mengalami kesulitan mengenai adjustment, reklasifikasi maupun koreksi, sanggup disampiakn disini. Kalau masalahnya cukup rumit atau panjang yang memerlukan klarifikasi yang panjang pula, silahkan menulis komentar. Saya akan usahakan untuk membantu memperlihatkan penjelasan.

Selamat bekerja, dan menyongsong tahun gres !.


IMBALAN KERJA JANGKA PANJANG LAINNYA

Imbalan kerja jangka panjang lainnya mencakup, antara lain :
(a)           cuti-berimbalan jangka panjang.
(b)          imbalan hari raya atau imbalan jasa jangka panjang lainnya (jubilee or other long-service benefits).
(c)           imbalan cacat permanen.
(d)          utang bagi laba dan bonus yang dibayar 12 bulan atau lebih setelah simpulan periode pelaporan dikala pekerja menunjukkan jasanya.
(e)           kompensasi ditangguhkan yang dibayar 12 bulan atau lebih sesudah simpulan dari periode pelaporan dikala jasa diberikan

Pengukuran imbalan kerja jangka panjang lainnya biasanya tidak bergantung pada tingkat ketidakpastian tertentu, sama menyerupai pada pengukuran imbalan pascakerja. Selain itu, penerapan awal atau perubahan imbalan kerja jangka panjang lainnya jarang menjadikan jumlah yang material pada biaya jasa lalu. Oleh sebab itu, Pernyataan ini mengatur metode akuntansi yang disederhanakan untuk imbalan kerja jangka panjang lainnya. Metode ini berbeda dengan metode akuntansi untuk imbalan pascakerja dalam hal :
(a)           keuntungan dan kerugian aktuarial eksklusif diakui dan tidak ada koridor yang dipakai.
(b)          seluruh biaya jasa lalu eksklusif diakui.

Pengakuan dan Pengukuran
Jumlah yang diakui sebagai liabilitas untuk imbalan kerja jangka panjang lainnya ialah total nilai neto dari jumlah berikut ini :
(a)           nilai kini kewajiban imbalan pasti pada simpulan periode pelaporan.
(b)          dikurangi dengan nilai wajar dari aset kegiatan pada simpulan periode pelaporan (jika ada) selain kewajiban yang harus dilunasi secara langsung.

Untuk imbalan kerja jangka panjang lainnya, entitas harus mengakui total nilai neto dari jumlah berikut ini sebagai beban atau pendapatan, kecuali jikalau terdapat Pernyataan lainnya yang mewajibkan atau membolehkan jumlah tersebut termasuk dalam biaya perolehan aset :
(a)           biaya jasa kini.
(b)          biaya bunga.
(c)           hasil yang diharapkan dari setiap aset kegiatan dan setiap hak penggantian yang diakui sebagai aset.
(d)          keuntungan atau kerugian aktuarial, yang seluruhnya harus eksklusif diakui.
(e)           biaya jasa lalu, yang seluruhnya harus eksklusif diakui.
(f)           dampak dari kurtailmen atau penyelesaian.

Salah satu bentuk dari imbalan kerja jangka panjang lainnya ialah imbalan cacat permanen. Apabila besar imbalan bergantung pada masa kerja, maka kewajiban timbul ketika jasa telah diberikan. Pengukuran kewajiban tersebut mencerminkan kemungkinan pembayaran yang akan dilakukan dan jangka waktu terjadinya pembayaran. Apabila besarnya imbalan sama bagi setiap pekerja cacat tanpa memerhatikan masa kerja, maka biaya yang diperkirakan atas imbalan tersebut diakui ketika terjadi kejadian yang menyebabkan cacat permanen.

Pengungkapan
Walaupun Pernyataan ini tidak mewajibkan pengungkapan rinci imbalan kerja jangka panjang lainnya, Pernyataan lainnya dapat saja mewajibkan pengungkapan, sebagai referensi ketika beban yang dihasilkan dari imbalan tersebut sangat besar jumlahnya, maka pengungkapan diharapkan sesuai dengan PSAK 1 (revisi 2009) :  Penyajian Laporan Keuangan.  Ketika disyaratkan oleh PSAK 7 (revisi 2010) :  Pengungkapan Pihak-pihak Yang Mempunyai Hubungan Istimewa,  entitas mengungkapkan isu mengenai imbalan kerja jangka panjang lainnya bagi anggota administrasi kunci.

Expenditure biasanya sudah terjadi semenjak sebelum perusahaan didirikan, entah itu berupa PREPAID COST yang lumrah dikenal dengan COMPANY SET-UP, maupun expense yang lebih dikenal dengan PREPAID EXPENSE (Uang Muka Biaya). Ada juga expenditures yang terjadi setelah perusahaan established tetapi belum mampu diakui sebagai biaya. Bagaimana perlakuan akuntansinya? Pengeluaran macam apa saja yang tergolong ke dalam company set-up? Apa bedanya dengan akreditasi harga perolehan aktiva? Apa beda diantara keduanya?. Kita akan bahas di posting kali ini beberapa ketika lagi.

Artikel ini akan saya bahas dalam bentuk study kasus (tetapi fiktif adanya) hanya untuk mempermudah ilustrasi saja, dan saya dedikasikan khusus untuk mereka yang sedang menangani perusahaan yang gres berdiri, atau perusahaan sudah bangun tetapi akuntansinya gres digarap.

Kasus : Kebingungan Linda… (ahh…. menyerupai judul novel…. :P).

Hari ini yaitu hari pertama Linda (23 tahun, jebolan polytechnic terkenal di Singapura, rencanannya wisuda tgl 30 Maret nanti, GPA 3.75) bekerja di PT. Makmur Sentosa. Pagi-pagi sudah dipanggil oleh pak administrator dan berikan plastic folder yang isinya campuran nota-nota pengeluaran, akte-akte notaris, premium insurance, termasuk voucher pulsa prabayar yang sudah digosok :P.

Dasar Linda smart, begitu hingga di mejanya, ia eksklusif mengeluarkan dan memilah- milah isi folder tersebut sambil memasukkannya ke dalam spreadsheet.

Nah, dibawah ini yaitu spreadsheet-nya Linda:

 biasanya sudah terjadi semenjak sebelum perusahaan didirikan Prepaid Expenses, Costs & Company Set-up

10 menit kemudian Linda masih geser-geser mouse-nya, tidak terlihat sedang mengetik, sekarang Linda malah mengeluarkan pengikat rambut, rambut yang tadinya digerai sekarang mulai diikat, menyerupai orang yang sedang gerah, padahal AC diruangannya bertemperatur 16 derajat celcius, cukup hirau taacuh bukan?.

Wah….rupanya Linda sedang kebingungan, mau diposting kemana pengeluaran-pengeluaran tersebut, bagaimana menjournalnya?

Siapa yang mau bantu Linda? Pastinya semua mau bantu, ada sahabat kebingungan dan perlu bantuan, tentu kita bantu bukan?

Okay, mari kita sama-sama bantu Linda….


Ada 3 (tiga) key point yang harus kita perhatikan:


Key Point-1: Relevansi Transaksi

Akui pengeluaran-pengeluaran hanya yang terkait dengan perusahaan maupun persiapan pendirian perusahaan, dan eliminasi (jangan akui) pengeluaran-pengeluaran yang tidak relevan.

Kita perhatikan daftar transaksi yang dibuat Linda di atas:

Cantik Spa and Terapist, apakah relevan? Big no, kembalikan notanya ke boss!
Pembuatan akte pendirian perusahaan, apakah relevan? Of course, akui!
Materai @Rp 6000, untuk apa? Untuk isi draft akte, relevan, akui!
Pulsa prabayar, untuk apa? Boss telepon notaris dan konsultan, relavan, akui!
Konsultan, tentu relevan, so akui!
Photocopy, relevan, akui!
Bank Account Set-up, sangat relevan, akui!
Sewa daerah usaha (Kantor), so pasti, akui!
Pembuatan akte sewa menyewa, yoi!, akui!
Ongkos Cat Ruangan Kantor, ya iyalah relevan, akui!
Asuransi Gedung, yupz relevan, akui!
Deposit supplier, ok relevan, akui!
Pasang paping ditempat parkir, sangat relevan!


Okay, kita sudah temukan mana yang relevan mana yang tidak relevan, lalu pengeluaran-pengeluaran relevan tersebut kita akui sebagai apa?

Sabar….sabar…. kita masuk ke key point berikutnya….


Key Point-2: Tanggal Pendirian Perusahaan

Dari mana kita mampu tahu tanggal pendirian perusahaan? Apakah dari tanggal pengeluaran atas pembayaran ke notaris? Salah…..kita lihat dari TANGGAL AKTE PENDIRIAN, biasanya terletak di sampul depan akte, yang disamping berisi tanggal akte juga termuat NOMOR AKTE dan NAMA NOTARIS-nya. Setelah saya intip, tanggal akte pendirian PT. Makmur Sentosa yaitu 11 Februari 2008 (bukan 10 Februari), rupanya pak notaris dibayar didepan.

Apa kekerabatan tanggal pendirian perusahaan dengan akreditasi atas pengeluaran perusahaan?

Segala pengeluaran relevan yang terjadi sebelum tanggal pendirian perusahaan hendaknya diakui sebagai COMPANY SET-UP COST yang nantinya akan kita kelompokkan ke dalam AKTIVA TETAP TAK BERWUJUD (Intangible Asset), sedangkan segala pengeluaran relevan yang terjadi setelah tanggal pendirian diakui sesuai dengan jenis pengeluarannya.

Mungkin anda ingin bertanya: Bagaimana dengan pengeluaran untuk pulsa prabayar dan photocopy yang terjadi sebelum tanggal pendirian perusahaan? Apakah akan diakui sebagai company set-up dan akan menjadi intangible asset? “WOW!

Sabar…sabar… kita lanjutkan ke key-point selanjutnya…..


Key Point-3: Potensi Masa Manfaat

Pengeluaran sebelum tanggal pendirian yang memiliki potensi masa manfaat lebih dari satu tahun buku diakui sebagai PREPAID COST yang akan kita golongkan ke dalam COMPANY SET-UP, sedangkan yang potensi masa manfaatnya kurang dari satu tahun buku (i.e.: meterai, photocopy, pulsa prabayar) kita akui sebagai PREPAID EXPENSE.

Kedua pengeluaran tersebut akan eksklusif masuk ke dalam SALDO AWAL NERACA perusahaan, dicatat dengan mengkredit rekening MODAL.


Bedanya?.

Prepaid Expense (Uang Muka Biaya):

Masuk ke dalam kelompok AKTIVA LANCAR, dan setelah perusahaan beroperasi, rekening pre-paid diconvert menjadi expense yang sesuai.

Jurnalnya:

Sebelum perusahaan beroperasi:
[Debit]. Prepaid Expense (Uang Muka Biaya)
[Credit]. Capital (Modal)

Catatan: Jurnal di atas akan membuat Saldo Awal Neraca Akan terisi dengan Prepaid Expense di sisi aktiva dan Capital di sisi Equity.

Setelah perusahaan beroperasi (i.e.: sebelum penutupan buku periode pertama), prepaid expense diconvert dengan menjurnal:
[Debit]. Expense (i.e.:Telephone/Misc Exp/Office Supplies)
[Credit]. Prepaid Expense (Uang Muka Biaya)

Catatan: Jurnal kedua diatas, akan membuat prepaid expenses yang kita akui pada ketika perusahaan belum bangun akan terhapus (washed) dan menjelma expense yang kita bebankan pada periode pertama perusahaan beroperasi.


Prepaid Cost (Company Set-up):

Masukkan ke dalam AKTIVA TETAP TAK BERWUJUD, dan DIAMORTISASI setelah perusahaan beroperasi.

Jurnalnya:

Sebelum perusahaan beroperasi:

[Debit]. Company Set-up (Intangible Asset)
[Credit]. Modal (Capital)


Setelah perusahaan beroperasi (i.e.: menjelang penutupan buku) diamortisasi dengan jurnal:

[Debit]. Amortisasi Aktiva Tak Berwujud
[Credit]. Company Set-up

Wait.... mungkin anda ingin bertanya: Berapa lama Company Setup diamortisasi?

Umumnya setiap usaha tentunya diperlukan dapat beroperasi selama mungkin, dengan kata lain; tidak ada pemilik usaha yang berharap perusahaannya beroperasi hanya untuk periode tertentu saja, tetapi dalam Undang-undang Perseroan Terbatas telah diatur (kalau saya tidak salah) 30 tahun. Untuk lebih pastinya, bacalah di Akte Pendirian Perusahaan. Untuk itu, Company Set-up diamortisasi selama umur usaha.

Bagaimana dengan expenditures setelah tanggal pendirian perusahaan?

Perlakuannya sama saja dengan pengeluaran-pengeluaran setelah perusahaan beroperasi:

Pengeluran-pengeluaran yang berpotensi menghasilkan manfaat lebih dari satu tahun buku, akui sebagai acquisition cost (harga perolehan aktiva), untuk disusutkan/diamortisasi nantinya. Sedangkan bila hanya akan memberi manfaat satu tahun buku saja atau kurang, maka akui sebagai expenses (biaya), tentunya dikelompokkan ke dalam rekening biaya yang sesuai. Hanya saja…………

Hanya saja, semoga memperoleh demam isu analisis yang wajar dan memenuhi the matching principle, maka perhatikanlah unsur revenue (pendapatan) yang terjadi pada ketika itu. Jika atas biaya tersebut akan menjadikan revenue pada periode yang sama, maka mampu eksklusif diakui sebagai biaya sekaligus. Jika belum, maka akuilah sebagai BIAYA DIBAYAR DIMUKA (prepaid expense), dan nanti bila pengeluaran tersebut mulai menghasilkan revenue, maka convert prepaid expense menjadi biaya yang sesuai.

Dalam kasus ini, asuransi gedung yang masa pertanggungannya yaitu tahunan, maka pada bulan pertama dicatat dengan jurnal:

[Debit]. Prepaid Expense (i.e.: pre-paid insurance)
[Credit]. Cash

Nantinya bila sudah mulai menghasilkan revenue, prepaid expense diconvert menjadi biaya dengan jurnal:

[Debit]. Insurance
[Credit]. Prepaid Insurance



Kesimpulan

Dari 3 Key Point di atas, maka daftar transaksi Linda di atas dapat kita jurnal menyerupai dibawah ini:

 biasanya sudah terjadi semenjak sebelum perusahaan didirikan Prepaid Expenses, Costs & Company Set-up

Dari Author

Dengan study kasus yang saya angkat ini, mudah-mudahan Linda-Linda yang lain tidak kebingungan lagi, jikapun masih ada Linda-Linda lainnya yang belum membaca study kasus ini, saya mengharapkan anda yang sudah memahami kasus ini dapat membantu Linda-Linda yang sedang kebingungan :-) Jikapun masih ada yang belum mengerti atau ragu-ragu, atau punya view yang berbeda atas kasus ini, silahkan tulis komentar anda disini. Feel free !

To your success,

Lie Dharma Putra

Sebentar lagi libur. Mungkin diantara rekan-rekan sudah banyak yang berencana untuk berlibur keluar kota di HARI NATAL maupun di TAHUN BARU nanti.

Berlibur keluar kota, tentunya tidak hanya butuh fasilitas (penginapan/hotel) bukan ?. perlu makan di restoran, mengkonsumsi isi minibar yang disediakan oleh hotel, mungkin perlu jasa laundry, bahkan mungkin perlu sewa kendaraan beroda empat ?. Atas semua jasa yang diserahkan tersebut, pihak penyedia jasa akan mengenakan pajak. BERAPA PAJAK YANG DIKENAKAN ?, APA SAJA JENIS PAJAK YANG DIKENAKAN ?, APA SAJA OBYEK PAJAKNYA ?, DAN BERAPA TARIF PAJAKNYA ?.

Mudah-mudahan sanggup dijadikan materi hitung-hitung budget menjelang liburan :-), jangan hingga luput dari perhitungan budget, sehingga tidak kaget dikala melihat bill hotel atau makan nantinya. Perlu juga diketahui apa saja obyek pajak yang termasuk ke dalam pajak hotel dan restoran, dan apa saja yang tidak termasuk.

Tentu anda tidak mau dikenakan pajak ganda (Pajak Hotel dan Restoran + PPn ), bukan ?

Kita bahas di artikel ini.


Obyek Pajak Hotel dan Restoran

Pajak Hotel dan Restoran merupakan pajak daerah, sehingga masing-masing kawasan (propinsi) di Indonesia mempunyai perda (PERDA) sendiri-sendiri. Namun demikian intinya Obyek Pajak Hotel dan Restoran sama saja disemua propinsi, yaitu (dikutip dari Situs Layanan Propinsi DKI Jakarta Perda No. 9 Tahun 1998) :

1.Fasilitas penginapan atau fasilitas tinggal jangka pendek;

2.Fasilitas pelayanan penunjang sebagai kelengkapan fasilitas penginapan atau tinggal jangka pendek yang sifatnya memperlihatkan kemudahan dan kenyamanan;

3.Fasilitas olahraga dan hiburan yang disediakan khusus untuk tamu hotel dan bukan untuk umum;

4.Jasa persewaan ruangan untuk acara program atau pertemuan di hotel;

5.Penjualan masakan dan minuman ditempat yang disertai dengan fasilitas penyantapannya, termasuk yang di bawa pulang;


Service

Service dalam hal ini ialah belahan yang dikenakan kepada konsumen hotel atau restoran atas : pelayanan, pengabdian dan perhatian yang diberikan oleh administrasi dan karyawan hotel atau restoran, yang nantinya akan dibagikan kepada seluruh karyawan hotel secara merata. Kebanyakan hotel atau restoran mengenakan service kepada konsumennya, akan tetapi ada juga hotel atau restoran yang untuk alasan tertentu (promosi) tidak mengenakan service.

Besarnya service yang dikenakan beragam, berkisar antara 7% hingga dengan 10% atas jasa yang diserahkan.

Tarif Pajak Hotel dan Restoran

Tarif Pajak Hotel dan Restoran ialah 10% atas Jasa dan service


Formulasi dan Contoh Perhitungan

Berdasarkan tarif di atas, maka besarnya Pajak Hotel dan Restoran sanggup diformulasikan menjadi :

(a). Jika dikenakan service, maka formulanya :

Pajak Hotel dan Restoran = 10% x ( Obyek Pajak + Service)


(b) Jika tidak dikenakan service, maka formulanya :

Pajak Hotel dan Restoran = 10% x Nilai Jasa Diserahkan



Contoh :

Si A, menginap dihotel “The Royal Bali” 5 malam dengan rincian bill sebagai berikut :

(-) 5 Nights Delux Ocean Terace ( 5 x USD 500.00) = USD 2,500.00
(-) Laundry = USD 35.00
(-) Mini Bar = USD 65.00
(-) Oriental Dinner = USD 150.00
(-) American Lunch = USD 250.00
Total = USD 3,000.00

* Subject to : 10% service & 10% Tax

Hitung pajak & service-nya dengan 4 langkah.

Langkah-1 : Tentukan nilai obyek pajaknya

Dari referensi di atas, semuanya merupakan obyek pajak hotel dan restoran, KECUALI masakan dan minuman dari MINIBAR. Mengapa masakan dan minuman dari minibar tidak termasuk obyek pajak hotel dan restoran ?, sebab : masakan dan minuman dari minibar ialah masakan & minuman yang sifatnya instant, yang mana untuk membuatnya tersedia, hotel samasekali tidak melaksanakan proses apapun selain menyimpannya di minibar, dengan kata lain masakan dan minuman dari minibar samasekali tidak diolah dihotel, melainkan dibeli dalam kondisi sudah jadi dari supermarket, sehingga bukan merupakan obyek Pajak Hotel dan Restoran. Dengan demikian maka nilai obyek pajaknya hanya sebesar USD 2,935.00 saja. Sedanagkan atas masakan dan minuman dari Mini Bar sebesar USD 65.00 ialah obyek PPn yang biasanya telah termasuk dalam pembeliannya di Supermarket.

Langkah-2 : Hitung Servicenya

Dalam referensi ini, hotel mematok tarif service 10%. Maka besarnya service sanggup dihitung sebagai berikut :

Service = 10% x (USD 3,000.00 – USD 65.00)
Service = 10% x USD 2,935.00
Service = USD 293.50

Langkah-3 : Hitung “Pajak Hotel & Restoran"

Pajak Hotel dan Resto = 10% x (Nilai Jasa Diserahkan + service)
Pajak Hotel dan Resto = 10% x (USD 2,935 + USD 293.50)
Pajak Hotel dan Resto = 10% x USD 3,228.50
Pajak Hotel dan Resto = USD 322.85

Langkah-4 : Hitung Pajak dan Service -nya

Pajak & Service = USD 293.50 + 322.85
Pajak & Service = USD 616.35

Total yang harus dibayarkan ialah :
3,000.00 + 616.35 = USD 3,616.35

Apa itu Letter of Credit dan Mengapa Penting Untuk Diketahui ?

Letter of Credit yang biasa disingkat dengan (L/C) merupakan salah satu instrument pembayaran yang sangat penting dalam perdagangan international. Letter of Credit sangat vital dalam memperlihatkan keyakinan kepada pembeli (buyer) maupun penjual (seller) dalam melaksanakan perdagangan international (export-import).

Dengan tersedianya Letter of Credit :

Penjual (Seller/Exporter) :

Mendapat keyakinan akan ketersediaan pembayaran atas barang dan atau jasa yang diserahkan. Dengan telah dibukanya Letter of Credit oleh pihak buyer, seller tidak perlu khawatir mengenai adanya kemungkinan barang dan atau jasa yang diserahkan tidak (kurang)dibayar, sepanjang klausa (Term and Condition) yang tercantum di dalam L/C dipenuhi. Keyakinan tersebut diperoleh dengan adanya penegasan dari pihak bank pembuka L/C bahwa pihak pembeli (buyer) mempunyai kemampuan yang cukup untuk membayar dan dalam hal ini bank pembuka L/C menjamin akan mendibit rekening pihak pembeli, jikalau pihak penjual menyerahkan dokumen-dokumen yang dipersyaratkan.

Bahkan di Indonesia, penguasaan terhadap sebuah Letter of Credit (L/C), bisa dijadikan dasar permohonan "Kredit Export (KE)" guna memperoleh dana lebih awal dari bank devisa, untuk dipergunakan sebagai modal kerja dalam memproduksi barang yang difasilitasi oleh Letter of Credit tersebut. Tentu saja pihak bank akan mengenakan bunga tertentu atas kredit tersebut, yang biasa disebut dengan bunga diskonto.


Pembeli (Buyer/Importer) :

Memperoleh keyakinan bahwa dia/mereka hanya akan membayar seller atas penyerahan barang dan atau jasa yang dipesannya sesuai dengan syarat yang telah disepakati sebelumnya yang akan dituangkan di dalam "Term and Condition" L/C yang akan dibuka. Dalam hal ini bank pembuka hanya akan mendebit rekening buyer, jikalau bank telah mendapatkan dokumen yang dipersyaratkan.

Bagi mereka yang berada di bab accounting maupun keuangan, mengenal dan mengetahui dasar prosedur kerja letter of credit yakni penting, sehingga sanggup diestimasi : kapan dan bagaimana TRANSAKSI SALES (jika perusahaan bertindak selaku seller) atau PURCHASE (jika perusahaan bertindak sebagai buyer) akan berakibat terhadap POSISI KAS perusahaan. Jika rekan-rekan di accounting atau keuangan menguasai prosedur "Letter of Credit", maka itu merupakan nilai plus yang melengkapi keahlian dalam mengelola keuangan perusahaan (tinggal beberapa langkah menuju jenjang career yang lebih tinggi/financial controller). Menarik kan ?.

Sedangkan bagi mereka yang berkecimpung dalam dunia export-import, "Letter of Credit" yakni sesuatu yang wajib untuk dikuasai. Bagaimana tidak, atas proses export-import yang memakai instrument Letter Of Credit, langkah demi langkahnya harus selalu stick on (berpatokan) pada butir-butir “Term and Condition” yang tercantum di dalam Letter of Credit. Mulai dari :
(-). Packing Instruction : dimension, unit weight, quantity/volume per pack, side/front pack marking, dll.
(-). Document Required : Export License, Commercial invoice, Certificate of Inspection, Fumigation Certificate, dll.
(-). Shipping Instruction : Nominated Forwarder, Port of Departure, Notify Party, Port of Destination, Consignee Name, dll.

Penyimpangan (discrepancies) sangat kecil/sepele sekalipun terhadap aba-aba (instruction) maupun seruan (requirement) yang tercantum di dalam “Term and Condition” OTOMATIS MENGAKIBATKAN GAGALNYA REALISASI PEMBAYARAN atas sebuah transaksi yang di fasilitasi dengan Letter of Credit. Dan ini yakni tanggung jawab mereka-mereka yang berada di bab Export-Import.

Catatan Penting :
Dalam sebuah transaksi yang memakai Letter of Credit, yang menjadi penentu dasar realisasi pembayaran yakni Dokumen. Sedangkan kondisi barang/jasa yang diperjual-belikan maupun hal-hal lain yang menyangkut akad seller dengan buyer, yakni diluar tanggung jawab institusi keuangan (dalam hal ini bank), artinya : bank pembuka berhak mendebit rekening buyer dan wajib membayarkannya kepada seller melalui bank yang ditunjuk begitu dokumen diterima dalam keadaan lengkap dan sesuai dengan kondisi yang dipersayaratkan, terlepas apakah barang/jasa yang diserahkan dalam keadaan yang sesuai dengan akad antara buyer dengan seller atau tidak.


Selanjutnya…………….
Letter of Credit - Serie 2 [-baca-]
Short Description :
(-). Ada berapa macam Letter of Credit ?
(-). Siapa saja pihak-pihak yang terlibat dalam proses Letter of Credit ?
(-). Bagaimana alur proses Letter of Credit ?
(-). Apa saja isi (elemen) dari sebuah Letter of Credit ?
(-). Bagaimana karakteristik sebuah Letter of Credit ?

Letter of Credit - Serie 3 (Tips) [-baca-]
Short Description :
(-). Bagaimana menghindari discrepancies (penyimpangan) atas sebuah Letter of Credit ?

Letter of Credit - Serie 4 (Tips) [-baca-]
Short Description :
(-). Apa yang harus dilakukan jikalau terlanjur terjadi discrepancies ?
(-). Apa skenario terburuk yang mungkin terjadi atas sebuah transaksi yang memakai Letter of Credit ?.
Letter of Credit - Serie 5 (Tips) [-baca-]
Short Description :
(-). Bagaimana sebuah Letter of Credit bisa dipergunakan sebagai materi pengajuan kredit export (untuk modal kerja), dan bagaimana prosedur diskonto atas sebuah Letter of Credit ?
(-). Bagaiaman skandal kasus pembobolan bank memakai modus Letter of Credit terjadi ?



7 Cara Praktis Agar Usaha yang Dibangun Terus Bertumbuh dan Berkembang Cetar Membahana




Cara-Agar-Usaha-yang-Dibangun-Terus-Bertumbuh-dan-Berkembang-Cetar-Membahana

Ramahlah terhadap orang-orang sewaktu karier anda menanjak, karena mungkin anda akan bertemu dengan mereka sewaktu karir anda mulai menurun
Pepatah tersebut tidak sepenuhnya benar, karena saat karir kita menurun, kita akan bertemu dengan orang-orang yang lain sama sekali.
Kondisi tersebut bisa terjadi baik saat kita berkarir sebagai pekerja atau berbisnis sendiri.
Saya pernah membaca tulisan dari pakar marketing saat pertama kali merintis sebagai konsultan marketing.
Beliau menuliskan, setelah keluar dari perusahaan besar di Indonesia beliau agak kesulitan  menghubungi beberapa kenalannya saat beliau menjabat di perusahaan.
Singkat cerita, akhirnya beliau dengan mengajak anaknya menghubungi pemilik perusahaan tempat beliau bekerja.
Oleh pemilik perusahaan, beliau diminta untuk melanjutkan program-program yang dulu pernah dijalankan saat bekerja di perusahaan itu.
Dari cerita singkat itu,  kita harus menyadari bahwa saat karir kita jatuh segala sesuatunya menjadi lebih sukar. Persoalaan yang dihadapi akan berbeda.
Bila kita sebagai pengusaha, pada saat kondisi menurun, upaya mempertahankan momentum perusahaan, mengubah kecepatan, dan mengubah arahnya menjadi lebih sulit.
Baca juga: Sepenggal Kisah tentang Daya Resiliensi dan Kepedulian
Lalu bagaimana caranya agar usaha yang sudah kita bangun dapat terus bertahan, bertumbuh dan berkembang cetar membahana?

7 Cara Mudah Meningkatkan Karir Bisnis

Berikut ini ada 7 cara yang bisa dilakukan agar usaha atau karir kita mampu bertahan menghadapi perubahan yang cepat dan tidak berbentuk:

#1. Mengupayakan keluwesan

mengupayakan-keluwesan
Perubahan arus bisnis berlangsung terlalu cepat dan tidak berbentuk, sehingga sukar bagi sistem dan struktur yang ada untuk mempertahankannya.
Manajemen yang baik harus mampu menanggulangi tekanan, baik dari dalam maupun dari luar dan memanfaatkan peluang yang ada. Sehingga seringkali diperlukan keluwesan pada struktur yang ada agar dapat bertahan.
Anda harus bisa menyakinkan orang-orang yang bekerja untuk anda tentang perlunya keluwesan struktur dalam perusahaan anda.
Satu-satunya cara untuk melakukan hal itu adalah dengan perbuatan dan bukan dengan perkataan.
Para pegawai harus dapat melihat bukti nyata bahwa struktur itu tidak saja luwes, tapi juga keluwesan itu ditunjukkan bagi keuntungan dan kepentingan mereka sendiri.
Agar pegawai ikut merasakan proses keluwesan tersebut, maka libatkan pegawai dengan proses yang akan dijalankan.
Sejak proses kelahiran ide , uji coba sampai pelaksanaan.
Bila proses seperti itu dijalankan maka penerapan keluwesan akan dirasakan bersama dan bukan hanya slogan  kosong tanpa isi. 

#2. Jangan biarkan kebijakan mengekang operasi

kebijakan-mengekang-operasi
Usahakan untuk selalu merevisi dan memperbaharui kebijakan perusahaan. Meniadakan hal-hal tertentu dan menambah dengan yang lain untuk menjaga agar manajemen perusahaan tidak ketinggalan dengan perusahaan itu sendiri.
Tim inti yang merumuskan kebijakan perusahaan harus mengadakan pertemuan secara rutin, di mana di setiap pertemuan itu harus dihasilkan sebuah keputusan penting.
Sehingga semua anggota tim menjadikan pertemuan rutin tersebut sebagai agenda penting di atas yang lain.
Jika struktur perusahaan dapat menghambat momentum bisnis, maka kebijakan yang tidak mutakhir akan menghambat bisnis itu sendiri. 

#3. Mendobrak kebiasaan dan kebijaksanaan konvensional perusahaan yang tidak efektif

Mengelola perusahaan yang sudah lama berdiri seringkali dibutuhkan sikap aktif dan agresif mendobrak kebiasaan dan kebijaksanaan konvensional perusahaan.
Terlalu mudah untuk mengatakan bahwa :” sebelumnya selalu dikerjakan dengan cara ini” atau “Beginilah selalu cara kami melakukannya”.
Pada hakekatnya perusahaan bersifat konservatif. Orang menentang perubahan, terutama perubahan dalam lingkungan kerja.
Mereka ingin agar lima tahun mendatang perusahaan tempat mereka sekarang bekerja tetap seperti sekarang.
Oleh karena itu, keberanian mendobrak selamanya merupakan perjuangan yang akan melawan arus (anti mainstream).
Ironisna ialah bahwa perusahaan yang sudah lama berdiri justeru memperoleh momentumnya dengan melawan arus momentum yang ada.
Pernahkah kita memperhatikan bahwa perusahaan yang dikelola paling baik, umumnya cenderung dikelola secara tidak konvensional?
Setiap kali muncul artikel tentang perusahaan seperti itu, keberhasilan mereka seringkali dikaitkan dengan perbuatan ‘tidak biasa’  dan bukan mengikuti pendahulunya.
Beberapa kebijakan tidak biasa yang mereka lakukan seperti, mendorong kemandirian karyawan dan divisinya, dan bukan mengekangnya, mendobrak kebijaksanaan konvensional dan bukan dengan mengabadikannya.
Jangan hanya mencari kesempatan untuk dapat melakukan yang tidak disangka-sangka. Ciptakan kesempatan itu! Kejarlah kesempatan itu secara agresif.
Jadikan pengelolaan sebagai sebagai sesuatu yang aktif. 

#4. Mengelola dengan keyakinan

mengelola-dengan-keyakinan
Kemampuan mendelegasikan membedakan manajer yang baik dengan yang tidak baik. Delegasi adalah proses membina orang, kemudian menyerahkan tanggungjawab tertentu.
Kedengarannya mudah, meskipun tidak sesederhana yang diperkirakan. Orang lebih suka dipandang sebagai yang berwenang daripada mendukung wewenang atau keahlian orang-orang yang bekerja untuknya.
Mendelegasikan tanggung jawab juga sukar. Sekali lagi ini berkaitan dengan ego.
Pada umumnya orang merasa dapat melakukan sesuatu lebih baik daripada siapa pun juga atau merasa takut bahwa jika mereka menyerahkan suatu tugas atau tanggung jawab, mereka akan dipandang kurang penting bagi perusahaan.
Untuk menjadi seorang manajer yang baik, diperlukan kepercayaan diri yang besar, rasa yakin terhadap orang-orang yang bekerja untuk kita dan keyakinan yang cukup atas diri sendiri untuk mangatasi masalah ego tersebut.
Pada umumnya manusia ingin melihat hasil kerjanya sendiri, ingin melihat langsung dalam pelaksanaan pekerjaan yang bukan saja mewujudkan hasil-hasil kongkret, tapi tugas-tugas itu sendiri harus juga kongkret.
Manajer harus mencari sumber kepuasan kerja yang lain. Mereka harus mampu mengembangkan dan memberikan tanggungjawab kepada orang-orangnya.
Mereka berusaha memperoleh kepuasan ego dalam melatih, membimbing, dan mengendalikan orang-orangnya. 

#5. Mendelegasikan apa yang dapat didelegasikan bukan APA YANG INGIN didelegasikan

mendelegasikan-apa-yang-dapat-didelegasikan
Orang seringkali mendelegasikan atau tidak mendelegasikan karena alasan yang kurang tepat.
Mereka mengerjakan suatu tugas karena mereka senang melakukannya, atau ingin melakukannya, atau takut tidak melakukannya.
Dan mereka akan menyerahkan tugas lain yang tidak mereka senangi atau karena mereka beralasan bahwa tugas itu bukanlah cara penggunaan waktu yang paling baik.
Segala macam pertimbangan bisnis harus dipikirkan pada saat menentukan apa yang harus didelegasikan dan apa yang tidak. 

#6. Gunakan falsafah manajemen yang luwes

Apabila unsur manusia seperti ego dan kepribadian ikut terlibat, maka beberapa falsafah manajemen tidak akan berjalan secara letter lijk.
Falsafah manajemen yang berhasil baik adalah falsafah manajemen yang mengakui hal-hal yang tidak diakui oleh falsafah manajemen lainnya yaitu : bersikap luwes dan berusaha agar tetap konsisten 🙂
Misalnya saat kita menerima sesuatu sebagai hal yang tidak dapat dibantah kebenarannya, maka kita akan menemukan potongan informasi atau orang-orang yang langsung menghancurkan keyakinan kita semula.
Keluwesan tidak berarti hanya memikirkan kembali bisnis kita.
Keluwesan itu harus meliputi semua aspek manajemen, mulai dari berapa kali kita mengevaluasi kembali kebijaksanaan sampai sejauh mana kita bersedia mendengar pendapat para pegawai. 

#7. Mengelola untuk konsistensi

Kebanyakan perusahaan lebih suka tumbuh dengan laju pertumbuhan yang sehat, daripada menjadi besar dua kali lipat dalam satu tahun dan merugi di tahun berikutnya.
Selain kemampulabaan, tujuan penting lainnya yang seharusnya diupayakan perusahaan adalah konsistensi.
Bila tujuannya adalah konsistensi, prestasi dan pertumbuhan maka keluwesan adalah alatnya.
Bila ada pertanyaan, “ jika seseorang luwes, bagaimana mungkin dia bisa konsisten sekaligus?
Keluwesan dan konsistensi tidak saja setara, tapi manajemen yang luwes dan tanggap sebenarnya dapat juga menjamin konsistensi.
Demikian pembahasan mengenal 7 cara mudah meningkatkan karis bisnsi yang sebaiknya kita lakukan saat mengelola sebuah usaha yang sudah berjalan lama.
Tujuannya agar usaha itu bisa terus bertahan menghadapi tantangan dan perubahan.
Dan bagi anda yang ingin memulai usaha sendiri, perhatikan saran berikut ini: 5 Langkah Sederhana dan Praktis Memulai Bisnis Sendiri dan Sudahkah Anda Memperhatikan 5 Hal ini sebelum Membangun Bisnis Startup?
Bagaimana menurut anda?Bila ada yang ingin ditambahkan, silahkan.

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.