Bagaimana Cara Mencatat Jurnal Penerimaan dan Pengeluaran Kas?
Penerimaan dan pengeluaran kas selalu terjadi dalam bisnis.
Lalu bagaimana cara mengelola kas yang baik sehingga akan mendukung perkembangan sebuah bisnis?
Untuk mempermudah pemahaman terhadap konsep Penerimaan dan Pengeluaran Kas, pembahasan akan dibagi dalam 2 bagian, yaitu :1) Penerimaan Kas dan 2) Pengeluaran Kas.
( Baca juga : Bagaimana Cara Rekonsiliasi Kas Kecil? )
Yuk ditelisik pembahasannya satu per satu.
01. Pengertian Penerimaan Kas dan Cara Membuat Jurnal Pencatatannya
Penerimaan kas (Cash Receipt) adalah transaksi penerimaan uang secara tunai yang menyebabkan bertambahnya aset perusahaan berupa KAS.
Yang termasuk dalam transaksi penerimaan kas antara lain : penjualan tunai, penerimaan pembayaran piutang, penjualan aktiva, penerimaan sewa dan penerimaan lain-lain.
Transaksi penerimaan kas dicatat dalam jurnal penerimaan kas (Receipt Cash Journal).
Perhatikan contoh transaksi dan analisis pencatatan jurnal penerimaan kas berikut ini:
Contoh jurnal penerimaan kas perusahaan dagang #1 : Penjualan tunai
Pada tanggal 10/07/2017 PT Manajemen Keuangan Network menjual tunai 2 unit komputer bekas seharga Rp. 2.250.000 dengan nomor faktur FP-001.
Jurnal dari transaksi penjualan tunai tersebut adalah :
Pada tanggal 11/07/2017 PT Manajemen Keuangan Network menerima pembayaran piutang dari Toko ABC sebesar Rp. 400.000, atas pelayanan service jaringan pada bulan Juni 2017.
Jurnal dari transaksi peneriman piutang adalah :
(Debit) Kas Rp. 400.000 (Kredit) Piutang Dagang Rp. 400.000
Contoh #3 : Penerimaan Sewa
Pada tanggal 15/07/2017 PT Manajemen Keuangan Network menerima pembayaran sewa dari Pak Joko sebesar Rp. 1. 750.000 atas ruang usaha untuk bulan Juli 2017.
Jurnal dari transaksi peneriman sewa tersebut adalah :
(Debit) Kas Rp. 1.750.000 (Kredit) Pendapatan Sewa Rp. 1.750.000
Contoh #4 : Penerimaan Lain-lain
Pada tanggal 20/07/2017 PT Manajemen Keuangan Network menerima uang Rp 750.000 dari Sekolah Tinggi XYZ sebesar Rp 750.000 atas kontribusinya sebagai narasumber workshop jaringan.
Jurnal dari transaksi peneriman uang tersebut adalah :
(Debit) Kas Rp. 750.000 (Kredit) Pendapatan lain-lain Rp. 750.000
02. Pengertian Pengeluaran Kas dan Cara Pencatatan Jurnalnya
Pengeluaran kas (Cash Payment) adalah transaksi pengeluaran uang secara tunai yang menyebabkan berkurangnya aset perusahaan berupa kas, bank atau setara kas lainnya.
Transaksi pengeluaran kas meliputi pembayaran utang, pembelian barang dagangan, pembelian bahan baku, pembelian bahan pembantu, pembelian perlengkapan kantor, pembentukan dana kas kecil.
Transaksi pengeluaran kas dicatat dalam jurnal pengeluaran kas (Payment Cash Journal).
Perhatikan contoh transaksi pengeluaran kas dan pencatatan jurnal berikut ini:
Contoh jurnal pembelian dan pengeluaran kas #1 : Pembelian Perlengkapan kantor
Pada tanggal 05/07/2017 PT MCC membeli meja kantor senilai Rp. 850.000 dibayar secara tunai, dengan nomor faktur pembelian FB-001.
Jurnal dari pengeluaran kas tersebut adalah :
(Debit) Perlengkapan Kantor Rp. 850.000 (Kredit) Kas Rp. 850.000
Contoh soal jurnal pengeluaran kas #2 : Pembayaran utang
Pada tanggal 06/07/2017 PT MCC membayar utang kepada Toko Jaya Berkah secara tunai sebesar Rp. 1.500.000 dengan nomor kwitansi K-001.
Jurnal dari pembayaran utang tersebut adalah :
(Debit) Hutang Dagang Rp.1.500.000 (Kredit) Kas Rp. 1.500.000
Contoh jurnal pengeluaran kas kecil #3 : Pembayaran biaya-biaya
Pada tanggal 20/07/2017 PT MCC membayar listrik secara tunai sebesar Rp. 750.000.
Jurnal dari pembayaran biaya tersebut adalah :
(Debit) Biaya Listrik Rp.750.000 (Kredit) Kas Rp. 750.000
Demikian pembahasan sederhana mengenai penerimaan dan pengeluaran kas.
( Baca juga : Begini Cara Mudah Menguji Akurasi Transaksi-transaksi Kas )
Kas Kecil atau Petty Cash merupakan dana kas yang dibentuk dan disediakan oleh perusahaan untuk pengeluaran-pengeluaran rutin perusahaan dalam jumlah kecil
Salah satu tujuan di adakannya kas kecil adalah untuk meningkatkan efektifitas penggunaan dana.
Pengeluaran kas kecil yang bersifat rutin dan jumlahnya kecil, maka dibutuhkan pencatatan terhadap setiap transaksi yang terjadi.
Pencatatan tersebut bisa dilakukan dalam sebuah catatan khusus.
Ada 5 karakteristik yang dimiliki Kas Kecil, yaitu :
Dana Kas Kecil ditetapkan dan dibatasi dalam jumlah tertentu sesuai dengan kebutuhan operasional perusahaan.
Kasir atau staf keuangan menjadi pengelola, penanggungjawab dan penyimpan Kas Kecil.
Digunakan untuk membayar transaksi-transaksi rutin setiap hari.
Setiap pengeluaran kas kecil harus disertai dengan bukti pengeluaran kas kecil yang telah disetujui oleh pihak yang berwenang.
Pengisian kembali kas kecil dilakukan secara berkala dalam jumlah tertentu sesuai dengan SOP Akuntansi Keuangan dan Accounting Tools yang Powerful
#1. Jurnal Kas Kecil
Jurnal pencatatan kas kecil dengan menggunakan sistem dana tetap hanya dilakukan pada saat PEMBENTUKAN AWAL, PENGISIAN KEMBALI dan PENYESUAIAN.
Berikut ini contoh jurnal transaksi kas kecil :
Pembentukan dana kas kecil
(Debet) Kas Kecil Rp. 5.000.000 (Kredit) Kas Rp. 5.000.000
Pengisian kembali kas kecil
(Debet) Perlengkapan Kantor Rp. 250.000 (Debet) Biaya Listrik Rp. 500.000 (Debet) Biaya Transport Rp. 250.000 (Debet) Biaya lain-lain Rp. 75.000 (Kredit) Kas Rp. 1.075.000
#2. Rekonsiliasi Kas Kecil
Rekonsiliasi kas kecil adalah penyesuaian saldo fisik kas kecil dengan catatan pada buku kas kecil.
Kenapa perlu dilakukan rekonsiliasi kas kecil? Berikut ini ada 4 alasan, yaitu :
Sifat kas kecil sangat likuid yang digunakan untuk pengeluaran-pengeluaran yang jumlahnya kecil dan rutin.
Ada beberapa transaksi yang terkadang tidak disertai dengan bukti transaksi yang menyakinkan. Misalnya transaksi parkir tidak resmi di pinggir jalan.
Kas kecil digunakan untuk operasional perusahaan setiap hari dengan frekuensi yang tinggi, sehingga ada kemungkinan yang tinggi terjadinya selisih antara fisik dengan catatan.
Seringkali terdapat transaksi kas kecil yang menimbulkan kekurangan atau kelebihan pembayaran.
Bila kejadian-kejadian seperti itu tidak segera direkonsiliasi akan menyebabkan selisih yang menumpuk semakin banyak dan sulit ditelusuri.
Rekonsiliasi kas kecil bisa dilakukan setiap hari, minggu atau bulan tergantung kebijakan dan volume transaksi yang terjadi.
Bagi pengelola kas kecil, walaupun tidak perusahaan mungkin tidak memberikan aturan untuk rekonsiliasi setiap hari, sebaiknya selalu memeriksa fisik dan catatan di akhir jam kerja atau di awal jam kerja.
Tujuannya agar meringankan pekerjaan dan tidak terjadi selisih antara fisik dan catatan, sehingga di akhir bulan tidak harus memeriksa semua transaksi, dan tinggal menandatangi berita acara rekonsiliasi.
Bila hasil pekerjaan anda baik, selain meningkatkan performa anda sebagai pegawai juga akan memberikan kontribusi yang baik untuk perusahaan.
Yakinlah bahwa hadiah dari kebaikan adalah kebaikan dan kebaikan.
Selanjutnya ada 7 hal yang perlu dilakukan oleh pengelola kas kecil untuk menghindari atau mengurangi resiko terjadi selisih kas kecil, yaitu :
Setelah terjadi transaksi kas kecil, pastikan ada bukti transaksinya dan valid.
Bila transaksi tidak disertai bukti transaksinya, buat bukti pengeluaran kas kecil dan minta tanda tangan dari karyawan dan sudah diperiksa serta disetujui oleh atasan.
Periksa jumlah yang tertera dalam bukti transaksi, lakukan penghitungan ulang pada setiap item barang/transaksi. Selanjutnya hitung jumlah uang yang telah diserahkan dengan sisa pengembalian atau menambah jika ada kekurangan.
Bila terdapat kesalahan, selisih atau bukti transaksi hilang, jangan pernah mengubah nilai yang ada di dalam bukti transaksi atau membuat bukti transaksi palsu.
Periksa kembali nilai yang tercantum pada bukti transaksi kemudian bandingkan dengan catatan pada buku kas kecil.
Hitung jumlah bukti transaksi kemudian bandingkan dengan catatan pada kas kecil.
Hitung jumlah fisik uang kas kecil kemudian cocokkan dengan saldo yang tertera pada buku kas kecil.
Jika setelah dilakukan pemeriksaan masih terjadi SELISIH, segera laporkan ke atasan agar segera dapat dilakukan penyesuaian atau adjusment.
Demikian artikel yang membahas kas kecil, dari pengertian, pencatatan jurnal akuntansi dan rekonsiliasinya.
8 Aktiva Tetap Tidak Berwujud Yang Sebaiknya Diketahui Orang Akuntansi Keuangan dan Pengusaha
Aktiva tetap tidak berwujud adalah aktiva yang umurnya lebih dari satu tahun dan tidak mempunyai bentuk fisik.
Aktiva tetap tidak berwujud merupakan hak-hak yang dimiliki yang dapat digunakan lebih dari satu tahun.
Aktiva seperti ini mempunyai nilai karena diharapkan dapat memberikan sumbangan pada laba perusahaan.
Penilaian Aktiva Tetap Tidak Berwujud
Aktiva tetap tidak berwujud yang dimiliki dicatat dalam rekening sebesar harga perolehannya.
Harga perolehan ini tergantung pada CARA PEROLEHAN aktiva tetap tidak berwujud tersebut.
Jika diperoleh dari pembelian maka harga perolehannya sebesar jumlah uang yang dikeluarkan dalam pembeliannya.
Jika aktiva tetap tidak berwujud diperoleh dari penukaran dengan aktiva maka harga perolehannya sebesar harga pasar aktiva yang dipakai sebagai penukar.
Bila aktiva tetap tidak berwujud diperoleh tanpa ada pengeluaran maka tidak diperbolehkan untuk mencantumkan aktiva tetap tidak berwujud dalam neraca.
Apakah harga perolehan aktiva tetap tidak berwujud diamortisasi?
Bisa iya, bisa tidak, tergantung pada umur aktiva tersebut.
Bila aktiva tetap tidak berwujud itu umurnya terbatas maka harga perolehannya diamortisasi selama umurnya.
Tapi jika aktiva tetap tidak berwujud itu uurnya tidak terbatas maka harga perolehannya tetap dicantumkan dalam neraca.
Harga perolehan aktiva tetap tidak berwujud yang umurnya tidak terbatas kadang-kadang dihapuskan dari neraca.
Penghapusan tersebut bisa dilakukan sekaligus atau dalam beberapa tahun seperti halnya amortisasi.
Penghapusan ini dilakukan bila jelas diketahui aktiva tetap berwujud tadi sudah tidak ada gunanya lagi atau hanya akan berguna dalam beberapa tahun lagi.
Amortisasi aktiva tetap tidak berwujud dilakukan dengan mendebit rekening biaya dan mengkredit rekening aktiva yang bersangkutan atau rekening akumulasi amortisasi.
Jenis-Jenis Aktiva Tidak Berwujud dan Pencatatan Akuntansinya
Berikut ini 8 aktiva tetap tidak berwujud yang sebaiknya diketahui orang akuntansi keuangan dan para pemilik usaha :
#1. Patent
Patent adalah suatu hak yang diberikan kepada pihak yang menemukan sesuatu hal baru untuk membuat, menjual atau mengawasi penemuanya selama jangka waktu tertentu.
Kalau patent itu tidak dapat diperpanjang maka penemuan tadi akan diperbarui atau diubah sehingga akan diperoleh patent baru.
Patent bisa digunakan sendiri oleh penemunya atau diserahkan kepada pihak lain dengan perjanjian – perjanjian tertentu.
Bila patent itu diperoleh karena pengembangan maka yang termasuk dalam harga perolehannya adalah biaya-biaya pendaftaran, pembuatan model dan gambar, dan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk membuat percobaan dan pengembangan.
Apabila terjadi pelanggaran terhadap hak patent maka biaya-biaya yang dikeluarkan untuk menjaga hak ini akan dikapitalisir.
Patent akan diamortisasi selama umur kegunaannya selama periode tertentu. Umur patent bisa dihitung atas dasar unit produk yang akan dibuat.
Amortisasi patent dicatat dengan jurnal sebagai berikut :
Amortisasi Patent xx Patent ( atau Akumulasi Amortisasi Patent) xx
Amortisasi patent akan dikelompokkan dalam biaya produksi. Bila patent itu digunakan dalam proses produksi maka amortisasi patent akan dikelompokkan dalam biaya produksi.
Namun bila patent itu digunakan untuk kegiatan yang berhubungan dengan penjualan maka amortisasi patent akan dibebankan sebagai biaya penjualan.
#2. Hak Cipta (Copy Right)
Hak cipta adalah hak yang diberikan kepada pengarang atau artis untuk menerbitkan, menjual, atau mengawasi hasil karyanya yang berupa musik atau pekerjaan pementasan.
Hak ini diberikan untuk jangka waktu tertentu dan bisa melakukan perpanjangan waktu lagi.
Sebagaimana hak patent maka hak cipta bisa dijual atau diberikan kepada pihak lain dengan perjanjian tertentu.
Semua biaya yang berhubungan dengan penyusunan karya cipta termasuk biaya-biaya pendaftaran dan memperoleh hak di masukkan dalam harga perolehan hak cipta.
Jika hak cipta itu dibeli maka harga perolehannya adalah jumlah uang yang dibayarkan.
Karena pertimbangan konservatif harga perolehan hak cipta dihapuskan sekaligus dan dibebankan pada penghasilan yang pertama kali dari sumber ini.
#3. Merk Dagang
Merk dagang bisa didaftarkan sehingga akan dilindungi oleh undang-undang. Hak untuk menggunakan suatu merk dagang adalah tidak terbatas.
Merk dagang bisa juga diperoleh dari suatu pembelian. Keadaan ini harga perolehan yang dicatat adalah harga beli dan semua biaya pembelian.
Bila merk dagang ini dibuat sendiri maka harga perolehannya adalah biaya-biaya untuk merencanakan dan mendaftarkan.
Karena umurnya tidak terbatas maka tidak dilakukan amortisasi, tapi terkadang karena anggapan akan adanya perubahan-perubahan di masa yang akan datang, misalnya perubahan permintaan maka harga perolehan merk dagang akan dihapuskan dalam periode yang pendek.
#4. Franchises
Franchises adalah hak yang diberikan oleh suatu pihak (disebut franchisor) kepada pihak lain untuk menggunakan fasilitas yang dimiliki oleh franchisor.
Pihak yang memberikan hak (franchisor) bisa badan pemerintah atau perusahaan swasta.
Ada 2 jenis kelompok franchises yaitu :
Sisem franchise untuk produk dan jasa
Sistem franchise lisensi untuk merk dagang.
#5. Leasehold
Leasehold adalah hak dari penyewa untuk menggunakan aktiva aktiva tetap dalam suatu perjanjajian sewa menyewa.
Bila sewa dibayar setiap periode maka biaya sewa tadi dibebankan dalam periode terjadinya.
Jika sewa dibayar dimuka untuk beberapa tahun maka ada dua perlakuan yaitu sebagai berikut :
Diperlakukan sebagai sewa dibayar dimuka yang termasuk dalam aktiva lancar. Perlakuan seperti ini bila biaya sewa tadi dibayar untuk beberapa periode yang relatif tidak lama.
Diperlakukan sebagai aktiva tetap tidak berwujud jika sewa yang dibayar dimuka itu untuk beberapa periode yang relatif lama.
Biaya sewa yang dibayar dimuka yang dikategorikan sebagai aktiva lancar atau aktiva tetap tidak berwujud harus dialokasikan sebagai beban periodik selama jangka waktu sewa.
Bila jangka waktu sewa itu panjang dan sewa dibayar dimuka dicatat dalam kelompok aktiva tetap tidak berwujud.
Amortisasi setiap periodenya dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu :
Garis lurus
Nilai tunai
Rekening yang digunakan untuk mencatat uang sewa yang dibayar di muka dan dikelompokkan dalam aktiva tetap tidak berwujud adalah Leasehold.
Amortisasi setiap periode dicatat dalam debit rekening biaya sewa dan kreditnya rekening Leasehold.
Biaya Sewa xx Leasehold xx
Selama jangka waktu sewa jika oleh penyewa dilakukan perbaikan atau penambahan terhadap aktiva yang disewanya, biaya perbaikan ini menjadi beban penyewa.
Pada saat jangka waktu sewa berakhir, perbaikan tadi menjadi milik pemilik aktiva.
Jadi penyewa hanya dapat memanfaatkan perbaikan tadi selama jangka waktu sewa.
Biaya perbaikan yang dikeluarkan oleh penyewa dicatat dalam rekening Perbaikan Aktiva Yang Disewa. Rekening masuk dalam kelompok aktiva tetap tidak berwujud.
Biaya yang dikeluarkan untuk perbaikan aktiva yang disewa diamortisasi selama jangka waktu sewa atau umur perbaikan tadi pilih yang lebih pendek.
Walaupun perbaikan yang dilakukan penyewa akan menaikkan nilai aktiva pemilik akan mencatat kenaikan nilai aktiva jika jangka waktu sewa sudah selesai.
Pada waktu tersebut jika perbaikan itu masih bernilai akan dicatat oleh pemilik.
Namun terkadang perbaikan yang dilakukan penyewa sudah habis umurnya pada saat jangka waktu sewa itu selesai, sehingga pemilik tidak memperoleh manfaat dan tidak perlu menaikkan nilai aktivanya.
#6. Goodwill
Goodwill adalah semua kelebihan yang terdapat dalam suatu usaha seperti letak perusahaan yang baik, nama yang terkenal dan pimpinan yang ahli.
Secara akuntansi, goodwill definisikan sebagai kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba di atas keadaan normal yang diakibatkan oleh adanya faktor-faktor yang disebutkan dalam paragraf di atas.
Laba di atas keadaan normal adalah suatu tingkat pendapatan dari investasi yang melebihi jumlah yang akan dapat menarik investor dalam bidang usaha tersebut.
Goodwill dicatat dalam pembukuan bila timbul dari :
Pembelian
Transaksi-transaksi perusahaan seperti merger, reorganisasi, perubahan bentuk perusahaan, pembelian sebagian perusahaan atau perubahan pemilikan dalam firma.
Dalam pembelian suatu perusahaan, pendapatan perusahaan di masa lalu dipakai sebagai dasar untuk menaksir pendapatan-pendapatan yang akan datang.
Jadi taksiran laba yang akan datang ini yang akan dibeli dan dipakai untuk menentukan besarnya goodwill yang akan dibayar .
Sebelum menghitung goodwill harus ditentukan terlebih dahulu nilai aktiva yang ada (selain goodwill).
Dasar yang digunakan biasanya adalah harga pasar atau jumlah yang akan dapat direalisasi dari aktiva tersebut.
Perbedaan antara jumlah uang yang dibayarkan dengan nilai bersih aktiva merupakan jumlah goodwill.
Besarnya jumlah goodwill tergantung pada perundingan harga tapi pembeli bisa memakai beberapa metode untuk menentukan besarnya goodwill.
Metode-metode yang dapat dipakai untuk menghitung goodwill akan diuraikan berikut ini :
Sebagai ilustrasi penggunaan metode perhitungan goodwill dipakai contoh perusahaan PT Hebat Jaya Makmur sebagai berikut :
Laba bersih (tidak termasuk elemen-elemen luar biasa) :
Pendapatan bersih rata-rata per tahun Rp. 25.500.000 : 5 = Rp. 5.100.000.
Pendapatan tiap tahun yan akan datang ditaksir sebesar = Rp 5.000.000
Pada tanggal 1 Januari 2016 aktiva (tanpa goodwill) dinilai sebesar Rp. 45.000.000, utang sebesar Rp. 5.000.000
Cara #1. Kapitalisasi Pendapatan Bersih Rata-rata
Dalam cara ini jumlah yang akan dibayarkan untuk perusahaan yang dibeli dihitung dengan mengkapitalisasi taksiran pendapatan yang akan datang dengan tarif.
Tarif ini menunjukkan hasil yang diharapkan dan investasi tersebut.
Selisih jumlah yang akan dibayarkan dengan nilai bersih aktiva adalah jumlah yang akan dicatat sebagai goodwill.
Misalnya, hasil dari investasi diharapkan sebesar 10% maka jumlah yang akan dibayar dihitung sebagai berikut :
Jumlah yang dibayarkan :
Cara #2. Kapitalisasi Kelebihan Pendapatan Rata-rata
Dalam cara ini perhitungan goodwill didasarkan pada pendapatan bersih rata-rata dan nilai aktiva yang akan dibeli.
Misalnya dari contoh di atas, hasil yang diharapkan dari investasi tersebut sebesar 10% dan kelebihan pendapatan akan dikapitalisir dengan tarif 20%.
Kelebihan pendapatan dihitung sebagai berikut :
Terkadang pembayaran terhadap kelebihan pendapatan dinyatakan dalam bentuk waktu.
Jadi kapitalisasi kelebihan pendapatan dengan tarif 20% adalah sama dengan pembayaran kelebihan pendapatan selama 5 tahun (100% : 20% = 5).
Bila perusahaan dibeli tanpa perhitungan goodwill tersendiri maka aktiva yang dibeli harus dinilai dan selisih dengan jumlah yang dibayarkan dicatat sebagai goodwill.
Bila perusahaan ditukar dengan saham maka jika ada selisih antara nilai nominal saham dengan nilai aktiva (termasuk goodwill) dicatat sebagai Agio/Disagio Saham.
Misalnya :
Aktiva nilainya = Rp. 40.000.000
Goodwill = Rp. 5.000.000
Ditukar dengan 40.000 lembar saham dengan nominal Rp. 1.000.000
Jurnal yang dibuat oleh perusahaan yang mengeluarkan saham untuk mencatat transaksi di atas adalah sebagai berikut :
Baca juga : Inilah Bentuk Pembagian Dividen yang Sebaiknya Diketahui sebelum Anda Membeli Saham.
Goodwill yang diperkirakan umurnya tidak terbatas akan dicatat dengan dasar harga perolehannya.
Tapi bila keadaan menunjukkan bahwa kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh perusahaan sudah berkurang dan kelebihan-kelebihan ini sebelumnya dicatat sebagai goodwill maka diadakan penyesuaian terhadap goodwill.
Pengurangan ini akan dibebankan sebagai elemen-elemen luar biasa.
Terkadang pengurangan ini akan dibebankan sebagai biaya bila dianggap ada hubungannya dengan penghasilan periode tersebut.
Jika goodwill umurnya terbatas maka dilakukan amortisasi setiap periode.
#7. Beban Yang Ditangguhkan
Beban yang ditangguhkan juga merupakan aktiva tetap tidak berwujud.
Bedanya dengan aktiva tetap tidak berwujud yang telah disebutkan di atas adalah bahwa aktiva tidak berwujud itu mempunyai nilai karena merupakan hak yang diharapkan dapat membantu mendapatkan laba.
Sedangkan beban yang ditangguhkan itu mempunyai nilai karena merupakan pembayaran di muka untuk beberapa periode yang relatif lama.
Karena pembayaran biaya di muka ini dilakukan untuk beberapa periode maka setiap periode dilakukan amortisasi.
Yang termasuk dalam beban yang ditangguhkan adalah biaya pendirian perusahaan.
Biaya-biaya yang terjadi dalam mendirikan perusahaan seperti izin, pajak biaya cetak saham, dan formulir dikapitalisasi dalam rekening Biaya Pendirian.
Ada beberapa pendapat yang berhubungan dengan biaya pendirian, yaitu sebagai berikut :
Karena biaya pendirian itu memberikan manfaat selama perusahaan berdiri maka biaya pendirian tidak diamortisir dan akan nampak dalam neraca selama perusahaan itu masih ada.
Biaya pendirian ini tidak memberikan manfaat langsung kepada operasi perusahaan oleh karena itu biaya pendirian akan diamortisir.Jangka waktu amortisasi tidak tentu tapi tergantung pada kebijaksanaan perusahaan. Terkadang tidak diamortisir, tapi dihapuskan sekaligus dalam tahun pertama.
#8. Biaya Penelitian dan Pengembangan
Di perusahaan-perusahaan besar ada divisi yang khusus melakukan penelitian dan percobaan untuk memperbaiki dan mengembangkan proses produksi maupun produknya.
Biaya penelitian dan pengembangan dapat dibebankan sebagai biaya dalam periode terjadinya atau dikapitalisir dan dikelompokkan dalam aktiva tidak berwujud.
Pemilihan salah satu cara ini didasarkan pada kemungkinan sukses tidaknya penelitian atau pengembangan tersebut.
Demikian pembahasan 8 aktiva tetap tidak berwujud lengkap dengan contoh dan cara pencatatannya.